Libya merupakan bagian dari wilayah Maghreb. Penjelajah abad ke-14, Ibnu Batutah, menyebutkan dalam bukunya tentang keberadaan orang-orang Maghreb di Benggala pada masa itu, sebagian besar sebagai pedagang. Ia berbicara tentang seorang bernama Muhammad al-Masmudi, yang tinggal di sana bersama istri dan pembantunya.[1]
Mayor Jenderal Jamilud Din Ahsan diangkat menjadi duta besar Bangladesh untuk Libya pada bulan September 2005.[4]
Hubungan modern
Bangladesh memiliki duta besar tetap di Libya.[5] Libya memiliki kedutaan besar tetap di Dhaka, Bangladesh.[6] Pada bulan Oktober 2011 pemerintah Bangladesh mengakui Dewan Transisi Nasional Libya.[7] Kedutaan besar Bangladesh di Tripoli diserang pada bulan Februari 2017.[8] Pada bulan Mei 2020, 26 migran Bangladesh dibunuh oleh pedagang manusia dalam pembantaian Mizdah.[9]
Hubungan ekonomi
Sejak 1974 Libya telah merekrut pekerja migran dari Bangladesh.[10] Bangladesh menandatangani perjanjian untuk mengirim 1 juta pekerja ke Libya pada tahun 2009.[11] Pada bulan Mei 2015 Libya melarang pekerja migran dari Bangladesh karena kekhawatiran bahwa mereka bermigrasi secara ilegal ke Eropa melalui Libya.[12] Diperkirakan terdapat 37.000 masyarakat Bangladesh di Libya pada bulan September 2015.[13] Pada bulan April 2017, jumlahnya telah turun menjadi 20.000.[14] Pada bulan Mei 2017 Bangladesh menjadi sumber migran terbesar ke Eropa melalui Libya.[15][16]Khalifa Haftar dari Tentara Nasional Libya melarang kedatangan warga Bangladesh dan 5 warga negara lainnya pada tahun 2017.[17]
Referensi
↑Ibn Battutah. The Rehla of Ibn Battutah(PDF). Diarsipkan dari asli(PDF) tanggal 2020-12-29. Diakses tanggal 2019-12-23. Muhammad al-Masmudi, the Maghrebi ... an old inhabitant of the place (Bengal)... he had a wife and a servant
↑Nazar Abbas (August 26, 2011). "Gaddafi is gone, long live Libya". THe News International. Diarsipkan dari asli tanggal 9 August 2013. Diakses tanggal 9 August 2013.