Sejarah
Hubungan diplomatik antara Republik Rakyat Bangladesh dan Georgia secara resmi didirikan pada tanggal 27 Agustus 1992.[3] Hal ini terjadi tak lama setelah Georgia memperoleh kemerdekaan menyusul pembubaran Uni Soviet pada tahun 1991. Sejak saat itu, kedua negara telah memelihara hubungan baik, dengan upaya untuk meningkatkan kerja sama di berbagai sektor.[4] Bangladesh memainkan peran kepemimpinan yang signifikan dalam Misi Pengamatan Perserikatan Bangsa-Bangsa di Georgia (UNOMIG), menyediakan tiga Kepala Pengamat Militer: Mayor Jenderal Mohammad Harun-Ar-Rashid, Kazi Ashfaq Ahmed, dan Anwar Hussain.[5]
Konsultasi Kantor Luar Negeri (FOC) pertama antara kedua negara diadakan di Tbilisi pada tahun 2017. Selama pembicaraan tersebut, kedua belah pihak menjajaki peluang kerja sama di berbagai bidang termasuk pertanian, farmasi, garmen, pendidikan, dan migrasi tenaga kerja.[6]
Pada bulan Agustus 2024, Bangladesh mengumumkan pembukaan konsulat kehormatan di Tbilisi, ibu kota Georgia, dengan tujuan memperkuat kerja sama bilateral di bidang perdagangan, pendidikan, dan pertukaran antarmasyarakat.[2]
Pada bulan Februari 2025, Penasihat Urusan Luar Negeri Bangladesh, Md. Touhid Hossain, bertemu dengan duta besar nonresiden Georgia untuk Bangladesh. Selama pertemuan tersebut, Penasihat Hossain menekankan perlunya meningkatkan pendaftaran mahasiswa Bangladesh di lembaga pendidikan tinggi Georgia dan membahas berbagai cara untuk meningkatkan perdagangan dan investasi bilateral.[7]
Selanjutnya, pada bulan Mei 2025, delegasi senior dari Pemerintah Bangladesh mengunjungi Georgia untuk membahas kerja sama dalam pengelolaan pemulangan dan isu migrasi. Pembahasan difokuskan pada peningkatan kolaborasi dalam pengelolaan arus migrasi dan memastikan pemulangan migran yang aman dan bermartabat.[8]
Kerja sama
Bidang ekonomi
Bangladesh dan Georgia telah menyatakan minat bersama untuk meningkatkan kerja sama ekonomi, khususnya di sektor-sektor seperti farmasi, pakaian jadi, pertanian, dan keramik. Pada bulan Juni 2019, Duta Besar Georgia untuk Bangladesh, Archil Dzuliashvili, bertemu dengan Menteri Luar Negeri Bangladesh, AK Abdul Momen untuk membahas perluasan hubungan dagang dan memulai kerja sama pertanian antara kedua negara.[9]
Pada bulan Februari 2025, Penasihat Urusan Luar Negeri Bangladesh, Md. Touhid Hossain, menekankan perlunya meningkatkan perdagangan bilateral, investasi, dan kolaborasi ekonomi selama pertemuan dengan duta besar nonresiden Georgia untuk Bangladesh. Kedua pihak sepakat untuk segera mengadakan Konsultasi Bilateral berikutnya guna lebih memperkuat hubungan ekonomi.[10]
Bidang perdagangan
Perdagangan bilateral antara Bangladesh dan Georgia terbilang sederhana tetapi menunjukkan potensi pertumbuhan. Pada tahun 2023, Bangladesh mengekspor barang senilai sekitar $3,72 juta ke Georgia, menandai tingkat pertumbuhan tahunan sebesar 18,6%, tumbuh dari $1,58 juta pada tahun 2018 menjadi $3,72 juta pada tahun 2023. Ekspor utama meliputi obat-obatan kemasan ($1,14 juta), kaus rajut ($479.000), dan sweter rajut ($291.000).[11]
Sebaliknya, ekspor Georgia ke Bangladesh sangat minim, hanya sebesar $310.000 pada tahun 2023. Ekspor Georgia ke Bangladesh telah meningkat pada tingkat tahunan sebesar 109%, dari $3.750 pada tahun 2018 menjadi $310.000 pada tahun 2023.[12][13]
Bidang budaya dan pendidikan
Pada bulan Februari 2025, Penasihat Urusan Luar Negeri Bangladesh, Md Touhid Hossain, mendesak Georgia untuk mendaftarkan lebih banyak mahasiswa Bangladesh di lembaga pendidikan tingginya. Selama pertemuan dengan duta besar nonresiden Georgia untuk Bangladesh, kedua pihak menekankan pentingnya meningkatkan hubungan budaya, khususnya melalui peningkatan keterlibatan dalam film dan media.[10]
Pada bulan September 2021, Duta Besar Bangladesh untuk Turki, Georgia, dan Turkmenistan, Mosud Mannan, mengunjungi Tbilisi untuk menyerahkan surat kepercayaannya kepada Presiden Georgia. Selama kunjungannya, ia bertemu dengan Wakil Menteri Luar Negeri dan Menteri Kebudayaan untuk membahas berbagai peluang kerja sama yang lebih erat antara kedua negara. Duta Besar menyoroti potensi diplomasi budaya dan menyatakan minatnya untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan budaya, termasuk pameran seni dan acara peringatan.[14]
Komunitas Bangladesh di Georgia, meskipun kecil, berperan dalam mendorong pertukaran budaya. Terdiri dari sekitar 100 orang di kota-kota seperti Tbilisi dan Batumi, anggota komunitas ini terlibat dalam berbagai profesi, termasuk usaha kecil dan akademisi. Partisipasi aktif mereka dalam acara budaya dan sosial berkontribusi pada penguatan hubungan antarmasyarakat antara kedua negara.[14]