ENSIKLOPEDIA
Pakaian Komering
Artikel ini memiliki bagian pembuka yang perlu ditulis ulang. Silakan membaca panduan bagian pembuka dan bantu mengembangkan artikel ini semampu Anda. (November 2025) (Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini) |
Artikel ini tidak memiliki referensi atau sumber tepercaya sehingga isinya tidak bisa dipastikan. Tolong bantu perbaiki artikel ini dengan menambahkan referensi yang layak. Tulisan tanpa sumber dapat dipertanyakan dan dihapus sewaktu-waktu. Cari sumber: "Pakaian Komering" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR |

Pakaian adat adalah busana khas suatu daerah yang mencerminkan identitas, budaya, dan nilai-nilai leluhur yang diwariskan secara turun-temurun. Pakaian ini dapat berfungsi sebagai penanda status sosial, keanggotaan dalam suatu kelompok, dan identitas dari suatu wilayah atau suku tertentu.
Suku Komering memiliki beberapa aturan dalam penggunaan pakaian adat, seperti
Pengantin laki-laki mengenakan kuluk bunga singgah di bagian kepala, dengan tebeng malu yang terbuat dari kain beludru berbentuk persegi empat digantungkan di sisi kiri kuluk untuk menutupi pandangan mata.
Kemudian pada bagian tubuh, pengantin mengenakan baju popok kancing tanpa lengan dan leher serta jubah pendek. Di bagian bawah, ia mengenakan celana angkinan dari satin kuning yang dilapisi kain songket tajung bumpak hingga menutupi bagian bawah lutut.
Leher dihiasi dengan kalung kuda laut, sementara pinggang dililit ikat pinggang pending dengan keris diselipkan di dalamnya. Pada bagian tangan, pengantin memakai gelang-gelang seperti gelang gepeng, gelang sempuru, dan gelang kano. Di jari manis, pengantin memegang saputangan wangsit, sementara pada kaki, ia mengenakan alas kaki berbahan kain songket.
Pengantin perempuan mengenakan tajuk beringin di kepala dan ikat dahi atau gandik. Tata rambutnya bergaya gelung malang, dengan rangkaian manik urai, kembang urai berupa kembang kelapa setandan, serta kembang kepala roboh. Sebagai pelengkap, pengantin perempuan juga mengenakan aksesoris sisir kecil atau suri, serta sumping di telinga.
Untuk bagian badan, pengantin perempuan mengenakan baju kurung dan kain angkinan dari kain songket lepus. Leher dihiasi kalung kebo munggah dan kalung kuda laut. Pada bahu kiri dan kanan, terdapat selempang sawit atau selempang menjangan. Pinggang dililit sabuk wol dan kemben songket, yang dilengkapi dengan pending.
Di bagian tangan, pengantin memakai gelang-gelang seperti gelang sempuru, gelang gepeng, dan gelang mata intan. Terakhir, di kaki, pengantin mengenakan sandal angkinan atau sandal songket.
Pakaian Adat

Ikhtisar
Dari keberagaman busana tradisional Suku Komering yang ada telah melahirkan pakaian adat pengantin Suku Komering. Jadi dapat dikatakan bahwa pakaian adat pengantin Suku Komering merupankan hasil dari kombinasi pakaian tradisional tujuh kepuhyangan yang ada di Tanah Komering, sekaligus sebagai lambang pemersatu seni warisan Tanah Komering Raya. Seperti yang kita ketahui Suku Komering sangat kaya akan seni warisan mulai dari keragaman pusaka, bahasa dan sastra, seni bina dan boga, termasuk diantaranya adalah keberagaman busana tradisional. Suku Komering memiliki seni busana tradisional yang sangat beragam. Akan tetapi dari seluruh keberagaman yang ada, megahnya kemilau emas seakan menjadi ruh yang menjelma dalam seni warisan busana tradisinal Suku Komering.
Sebagai alam tempat menetasnya peradaban Suku Komering, Tanah Komering Raya menjadi tempat tumbuh dan berkembangnya Pakaian Pengantin Suku Komering. Pakaian adat pengantin Suku Komering disebut dengan nama Kulibang Pilis Tungkah
Istilah-istilah
Kekayaan seni warisan busana tradisional yang ada melekat kuat dalam pakaian adat pengantin Suku Komering. Hal inilah yang menjadi latar belakang mengapa harus terlebih dahulu memahami istilah-istilah yang ada atau yang digunakan dalam busana tradisional Suku Komering.
Busana leluhur Suku Komering sebagai akar atau cikal lahirnya identitas pakaian adat pengantin masyarakat Komering telah mewarisikan istilah-istilah yang dipakai dalam pakaian adat pengantin Suku Komering. Istilah-istilah tersebut antara lain:
- PULOS TABU
Dalam Bahasa Komering pulos berarti sanggul. Sanggul khas Suku Komering bentuknya bulat sempurna, semakin ke tengah kian cembung menyerupai buah maja yang dibelah. Oleh sebab itulah, sanggul Suku Komering disebut pulos tabu. Kata tabu diartikan sebagai buah maja atau dalam Bahasa Komering disebut tabu kayu.
- KULIBANG
Dalam tradisi masyarakat Palembang kulibang dikenal dengan nama beringin. Akibat lembaran-lembaran daun dalam setiap tangkainya selalu aktif melayang layaknya dedaun yang bergoyang tertiup angin menjadi alasan Suku Komering menyebut serumpun mahkota emas tersebut dengan istilah kulibang yang berarti dedaunan yang melayang.
- PADULIMA
Istilah padulima berasal dari kata padu yang bermakna tenang atau anteng dan kata lima yang berarti angka lima. Maka kata padulima jika diartikan dengan liar akan bermakna lima kuntum bunga tenang yang disatukan dalam satu tandan. satu tandan padulima terdapat lima kuntum bunga cempaka yang tengah mekar yang terbuat dari lembaran emas suasa. Dalam Bahasa Melayu Palembang bunga padulima disebut bunga cempaka setandan atau Cempaka Telok.
- PATOM
Patom dalam Bahasa Indonesia bermakna anting yang berbentuk bulat menempel di daun telinga bagian bawah. Masyarakat Suku Jawa dan Sunda mengenal patom dengan istilah suweng. Patom yang paling mahsyur di tatar Tanah Komering antara lain patom kamughak sahang, patom jagung, dan patom mas bunga inton.
- SUBANG ATAU GIWANG
Di jazirah Tanah Komering anting-anting yang menjuntai berayun dikenal dengan nama giwang. Sedangkan subang adalah perpaduan bentuk antara patom dan giwang, ada bagian yang menyerupai patom menempel di ujung daun telinga dan ada bagiannya yang menjuntai layaknya giwang. Beragam giwang yang terkenal di masyarakat Komering antara lain giwang bulan tumanggal, Subang Bunga Bagha,, giwang pemidang, giwang bunga mastulin dan giwang bulung dayang.
- GANDIK TUNGKAH
Sebagai masyarakat yang berasal dari Negeri Sekala Beghak pada masa Tumi, Suku Komering mewarisi gandik sebagai pusaka dasar seni hias kepala. Gandik yang paling kelasik sekaligus sebagai seni warisan yang dibawa secara langsung dari tanah unggak (Sekala Beghak) adalah gandik Sekala. Sedangkan gandik yang lahir murni di atas alam Tanah Komering adalah gandik tungkah atau dikenal juga dengan istilah tali tungkah.
Suku Komering bukan hanya mengenal gandi sekala dan gandik tungkah saja sebagai pusaka hiasnya, diera Kedatuan Sriwijaya gandik hagha berkembang pesat menjadi perhiasan yang banyak dipakai oleh kaum ningrat diseluruh negeri taklukannya tidak terkecuali Tanah Komering itu sendiri.
- PILIS
Mahkota yang dikenakan di kening dengan cara diikatkan di kepala yang terbuat dari emas suasa berbentuk dasar setengah lingkaran bermotif pakis merambat pola geometri. Pilis di jazirah Tanah Komering memiliki perkembangan yang sangat pesat. Hal ini dapat terlihat dari beragamnya bentuk pilis yang ada diulayat Tanah Komering.
Hingga saat ini tercatat ada tiga jenis pilis yang masih dapat dengan mudah ditemukan di Tanah Komering. Ketiga jenis pilis tersebut antara lain pilis pijar bulan, pilis tumanggal bulan, dan pilis seroja bulan. Berdasarkan temuan dilapangan pilis seroja bulan merupakan pilis yang paling tua usiannya.
- PATING AYUN
Tusuk konde yang bagian ujungnya dihiasi oleh lempeng berbentuk dasar segitiga. Sepanjang bagian alas bagun segitiga tersebut dihiasi oleh lempengan serupa. Namun, dalam ukuran yang lebil kecil sehingga membentuk tirai logam yang menjuntai berayun. Pating ayun terbagi menjadi dua jenis yaitu pating ayun mastulin dan pating ayun ghambak. Pating ayun mastulin adalah pating ayun yang terbuat dari logam emas ataupun suasa, sedangkan pating ayun ghambak adalah pating ayun yang terbuat dari kain atau benang wol dan manik-manik yang dikombinasikan dalam susunan tertntu. Pating ghambak yang paling terkenal berasal dari Suku Komering Bengkulah.
- BUNGA JURAI
Bunga jurai adalah bunga yang beraneka ragam warna dan rupa yang disusun di atas helaian daun pandan atau janur kelapa atau aren. Bunga jurai digunakan untuk menutupi sanggul dan berfungsi untuk memberikan nuansa segar diareal sanggul. Dalam Bahasa Palembang bunga jurai dikenal dengan nama bunga urai pandan.
- BUNGA SUBIK
Beragam bunga wangi yang disusun diantara rambut dan sanggul baik yang dironce menjuntai mahupun yang ditata dengan pola berbaris setengah lingkaran. Bunga Subik berfungsi untuk memberikan aroma wangi pada rambut dan sanggul pengantin. Bunga yang digunakan antara lain Bunga melati, cempaka, tanjung, kenanga, mawar dan bunga kacapiring.
- KAWAI MAJU
Baju dalam Bahasa Komering disebut kawai, sedangkan pengantin mempelai putri dalam tradisi Komering dikenal dengan istilah maju. Jadi kawai maju bermakna sebagai baju pengantin mempelai putri. Baju pengantin Suku Komering pada umumnya berpola baju kurung. Ada tiga jenis baju kurung pengantin yang tergolong dalam kawai maju. Ketiga jenis kawai maju tersebut antara lain kawai sungkit, kawai angkinan dan kawai suasa atau Kalingkam/Kelingkam.
- KAWAI MANGIAN
Jika baju pengantin mempelai putri Suku Komering disebut kawai maju. Maka baju pengantin mempelai pria pada masyarakat Suku Komering disebut dengan nama kawai mangian. Beragamnya jenis kawai mangian yang ada, kian memperkaya kazanah peradaban yang terbina. Setidaknya kawai mangian secara garis besar dikelompokkan menjadi dua jenis yaitu:
- Kawai lom atau baju dalam yang berbentuk leher cekak dan ada pula yang berpola baju kurung kerah belut.
- Kawai luwah atau baju luar yang berpola baju layang dan ada juga yang berpola jubah.
- SABIDANG
Sarung dalam Bahasa Komering disebut sabidang. Pengantin Suku Komering pada umumnya memakai sabidang jenis songket, Bidak, belongsong atau limar, gibing atau kuling, tajung dan kain basahan atau lasem.
- TOKON
Tokon adalah kain sarung yang dipakai setinggi lutut jika yang memakainya bersetatus pengantin atau penguasa. Dan dipakai di atas lutut jika yang mengenakannya bersetatus bujang atau belum menikah. Sedangkan bagi kaum peghwatin atau laki-laki yang telah menikah tokon dikenakan antara lutut dan mata kaki. Tokon bagi pengantin pria (Magian) biasanya berbahan sungkit, dan bidak bergaya dagang luar. Sedangkan bagi masyarakat pada umumnya tokon yang dipakai berbahan blongsong atau limar, bumpak, gibing atau kuling, tajung dengan gaya dagang dalam. Tokon dalam Bahasa Melayu Palembang disebut rumpak, atau samping dalam bahasa Melayu Semenanjung, dan dalam Bahasa Melayu Riau dikenal dengan sebut kain dagang.
- Salapai atau Kalangkang
Dua helai selendang yang seiras, sewarna dan serupa serta satu motif yang dipakai secara bersamaan dengan pola menyilang yang dikenakan oleh maju atau pengantin mempelai putri. inilah yang dinamakan Salapai dalam Bahasa Komering Liba, atau selepai atau kelangkang dalam Bahasa Komering Lambung. Salapai atau Selepai (Kelangkang) yang dipakai oleh pengantin wanita Suku Komering diwajibkan senada dengan kain sarung yang dikenakan.
- KASUT
Kasut dalam Bahasa Komering bermakna sendala. Kasut yang dipakai oleh maju atau mempelai putri disebut kasut injing, disebut demikian dikarenakan sendal pengantin biasanya berhak tinggi. Sedangkan kasut mangian atau sendal mempelai putra berbentuk separu terbuka.
- Pondu (Lurus) atau Teghapang (Lekuk)
Pondu adalah Keris berbilah lurus, sedangkan teghapang adalah keris berbilah lekuk dalam Bahasa Komering. Seperti pada masyarakat Melayu pada umunya, Suku Komering menyelipkan pondu atau teghapang tepat di atas kepala ikat pinggang yang berbahan logam yang disebut badung atau busung tanpa disertai dengan roncean bunga melati, mawar, kenanga dan kantil.
- GOTONG
Ikat pingga yang dikenakan pengantin atau kabayan yang terbuat dari logam berwarna pijar kuning emas bermotif simbar sulur, di masyarakat Komering dikenal dengan nama gotong. Kepala ikat pinggangnya disebut Busung atau Badung. Busung Suku Komering memiliki ciri khas yaitu tolu lapik walu lekuk. Lapik yang berjumlah tiga pada busung atau badung bermakna,
- Ingok Diasal (Skala Bekhak)
- Tumbuh di Ghumpun (Wai Komering)
- Botik di Ghantau (Serata Alam)
Walu lekuk pada busung atau badung melambangkan bahwa anak keturuna Suku Komering menyebar dan berkembang pada delapan arah mata angina sebagai penyeimbang alam.
- GOLANG GHUWI
Gelang yang berbentuk duri bertahtakan taburan biji intan yang dipakai sepasang di kiri dan kanan yang diletakan di pegelangan tangan inilah yang disebut golang ghuwi atau dalam Bahasa Palembang disebut dengan gelang sempulu.
- GOLANG KANO
Sepasang gelang yang dipakai diantara siku dan gelang ghuwi atau sempulu bermotif ukiran sulur timbul inilah yang disebut golang kano. Dalam pakem tradisi Komering golang kano biasanya dipakai di atas ujung lengan baju.
- GOLANG BUGHUNG ATAU MANUK
Gelang yang berbentuk burung yang dikenakan pada lengan kiri dan kanan inilah yang dimaksud dengan golang bughung dalam Bahasa Komering Liba atau dalam Bahasa Komering Lambung disebut gelang manuk. Pakem pemakaian gelang burung dalam tradisi Komering terletak pada paruhnya yang mengarah ke bawah. Gelang bughung atau manuk merupakan seni hias Suku Komering yang memiliki kesamaan dengan kecak bahu pada masyarakat Melayu Palembang dan kelat bahu dalam budaya Suku Jawa.
- Rantai Ghumpi atau Tumanggal Bulan
Kalung bersusun tiga yang memliki bentuk satu sama lain yang serupa baik dari segi ukuran mahupun motif inilah yang disebut kalung atau rantai ghumpi atau tumanggal Bulan. Kalung ghumpi dalam Bahasa Lampung disebut kalung papan jajar sedangkan dalam Bahasa Melayu Palembang dikenal dengan nama kalung kebomunggah atau tapak jajo
- KABU PULAN
Kalung yang terbuat dari roncean manik atau monte yang diselingi oleh bola-bola kecil yang terbuat dari benang wol inilah yang disebut kabu pulan. Kata kabu merupakan gabungan dari dua kata yaitu kamughak yang berati biji dan kata buah. Sedangkan kata pulan itu sendiri bermakna rimba. Jadi kabu pulan dapat diartikan roncean biji dan buah-buahan rimba atau hutan. Kabu pulan dalam bahasa Melayu Palembang disebut bari.
- Sual, Gaghu, Sugu Punjung atau Dayang
Sual, gaghu, dan sugu punjung atau dayang merupakan lempengan yang terbuat dari kuningan berhiaskan ukir timbul bertaburkan serpihan batu pualaman berbentuk dasar segitiga yang dikenakan di atas sanggul. Secara selintas antara Sual, Gaghu, dan Sugu bentuknya hampir serupa. Akan tetapi jika didalami lebih lanjut ketiga benda tersebut memiliki perbedaan yang mencolok. Sual memiliki penusuk gigi yang banyak serupa dengan sisir tempat melekatnya lempeng suasa dengan beragam bentuk, suwal diletakkan di depan kulibang setelah padulima. Sedangkan gaghu adalah serupa dengan sual namun dibagian atasnya dihiasi dengan sedikit bunga yang menjulur dan memiliki penusuk paling banyak dua buah. Gaghu dipasang di belakang kulibang tepat di atas bunga jughai paling tengah. Sementara itu yang disebut sugu adalah serupa dengan gaghu namun memiliki penusuk yang banyak hampir seiras dengan suwal, sedangkan dibagian atasnya berupa bunga yang menjulur tinggi dan rimbun menyerupai kulibang bahkan ada kulibang yang memang sudah dilekatkan dengan sugu. Istilah punjung atau Dayang biasanya mengikuti ketiganya (Sual Punjung/Dayang, Gaghu Dayang/Punjung, dan Sugu Punjung/Dayang). Hal ini menandakan bahwa ketiga benda tersebut memiliki ukuran yang tinggi sedangkan yang rendah biasanya diikuti oleh istilah tumanggal atau seghoja bulan.
- Punjung Agung atau Cupak
Mahkota pria yang terbuat dari logam mulia yang bentuknya serupa tanjak berhiaskan motif sulur geometris yang dilengkapi oleh gandik tungkah dengan permukaan atasnya yang terbuka inilah yang dinamakan punjung agung. Dalam seni warisan Suku Lampung yang serupa dengan punjung agung adalah kepiah emas.
- Kikat Kudu
Kikat kudu merupakan tanjak Suku Komering yang menyerupai kelopak kuncup bunga seroja yang hendak merekah. Tanjak atau kikat Kudu terbuat dari berbagai kain tenun Suku Komering seperti Bidak, Songket, Limar, Gibing atau kuling, limar, tajung dan lain sebagainya.
- Kikat Kapundang (Kepudang) atau Manuk Mekhem
Kepundang merupakan salah satu jenis songkok atau dalam bahasa Komering disebut kikat yang menyerupai burung kepodang. Kapudang atau manuk mekhem biasanya terbuat dari kain songket atau bidak yang disebut selikap yang senada dengan tokon yang digunakan.
- Sigogh Tungkah atau Katupung (Ketupung)
Mahkota pria yang terbuat dari sepuhan logam mulia berbentuk selinder tertutup dibagian atasnya. Dan berhiaskan gandik tungkah dibagian depan tepi bawah disertai oleh setangkai kulibang dibagian tengahnya yang didampingi oleh dua tangkai disisi kiri dan kanan berupa bulung sekala.
Pakaian adat pengantin
Kekayaan ragam busana tradisional Suku Komering yang ada menjadi akar lahirnya pakaian adat pengantin Suku Komering. Pakaian adat pengantin Suku Komering yang dikenal dengan nama Kulibang Pilis Tungkah, terbagi atas dua jenis yaitu:
- Pesalin Kabayan Maju
Pesalin kabayan maju adalah pakaian adat pengantin Suku Komering yang dipakai oleh penganti mempelai putri. Adapun perhiasan dan busana utama yang dipakai dalam pesalin kabayan maju antara lain:
- Perhiasan yang digunakan dikepala dan leher terdiri atas kulibang, pulos tabu, gandik tungkah, pilis, giwang (Subang atau patom), bunga jurai dan subik, suwal/gaghu/Sugu, pating ayun dan rantai ghumpi atau tumanggal bulan..
- Sedangkan perhiasan yang dipakai dibagian tubuh dan tangan berupa gotong lengkap dengan busung atau badung, goalang Ghuwi golang kano, dan golang bughung atau manuk.
- Busana utama dalam pesalin kabayan maju adalah sabidang atau sinjang yang senada dengan Salapai atau Selepai (Kalangkang) yang dipakai, dan kasut injing serta kawai maju baik yang jenis sungkit mahupun angkinan. Bahkan ada juga yang menggunakan kawai maju jenis suasa atau kalingkam.
- Pesalin Kabayan Mangian
Pesalin kabayan mangian adalah pakaian adat pengantin Suku Komering yang digunakan oleh pengantin pria. Adapun milineris dan asesoris yang dipakai terdiri atas:
- Busana pokok yang meliputi kawai lom dan celana panjang yang dalam Bahasa Komering disebut sopan atau pangsi yang senada dan semotif dengan kawai lom.
- Asesoris yang dipakai hanya berupa rantai ghumpi atau tumanggal bulan, golang ghuwi, golang bughung, dan golang kano.
- Sedangkan milineris yang digunakan antara lain kasut, gotong lengkap dengan Busung atau Badung, pondu atau teghapang, tokon, kawai luwah, dan mahkota atau penutup kepala baik yang berupa songkok atau tanjak kepundang, tanjak kudu mahupun mahkota punjung agung atau cupak. Bahkan ada diantaranya yang menggunakan sigogh tungkah atau katupung.
Aturan dan pakem
Pakem yang digunakan dalam tradisi Suku Komering yang berkaitan dengan pemakaian atau tata aturan pakaian adat pengantin Suku Komering, antara lain:
- Cara penggunaan sinjang atau sarung bagi pengantin putri harus berpedoman pada prinsip kincut dan kepala sarung atau tumpal berada di belakang sejajar dengan pantat atau bokong sang pemakai. Demikian juga dengan mempelai putra dalam hal pemakaian tokon atau sabidang harus berpedoman pada prinsif tokon atau sarung yang dipakai tidak boleh tumbungan dan meletakkan tumpal atau kepala kain tepat sejajar dengan bokong. Serta aturan labuhnya kain sesuai dengan prinsif status sipengguna.
- Pemakaian salapai atau Selepai (Kalangkang) harus berpedoman pada status siapa pemakainya. Jika yang memakai kalangkang tersebut merupakan Suku Komering asli maka kelangkang yang bagian atas harus yang kanan. Berarti jika kalangkang sebelah kiri yang dipakai di atas menandakan penggunanya berasal dari suku lain yang dinikahi oleh orang yang mengamalkan tamadun Suku Komering.
Pakem yang kedua yang harus dipatuhi adalah jika upacara adat yang digunakan menggunakan rasan tuha maka kelangkang dibiarkan menyilang tampa direkatkan antara ujung yang depan dengan ujung kelangkang yang belakang. Jika kedua belah kelangkang yang kiri dan kana direkatkan antara ujung depan dan belakangnya, itu berarti upacara adat pernikahan yang dijalani hanya diambil yang intinya saja.
- Penggunaan mahkota kulibang dan bunga jurai harus mengacu pada pedoman prinsip bilangan ganjil dan disusun melebar ke kiri dan kanan menyerupai kipas.
- Kawai maju yang dipakai harus labuh melebihi bokong penggunanya. Sedangkan kawai luah yang dipakai pria harus berada sedikit di atas atau sama dengan labuhnya bokong sipenggunanya, jika baju yang dipakai berpola baju layang sedangkan yang berpola jubah maka labuhnya sejajar dengan panjangnya tokon atau kain dagang. .
- Motif kain yang digunakan harus mengacu pada siapa si pemakaianya. Jika yang memakainya keturunan darah biru maka motif yang digunakan harus yang kategori lepus bagi kain songket dan ketegori bidak cukit dan galah napuh. Akan tetapi jika yang memakainya dari kalangan menengah ke bawah maka motif kain yang dipakai adalah limar bagi kain songket dan bidak cucuk atau bidak bekilas.
Simbolisme
Busana tradisional Suku Komering bukan hanya memamerkan kemegahan semata melainkan sangat kental dengan makna yang melekat disetiap simbol asesoris dan milineris yang digunakan. Adapun makna simbol dalam pakaian adat Suku Komering antara lain:
- Makna simbol pada asesoris dan milineris yang digunakan dibagian kepala dalam busana tradisional Suku Komering yang disebut dengan istilah Kulibang Pilis Tungkah memiliki makna yang sangat kental dengan ajaran dan tuntunan dalam kehidupan. Makna yang tersirat dalam lambang tersebut antara lain:
- Mahkota punjung agung, sigogh tungkah dan songkok kepundang atau kikat kudu pada pria serta kulibang pada wanita melambangkan keagungan budaya Komering yang mengedepankan prinsip harmonisasi dalam membina keseimbangan dikehidupan.
- Gandik tungkah melambangkan jati diri orang Komering yang mengedepankan prinsip angkon Muaghi yang berazaskan pada selogan seandanan, seangkonan dan seuyunan dalam berbagai sendi kehidupan.
- Pilis melambangkan keramahan dan anggunan wanita Suku Komering yang berpijak pada tunjuk ajar lawi dan hinalok (kasih sayang dan welas asih).
- Bunga jurai melambangka sejarah Suku Komering yang berasal dari titik yang sama yakni Gunung Seminung yang disimbolkan pemidang pada bunga jurai yang menyebar melalui semua batanghari yang bermata air dari sekitar gunung seminung. Penyebaran melalui batanghari atau sungai dalam bunga jurai dilambangkan dengan untaian lembar daun pandan atau janur yang melekat pada pemidang.
Sedangkan ragam bentuk, warna, rupa dan aroma buga rampai yang melekat pada setiap lembaran daun pandan atau janur melambangkan rasa persaudaraan yang kuat yang terbina dalam masyarakat Komering dengan mengedepankan keragaman seni warisan sebagai aset kekayaan pusaka Tanah Komering. Jadi dapat disimpulkan bahwa bunga jurai mengandung filosofi bahwa Suku Komering memegang teguh prinsif menggumpal tidak tunggal, berbukuh namun utuh.
- Pulos tabu melambangkan kebulatan dalam bertindak sebagai pondasi masyarakat Suku Komering dalam menyikapi berbagai peristiwa.
- Pating ayun melambangkan dinamika masyarakat Suku Komering yang bersifat kaku namun tetap luwes dan lentur dalam upaya mempertahankan diri. Disisi lain pating ayun mengandung makna bahwa dimanapun Suku Komering berada mampu beradaptasi serta tetap unggul berunjuk gigi menunjukkan jati diri yang telah melekat sebagai warisan dari leluhur.
- Patom dan subang serta giwang melambangkan keluhuran budi bahasa serta rupa yang canti yang melekat pada gadis Komering layaknya patom/subang/giwang yang terbuat dari logam mulia bertumpang batu pualam yang nampak serasi melekat di daun telinga, sekalipun kecil namun tetap berkesan indah dan megah.
Makna yang tersirat pada asesoris dan milineris yang dikenakan pada bagian badan, leher, tangan dan kaki di pakaian adat Suku Komering antara lain sebagai berikut:
- Kalung ghumpi mengandung makna siapapun yang mengenakannya wajib menjunjung tinggi tiga unsur dalam menjaga nama baik keluarga. Ketiga unsur yang melekat kuat yang harus dipertaruhkan sekalipun nyawa sebagai ganjarannya adalah harkat derajat dan martabat keluarga. Bagi orang Komering tiga unsur tersebut merupakan harga mati yang tak boleh dibelah bagi.
Namun harus senantiasa dijaga dengan simultan dalam ukuran dan kadar yang sama oleh seba itu kalung ini bersusun tiga dan bentuk serta motifnya serupa atau kembar. Dalam Bahasa Komering Kembar disebut dengan istilah Ghumpi.
- Gotong adalah ikat pinggang yang terbuat dari logam mulia, melambangkan perekat dalam kehidupan bermula pada perut dan pakaian. Jika keduanya dikeratkan dengan sepadan pada tempat yang tepat. Akan melahirkan keterpaduan yang membawa ketenangan dalam meniti kemenangan.
- Golang kano menyiratkan arti kesetiaan yang hakiki. Kesetiaan melambangkan kebulatan niat dalam keteguhan pada suatu keputusan beriring rasa iklasan. Hal ini tergambar nyata layaknya gelang yang berbentuk bulat dan wajib dipakai sepasang ditempat yang berbeda (kiri dan kanan).
- Pondu melambang ketegasan (bilah) dan keperkasaaan (gagang) dan kebijaksanaan (warangka) pria Suku Komering dalam berpikir dan bertindak.
Makna yang melekat pada busana pokok pakaian adat Suku Komering, antara lain:
- Kain bidak dan songket berserat benang emas sebagai pakan membentuk motif yang indah melambangkan bahwa nilai kehidupan yang tertinggi adalah agama. Dalam hal ini agama dilambangkan dengan benang pakan. Sedangkan nilai-nilai budaya merupakan tunjuk ajar penyelaras kehidupan yang dilambangkan dengan serat-serat benang lungsin. Dari keterpaduan antara lungsin dan pakan inilah akan tercipta lembaran pelindung diri yang akan menjauhkan diri dari aib dan balak yang berkeliaran dalam kehidupan.
- Kalangkang atau salapai dan kawai luah melambangkan sikap sakai sambai yang dimiliki oleh orang Komering.
- Kawai lom dan sopan atau pangsing pada pria serta kawai maju dan sinjang pada pengantin mempelai putri melambangkan keserasian antara hak dan kewajiban yang harus seimbang agar terlepas dari berbagai bahaya dan bencana. Menutupi aurat adalah kewajiban bagi manusia yang tunduk pada agama dan berbudaya. Demikian juga melindungi tubuh dari berbagai masalah menjadi hak utuh manusia yang mengenal norma.
Kawai lom dan kawai maju yang pola dasarnya berbentuk baju kurung. Melambangkan bahwa masyarakat Suku Komering membiasakan akal dan hati yang dimiliki, terkurung oleh adat dan dikungkung oleh syariat agar tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang beradab.
- Tokon melambangkan identitas sang pemakai, sehingga dari cara bagai mana seseoarang mengenakan tokonpun akan nampak dan terdeteksi siapa dan apa status sang pengguna benda tersebut. Orang yang memakai tokon harus mampu bersikap sesuai dengan status yang melekat pada dirinya, yang telah ia tunjukkan pada hal layak ramai melalui tokon yang dipakainya.
- Kasut menjadi lambang betapa luhurnya ajaran budaya Komering dalam menghargai diri berdasarkan konsep dalil keadilan. Kaki patut dimuliakan dengan benar agar terhidar dari berbagai balak dan tetap dalam kondisi bersih dan suci sekalipun dipakai untuk berjalan di tempat yang kotor.
Tanjak

Dalam Bahasa Komering, istilah tanjak atau destar dikenal dengan nama Kikat.
- Reka Bentuk Kikat: Kikat dibuat dari kain segi empat berbahan dasar tenun berhiaskan motif benang emas.
- Nama Kain: Kain yang digunakan untuk membuat Kikat ini disebut Selikap.
- Fungsi: Kikat atau tanjak (Destar) menjadi penutup kepala yang bersifat wajib dipakai oleh semua kaum pria Suku Komering saat mengikuti berbagai kegiatan adat dan tradisi yang ada.
Model dan Variasi Bentuk Kikat. Ada banyak model dan variasi bentuk Kikat yang dipakai oleh kaum pria Suku Komering, seperti:
- Kikat Kepudang (Komering Liba)
- Manuk Bekhuga (Komering Lambung)
- Bidak atau Jukung
- Taduk atau Picung
- Tungkah atau Hanuang Bani dan lain-lain.
Seiring dengan perkembangan zaman yang awalnya Kikat direka saat akan dipakai, kini sudah banyak Kikat yang sudah siap pakai tanpa harus melakukan reka bentuk yang diinginkan. Walaupun yang siap pakai memiliki bentuk yang mulai bergeser dari wujud originalnya.
Wastra
- Ikat Limar

Kain Ikat Limar Komering, koleksi Yale University Art Gallery, perkiraan produksi akhir abad ke-19.
sebuah kain ikat yang penyebarannya luas (termasuk di Tanoh Komering, khususnya masyarakat Semendawai) dan memiliki citra khas. Ikat Limar Suku Komering didominasi oleh warna merah tua yang dihasilkan dari akar mengkudu, memiliki motif yang lebih abstrak dan bersifat primitif seperti motif papan Sungkai, berbeda dengan motif suku lain. Corak Ikat Limar ini berpadu indah dengan kain Bidak dan Gibing, sehingga melahirkan nuansa Suku Komering yang kental, seperti corak tajung dan galah Napuh.
- Kain Limar Cumpuk

Ragam jenis Kain Limar Cumpuk Komering. Produksi dari Desa Gunung Batu, Cempaka, Ogan Komering Ulu Timur
Wastra Ikat Suku Komering Berhulu dari kain patola hingga menjadi kain Limar beragam motif. Di Tanoh Suku Komering Limar terlahir dengan ciri khasnya yakni beragam motif abstrak. Salah satunya adalah kain Limar bermotif Cumpuk yang menggambarkan perpaduan dalam keberagaman. Seakan mengilustrasikan masyarakat Tanoh Komering yang menggumpal tidak tunggal, Berbukuh tetap utuh. Kain Limar bermotif Cumpuk yang menjadi Wastra khas Suku Komering digunakan oleh masyarakat Suku Komering dalam berbagai kegiatan adat seperti tradisi manjau, Bumiah, Budamagh, Bulan Bagha, ngughau, midang, Kughawan, dan lain-lain
- Mantok Sungkit (Songket Suku Komering)

Aktivitas Penenunan Mantok Sungkit yang masih menggunakan ATBM di Desa Gunung Batu, Cempaka, Ogan Komering Ulu Timur
Songket atau sungkit dalam Bahasa Suku Komering menjadi salah satu kebanggaan Wastra Suku Komering. Corak Sungkit Suku Komering bersumber dari flora dan berbagai benda benda alam serta pusaka atau regalia budaya. Dari sinilah ilham bermulanya reka bentuk ragam motif Songket Suku Komering. Ada motif yang diabtrakkan dan ada pula motif yang berbentuk desain alamnya seperti motif bunga molugh. Serta ada juga corak yang bersumber dari benda benda budaya seperti talam tualak. Berikut ragam motif mantok Sungkit atau tenun songket Suku Komering:
- Bunga Lupis (Kembang Lupis)
- Bunga Molugh (Kembang Melati)
- Bunga Tiak (Kembang Jatuh)
- Bunga Uyun (Mawar Berantai)
- Talam Tualak (Nampan Perak)
- Bunga Silop (Mawar Jepang)
Salikap adalah kain berbentuk segi empat yang digunakan untuk penutup kepala atau bahu kaum pria Suku Komering. Pada umumnya kain salikap digunakan sebagai penutup kepala atau dalam bahasa Suku Komering penutup kepala kaum pria disebut kikat. Pada umumnya salikap untuk kikat berukuran 90,0 x 89,0 cm. Jenis kain yang digunakan berupa kain tenun yang adakalanya dibubuhi sulam atau bordir. Kain Salikap Suku Komering pada umumnya ditenun dengan menggunakan benang sutra dan benang emas
- Bidak Cukit

Kain Bidak Cukit Bunga Molugh, produksi kain ini masih dilakukan oleh masyarakat Desa Gunung Batu, Cempaka, Ogan Komering Ulu Timur
Suku Komering dikenal sebagai penghasil kain biduk cukit dengan motif yang beragam. Secara umum, biduk cukit Suku Komering terbagi menjadi dua tipe (Model), yaitu kughing lopus dan kughing kolang.
- Kughing lopus ada yang berpola caghom ada yang berpola ghagom.
- Baik pola Caghom maupun Ghagom keduanya hanya mengenal dua corak saja, yaitu Ghisok dan Langkaw.
Sedangkan biduk cukit tipe kughing kolang yang paling diminati adalah motif bunga Molugh (Melati). Motif bunga Molugh sebagai wujud ketulusan dan kesucian, sekaligus sebagai lambang kelembutan serta simbol kesetiaan yang abadi.
Bidak Bandom merupakan kain Bidak yang berwarna gelap. Kain ini pada umumnya digunakan dalam tradisi Pengangkon atau Angkon muaghi (Angkon-Angkonan). Berikut adalah deskripsi dua helai Bidak Bandom yang merupakan koleksi dari Yale University Art Gallery:
- Ukuran: 189 x 82 Cm.
- Kode Koleksi: ILE2006.4.235.
- Masa Produksi: Bidak Bandom diproduksi pada Abad ke-18 hingga ke-19 Masehi.
- Bidak Galah Napuh

Kain Bidak Galah Napuh, kain berkualitas tinggi Suku Komering yang biasanya dipakai kalangan bangsawan di kemargaan Komering, koleksi Yale University Art Gallery.
Bidak Galanapou atau Kain Bidak Galah Napuh adalah maha karya adiluhung wastra Suku Komering.
- Kain Bidak Galah Napuh menjadi wastra Suku Komering yang paling sulit dan rumit dalam menenunnya.
- Proses menenunnya yang panjang akibat kerumitan yang terjalin telah menghantarkan Kain Bidak Galah Napuh menjadi Mega Bintang Wastra sepanjang zaman.
Berikut adalah deskripsi Bidak Galah Napuh Suku Komering yang merupakan koleksi dari Yale University Art Gallery:
- Kode Koleksi: ILE2012.30.69.
- Masa Produksi: Diperkirakan diproduksi pada abad ke-16 dengan menggunakan benang emas, sutra, dan ikat.
- Ukuran: 229 cm \times 150 cm.
- Angkinan

Kain Angkinan Komering, produksi perkiraan abad ke-19 akhir, koleksi Yale University Art Gallery
Angkinan menjadi salah satu Wastra Suku Komering yang sejak dahulu kala hingga saat ini masih berkembang dengan pesat di sepanjang aliran Sungai Komering.
- Pusat Produksi: Produksi Angkinan berpusat di alam Semendawai, bersama dengan Wastra Suku Komering lainnya seperti Limar, Bidak, Songket, Kelingkam, Condi, Gibing, Blongsong, dan lain sebagainya.
Motif Angkinan Angkinan Suku Komering kaya akan berbagai motif.
- Motif Klasik: Antara lain Angsa Laga, Sintok Jala, Papan Jajagh, dan Kamughak Pahala.
- Motif Lain/Baru: Antara lain Kalabang, Kamughak Lopang, Jughambah, Imbak, Bulung Bayot, dan lain-lain.







