Suku Eipo adalah kelompok etnisMek yang mendiami lembah di sekitar sungai Eipo (Eipomek, mek berarti "air/sungai") di Distrik Eipumek, Kabupaten Pegunungan Bintang. Mereka menyebut diri mereka nun eipenang, artinya "kita, orang (sungai) Eipo". Wilayah suku Eipo diapit oleh suku serumpun Mek lainnya seperti suku Mek Nalca di sebelah barat, suku Ketengban di sebelah timur dan utara, dan suku Una di sebelah selatan.[1]
Sejarah
Irenäus Eibl-Eibesfeldt dengan suku Eipo, 1978
Seorang pembuat film dokumenter asal Prancis bernama Pierre Dominique Gaisseau[en] bersama dengan tim ekspedisinya bertemu dengan suku Eipo sekitar tahun 1959 atau 1960. Mereka adalah orang asing pertama yang bertemu dengan suku Eipo dan mengabadikan kunjungan tersebut ke dalam bentuk film dokumenter yang berjudul The Sky Above, the Mud Below[en].[2]
Tim dari TNI bersama dengan Pierre Dominique Gaisseau mengadakan survei ke wilayah suku Eipo dari bulan Oktober hingga Desember 1969. Diterjunkan ke Lembah X, mereka membangun tenda dan bertemu dengan suku Eipo.[3] Mereka diterima dengan baik oleh penduduk lokal, saat mereka tinggal selama tiga minggu selagi mencatat informasi etnologi dasar. Penelitian tersebut dilanjutkan dengan ekspedisi Mensch, Kultur und Umwelt im zentralen Bergland von Irian Jaya di bulan Juli 1974, oleh tim peneliti dari Jerman yang bekerjasama dengan tim peneliti dari LIPI yang dipimpin Wulf Schiefenhövel sebagai direktur lapangan. Mereka mendarat di lapangan terbang di Distrik Bime, lalu berjalan kaki ke Kampung Mungkona di selatan Distrik Eipumek. Penelitian ini berakhir pada tahun 1976.[4][5]
Wilayah suku Eipo terkena dampak dari Gempa Irian Jaya 1976 di mana banyak rumah sakral mereka dan Kampung Mungkona hancur. Seusai Gempa 1976, masyarakat suku Eipo meninggalkan ajaran asli mereka dan memilih menganut agama Kristen Protestan. Proses kristenisasi suku Eipo berlangsung selama empat tahun (1976-1980).[6][3]
Sistem kepemimpinan
Sama seperti suku Mek lainnya sistem kepemimpinan suku Eipo adalah dengan konsep pria berwibawa yang disebut dalam bahasa Eipo sisinang. Posisi ini tidak diturunkan dan hanya bisa diperoleh dari pencapaiannya. Pria yang memiliki kemampuan sebagai pemimpin perang disebut mal deyenang (artinya "dia yang berada di dasar panah") sangat dihormati, mereka biasanya menginisiaai perang dan yang akan menuntut atau membayar denda adat. Sebelum berperang pasukan suku Eipo mengadakan upacara mal ketene (artinya "berdiri dengan panah"), dimana mereka berbaris pada sebuah bukit dan menunjukan panahnya.[7]
Rumah adat
Dalam satu perkampungan suku Eipo, biasanya terdapat satu atau dua rumah laki-laki yang disebut yoek aik. Terdapat dua jenis rumah laki-laki, yoek aik merupakan rumah bagi laki-laki yang masih muda dan salen aik (rumah kecil laki-laki) dimana biasanya tempat tidur bagi para pria yang sudah tua. Rumah tersebut kecil karena tidak banyak pria yang sudah tua di dalam kampung. Biasanya rumah laki-laki adalah bangunan terbesar dalam kampung, dilarang untuk dimasuki oleh wanita dan anak laki-laki yang belum menjalani upacara inisiasi kwit. Selain itu terdapat juga rumah keluarga dib aik tempat dimana wanita dan anak-anak kecil tinggal, serta rumah perempuan kelape aik atau barye eik tempat bagi wanita yang sedang haid atau melahirkan. Bentuk rumah tradisional suku Eipo melingkar dan memiliki dua jenis atap, berbentuk kerucut seperti Honai atau beratap pelana seperti rumah Bokam Iwol. Posisi rumah lebih acak, walaupun rumah yoek aik biasanya berada di tengah, dan kelape aik terletak lebih rendah dan sedikit menjauh dari pusat perkampungan.[8]
Pakaian adat
Pakaian tradisional suku Eipo bagi pria adalah sanyum sebagai penutup alat kelamin. Umumnya berbentuk melengkung keatas sehingga seperti terlihat tegak, diikat dengan tali mengelilingi skrotum, dan pada bagian tengah hingga ujungnya diikat dengan tali kepada pinggang. Lalu pada pinggang terdapat sabuk dari rotan disebut deyatenga, yang menekan abdomen bagian bawah sehingga terlihat ideal bagi pria suku Eipo, yaitu memiliki pinggang yang kecil dan bahu yang lebar. Sedangkan pakaian adat perempuan suku Eipo adalah rok pendek yang terbuat dari rumput ilalang (bentuknya menyerupai kem miliki suku Yali, walau lebih lebat). Idealnya rok memiliki rumputnya lebat dan berbentuk bulat di depan area panggul.[7]
Tradisi
Berkabung dan pemakaman
Tradisi pemakaman suku Eipo dimulai dengan bernyanyi dan menangis bersama di rumah orang yang sudah kritis. Syair-syair yang dinanyikan menceritakan tentang karakter orang yang meninggal tersebut dan juga hubungannya dengan anggota suku lainnya dan ikatan yang tidak akan terputus selamanya.[9]
Tahap selanjutnya jenazah tersebut akan dimumikan secara alami dengan diletakan pada rumah kecil diatas batang pohon yang sudah digunduli. Atap dan dinding dibangun dengan kayu untuk menutupi jenazah dari cuaca. Sama seperti akonipuk, jenazah akan ditata dalam posisi duduk, akan tetapi berbeda dengan akonipuk jenasah tersebut tidak diasapi dan dilumuri lemak.[9]
Setelah tubuh sudah mengering, mumi tersebut akan dimasukkan ke dalam kotak papan kayu sederhana berisi jerami, di dalam rumah kebun. Pada tahap ini para kerabat bisa berkunjung dan berbicara dengan roh. Disediakannya rumah dan tempat yang nyaman ini dipercaya untuk menenangkan roh jenazah sehingga tidak mengganggu para kerabatnya dalam mimpi untuk menuntut balas dendam dan membawa malapetaka.[9]
Pada tahap terakhir setelah bertahun-tahun, rumah kebun tersebut runtuh dan lapuk, sisa tengkorak dan tulang belulang dikuburkan di dalam sebuah gua atau tempat perlindungan batu untuk tempar istirahat terakhir. Prosesi ritual ini dilakukan juga oleh kelompok Mek, Yali, dan Ok lainnya, karena menyangkut kepercayaan tentang sang nenek moyang dan pencipta suku-suku tersebut yang bernama 'Yale-enye' ("seorang yang datang dari timur"), tetapi setelah masuknya kekristenan dan larangan pemerintah Belanda sudah ditinggalkan.[9]
Makanan pokok
Makanan pokok sumber karbohidrat suku Eipo adalah keladi, ubi jalar, dan pisang. Biasanya makanan akan dipanen dan dikonsumsi pada hari itu juga, walau begitu ada beberapa makanan yang diolah untuk disimpan beberapa hari. Biji buah win (P. brosimos) dipanen dan kemudian diasap untuk disimpan beberapa minggu. Kemudian ada pula daging kuskus yang dibungkus dalam daun pisang untuk diasapi, untuk dikonsumsi bisa dimasak dengan metode bakar batu.[10] Menurut tradisi asli suku Eipo, memakan daging babi adalah pantangan dan tidak dibolehkan. Hewan babi sangat dihormati dan dianggap suci, sehingga mereka juga memberikan nama untuk semua babi dewasa. Tetapi setelah suku Eipo mulai menerima kekristenan, mereka mulai memakan daging babi.[11]
12Schiefenhövel, Wulf (2019). "The Dramatic Pace of Acculturation and the Ability of So Many Eipo to Jump From Stone Age to Computer Age in One Generation … Without Having Read Aristotle". Dalam Renn, Jürgen (ed.). Culture and Cognition Essays in Honor of Peter Damerow(PDF). Max Planck Institute for the History of Science. hlm.200. ISBN978-3-945561-33-1.; ;
12Schiefenhövel (1998). "Indoctrination Among the Eipo of the Highlands of 109 West-New Guinea". Indoctrinability, Ideology and Warfare: Evolutionary Perspectives. Oleh Eibl-Eibesfeldt, I.; Salter, Frank K. (dalam bahasa Inggris). Berghahn Books. hlm.109–131. ISBN978-1-78920-395-0.