Sejarah
Finlandia secara resmi mengakui kemerdekaan Bangladesh pada tanggal 4 Februari 1972, tak lama setelah negara tersebut dibebaskan dari Pakistan. Pengakuan ini menjadi dasar bagi hubungan diplomatik antara kedua negara.[4]
Pada tahun 1975, Finlandia memulai kerja sama pembangunan bilateral dengan Bangladesh, dengan fokus pada kredit pembangunan dan proyek infrastruktur. Selama bertahun-tahun, kerja sama ini meluas hingga mencakup sektor-sektor seperti pendidikan, kesehatan, dan keberlanjutan lingkungan. Lembaga swadaya masyarakat Finlandia juga berperan dalam mendukung inisiatif pembangunan di Bangladesh.[5]
Pada bulan April 2025, Bangladesh dan Finlandia semakin memperkuat hubungan bilateral mereka melalui putaran keempat Konsultasi Bilateral yang diadakan di Dhaka. Pertemuan tersebut dipimpin oleh Wakil Menteri Luar Negeri Finlandia untuk perdagangan internasional, Jarno Syrjälä, dan Sekretaris Kementerian Luar Negeri Bangladesh, Duta Besar Md. Nazrul Islam.[6][7] Kedua belah pihak menegaskan kembali komitmen mereka untuk meningkatkan kerja sama dalam perdagangan, investasi, pembangunan berkelanjutan, dan kepentingan bersama lainnya. Pada kesempatan yang sama, Penasihat Dalam Negeri Bangladesh, Letnan Jenderal (Purn.) Md. Jahangir Alam Chowdhury, mendesak Syrjälä untuk mempertimbangkan pembukaan kedutaan besar Finlandia di Dhaka, menyoroti tantangan dalam pemrosesan visa dan perlunya keterlibatan yang lebih dalam.[8][9] Syrjälä mengakui pentingnya permintaan tersebut dan berjanji untuk meneruskannya kepada pemerintahannya. Diskusi tersebut juga mencakup migrasi tenaga kerja, peran ekspatriat Bangladesh yang diperkirakan berjumlah sekitar 6.000 orang, termasuk banyak mahasiswa yang belajar di Finlandia, dan kerja sama dalam menangani krisis Rohingya.[10]
Dalam beberapa tahun terakhir dan tahun 2025, Finlandia telah menunjukkan minat yang meningkat untuk meningkatkan hubungan ekonomi dengan Bangladesh. Delegasi bisnis Finlandia mengunjungi Bangladesh, termasuk perusahaan yang mengkhususkan diri dalam energi, konstruksi, logistik, dan teknologi digital. Delegasi tersebut bertujuan untuk menjajaki peluang investasi dan menjalin kemitraan dengan perusahaan-perusahaan Bangladesh.[11]
Kedua negara juga berkolaborasi dalam isu-isu global seperti perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan. Komitmen Bangladesh terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) PBB sejalan dengan prioritas kebijakan luar negeri Finlandia, yang menyediakan kerangka kerja untuk kerja sama yang berkelanjutan.[5]
Kerja sama
Perdagangan bilateral
Meskipun volume perdagangan keseluruhan mengalami fluktuasi, kedua negara telah menyatakan niat untuk meningkatkan kerja sama ekonomi.
Pada tahun fiskal 2018–2019, total perdagangan bilateral antara kedua negara mencapai sekitar US$244 juta. Namun, angka ini menurun sebesar 47,44% menjadi US$165,61 juta pada tahun fiskal 2019–2020.[12][13] Selama periode ini, ekspor Bangladesh ke Finlandia menurun sebesar US$4,79 juta, sementara impor dari Finlandia turun dari US$204 juta menjadi US$130,9 juta.[14][15]
Ekspor utama Bangladesh ke Finlandia meliputi pakaian jadi, alas kaki, dan produk goni. Pada tahun 2022, Bangladesh mengekspor barang senilai lebih dari US$100 juta ke Finlandia, dengan barang-barang utama berupa kaus katun (US$38,4 juta), sweter katun (US$33,4 juta), dan jas pria non-rajutan (US$22,8 juta).[16] Di sisi lain, Bangladesh mengimpor berbagai barang industri dari Finlandia, termasuk peralatan listrik dan elektronik, kertas dan karton, dan mesin. Misalnya, pada tahun 2015, Bangladesh mengimpor peralatan listrik dan elektronik senilai US$39,61 juta dan produk kertas senilai US$10,77 juta.[17]
Bidang ekonomi
Bangladesh dan Finlandia telah terus meningkatkan hubungan ekonomi mereka melalui konsultasi bilateral, delegasi bisnis, dan inisiatif kolaboratif.[18] Putaran keempat Konsultasi Bilateral yang diadakan di Dhaka pada 8 April 2025, menggarisbawahi komitmen kedua negara untuk memperdalam hubungan ekonomi, dengan fokus pada perdagangan, investasi, dan pembangunan berkelanjutan.[19][20]
Selama konsultasi ini, kedua negara menyatakan kepuasan mereka terhadap kondisi hubungan bilateral saat ini dan sepakat untuk menjajaki peluang guna memfasilitasi kemitraan bisnis. Perusahaan-perusahaan Finlandia didorong untuk berinvestasi di Bangladesh, khususnya di sektor-sektor seperti energi bersih, teknologi hijau, inovasi, layanan digital, e-commerce, dan tekstil.[19][20]
Kunjungan delegasi bisnis Finlandia ke Bangladesh, yang terdiri dari perusahaan-perusahaan seperti Coolbrook, Elematic, Konecranes, Mirasys, Routa Digital, Wirepas, dan Wartsila, bertujuan untuk membangun koneksi yang bermakna dan mengeksplorasi peluang investasi.[21] Perusahaan-perusahaan ini mengeksplorasi bidang-bidang seperti pengukuran pintar, manajemen lalu lintas cerdas, teknologi rendah emisi untuk industri berat, dan transformasi digital bisnis.[18][22]
Lebih jauh, pembahasan juga mencakup rencana Bangladesh untuk keluar dari kategori Negara Kurang Berkembang (LDC) dan negosiasi yang sedang berlangsung mengenai peningkatan Perjanjian Kemitraan dan Kerja Sama antara UE dan Bangladesh. Finlandia telah menunjukkan dukungannya terhadap negosiasi ini dan mendorong Bangladesh untuk memenuhi kewajiban yang terkait dengan konvensi internasional, sejalan dengan transisi dari sistem EBA UE ke pengaturan GSP+.[19]
Bidang budaya dan pendidikan
Kolaborasi pendidikan didukung oleh program-program yang didanai Uni Eropa seperti Erasmus+ dan Horizon Europe.[23]
Di sektor pembangunan, lembaga swadaya masyarakat Finlandia seperti Bantuan Gereja Finn (FCA) telah aktif di Bangladesh. FCA telah melaksanakan program-program yang mendukung pendidikan bagi masyarakat terpinggirkan, termasuk pengungsi Rohingya, sehingga secara tidak langsung memperkuat hubungan budaya dan pendidikan antara kedua negara.[24]