Perang Suriah
Kementerian Luar Negeri Bangladesh mengutuk penggunaan senjata kimia "oleh pihak mana pun dalam keadaan apa pun" setelah serangan kimia di Suriah pada tahun 2013.[6] Bangladesh menyerukan agar konflik tersebut diakhiri melalui "cara diplomatik dan damai".[7]
Beberapa warga Bangladesh juga bergabung dengan kelompok militan ISIS di Suriah.[8][9] Sejumlah warga Inggris-Bangladesh termasuk seluruh keluarga juga bergabung dengan ISIS.[10][11] Tamim Chowdhury, seorang Bangladesh-Kanada yang bertempur di Suriah akan menjadi kepala unit ISIS di Bangladesh.[12] Pada tahun 2015 dan 2016, perempuan Bangladesh diperdagangkan ke Suriah di mana mereka dipaksa bekerja sebagai pekerja seks dan sebagai pekerja budak.[13][14] Para perempuan itu dijanjikan pekerjaan sebagai pembantu di Lebanon.[15] Pada tahun 2016, Pemerintah Bangladesh mengeluarkan nasihat untuk tidak bepergian ke Suriah.[16]
Mengenai penyelesaian konflik di Suriah, seorang pejabat pemerintah Bangladesh mengatakan bahwa "Dalam konteks saat ini, posisi netral tidak selalu memuaskan semua pihak." Pejabat pemerintah lainnya menambahkan: "Kami mendukung perdamaian. Kami menginginkan solusi damai untuk situasi ini, yang akan membuat Suriah tetap berdaulat."[17]
Pada tanggal 10 Februari 2023, Pemerintah Bangladesh telah mengirimkan bantuan kepada para korban gempa bumi baru-baru ini di Suriah.[18]