Aljazair memiliki kedutaan besar di Dhaka dan Bangladesh memiliki kedutaan besar di Aljir.
Sejarah
Aljazair merupakan bagian dari wilayah Maghreb. Penjelajah abad ke-14, Ibnu Batutah, menyebutkan dalam bukunya tentang keberadaan orang Maghreb di Benggala pada masa itu, sebagian besar sebagai pedagang. Ia berbicara tentang seorang bernama Muhammad al-Masmudi, yang tinggal di sana bersama istri dan pembantunya.[2]
Modern
Aljazair adalah negara Arab pertama yang mengakui Bangladesh pada tahun 1971 setelah kemerdekaannya. Hubungan semakin membaik ketika Sheikh Mujibur Rahman menjadi kepala negara Bangladesh pertama yang mengunjungi Aljazair pada tahun 1973 sebagai bagian dari pertemuan puncak Gerakan Non-Blok. Pada tahun 1974, presiden Aljazair Houari Boumediene melakukan kunjungan resmi ke Dhaka.[3] Aljazair memainkan peran utama dalam mendorong Bangladesh untuk bergabung dengan Organisasi Kerja sama Islam pada tahun 1974.[4] Aljazair menutup kedutaan besarnya di Dhaka pada tahun 1990, dan membukanya kembali tiga dekade kemudian, pada tanggal 29 Januari 2020.[5]
Kerjasama ekonomi
Bangladesh dan Aljazair telah menunjukkan minat dalam memperluas kegiatan ekonomi bilateral.[6] Produk farmasi, melamin, dan barang-barang dari kulit Bangladesh telah diidentifikasi sebagai produk-produk yang memiliki potensi baik di pasar Aljazair.[7] Pada tahun 2007, delegasi bisnis Bangladesh yang beranggotakan 20 orang beserta para koki melakukan perjalanan ke Aljazair untuk menemukan cara-cara meningkatkan perdagangan dan investasi bilateral antara kedua negara dan untuk mempromosikan masakan tradisional Bangladesh.[8]
↑Ibn Battutah. The Rehla of Ibn Battutah(PDF). Diarsipkan dari asli(PDF) tanggal 2020-12-29. Diakses tanggal 2019-09-04. Muhammad al-Masmudi, the Maghrebi ... an old inhabitant of the place (Bengal)... he had a wife and a servant