Atap pelana[1] adalah atap yang terdiri dari dua bagian yang tepi horizontal atasnya bertemu membentuk bubungannya. Bentuk atap yang paling umum di daerah beriklim dingin atau sedang, terbuat dari kasau, rangka atap, atau purlin. Kemiringan suatu bentangan pada atap pelana bisa sangat bervariasi.
Kelebihan dan kekurangan
Atap pelana memiliki beberapa keunggulan.[2] Yaitu
Memungkinkan loteng diubah menjadi ruang tamu jika lapangannya cukup untuk setidaknya memungkinkan adanya atap. Nada yang lebih curam saja sudah cukup.
Kekurangan:
Atap pelana lebih rentan terhadap kerusakan akibat angin dibandingkan atap jurai .[4]
Referensi
↑Fritz Baumgart: DuMont’s kleines Sachlexikon der Architektur. Cologne, 1977.