Kedua negara menjalin hubungan diplomatik sejak kemerdekaan mereka, dan merupakan anggota penuh Liga Arab. Pada Februari 1984, massa Libya membakar kedutaan besar Yordania di Tripoli, sebagai tanggapan atas upaya Raja Hussein untuk menegosiasikan konflik Arab-Israel. Selain itu, selama Perang Iran-Irak, Yordania mendukung Irak sementara Libya mendukung Iran. Pada tahun 1987, Libya mendesak Iran dan Irak untuk mencapai kesepakatan damai, dan sebagai hasilnya, pada bulan September tahun itu, Yordania dan Libya memperbarui hubungan diplomatik mereka.[1]
Pada bulan Desember 2018, Faiz al-Sarraj, Ketua Dewan Kepresidenan Libya dan Perdana Menteri Pemerintah Kesepakatan Nasional, mengunjungi Amman dan bertemu dengan Abdullah II, Raja Yordania, dan Perdana Menteri Yordania, Omar Razzaz. Dalam kunjungan tersebut, Yordania menjanjikan dukungan keuangan kepada Libya, dan di samping itu, kedua negara mencapai kesepakatan mengenai penyelesaian utang Libya kepada Yordania.[2]