Pada tahun 2011, Bangladesh dan Yordania menandatangani nota kesepahaman tentang kerja sama pertanian. Menurut nota kesepahaman tersebut, kedua negara "akan saling bertukar materi dan informasi ilmiah serta saling bertukar kunjungan ilmuwan dan insinyur di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi pertanian, penyuluhan di tingkat lapangan, produksi pertanian, dan pengolahan hasil pertanian." Berdasarkan nota kesepahaman tersebut, Bangladesh dan Yordania berencana untuk membentuk kelompok kerja bersama yang terdiri dari para ahli dari kedua negara untuk memfasilitasi kerja sama di sektor tersebut.[3]
Hubungan ekonomi
Bangladesh dan Yordania telah menyatakan minatnya untuk memperluas perdagangan dan investasi. Yordania adalah salah satu pasar ekspor tenaga kerja Bangladesh terbesar.[4] Pada tahun 2011, Yordania mencabut larangan impor tenaga kerja dari Bangladesh tetapi segera memperketat proses perekrutan sebagai akibat dari beberapa kasus eksploitasi seksual terhadap pekerja perempuan dan pemogokan buruh.[5] Pada tahun 2012, Bangladesh dan Yordania menandatangani nota kesepahaman untuk memantau migrasi, memastikan keselamatan migran dan mengurangi biaya migrasi.[6] Pada tahun yang sama, Bangladesh dan Yordania menyiapkan rancangan perjanjian untuk meningkatkan kerja sama perdagangan. Menurut perjanjian tersebut, kedua negara akan memberikan status "Negara Paling Disukai" satu sama lain dan membentuk komite perdagangan bersama.[7] Pada tahun 2023, sebuah nota kesepahaman ditandatangani antara badan-badan bisnis farmasi Bangladesh dan Yordania. Nota kesepahaman tersebut menggarisbawahi bahwa perekrutan dan ketenagakerjaan pekerja Bangladesh akan dilakukan melalui kontrak resmi yang didokumentasikan oleh otoritas kedua negara yang menekankan pada perlindungan hak pekerja dan pengusaha sesuai dengan undang-undang, peraturan, dan standar internasional yang berlaku.[8][9]
Migrasi
Pada tahun 2011, terdapat sekitar 30.000 warga Bangladesh yang tinggal di Yordania, sebagian besar bekerja di sektor jasa.[5]