Muhammad Imran adalah duta besar tetap Bangladesh untuk Uni Emirat Arab.[1] Pada tahun 2014, Bangladesh mengumumkan penerbitan visa pada saat kedatangan untuk warga negara UEA.[2] UEA berhenti mengeluarkan visa untuk warga Bangladesh setelah mereka memilih Moskow sebagai tuan rumah World Expo 2020, bukan Dubai. Dubai akhirnya terpilih sebagai kota tuan rumah dan menolak adanya pembatasan visa.[3]
Kunjungan resmi
Syekh Mujibur Rahman secara resmi mengunjungi UEA pada tahun 1974 dan mengadakan pertemuan bersejarah dengan mendiang Syekh Zayid bin Sultan Al Nahyan. Memang, inisiatif dan wawasan Syekh Mujib membantu menciptakan ikatan persahabatan yang kuat antara kedua negara.[4] Pendiri UEA, mendiang Syekh Zayid bin Sultan Al Nahyan, mengunjungi Bangladesh pada tahun 1984 untuk mengembangkan hubungan bilateral.[5]
Perjanjian
Bangladesh dan UEA menandatangani perjanjian kerja sama budaya pada Maret 1978[6] dan perjanjian perdagangan umum pada tahun 1984.[7] Untuk memperkuat kerjasama ekonomi, dua perjanjian, yaitu Pajak Berganda dan Perjanjian tentang Promosi dan Perlindungan Timbal Balik atas Investasi, ditandatangani pada Januari 2011.[8] Bangladesh dan UEA juga menandatangani perjanjian layanan udara pada Oktober 2017 untuk memperkuat hubungan mereka.[9]
Hubungan ekonomi
Per Desember 2016, diperkirakan terdapat 700.000 migran Bangladesh di UEA.[10] Saat ini, UEA merupakan mitra dagang utama dan sumber investasi bagi Bangladesh di Timur Tengah. Perdagangan bilateral telah meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir dan mencapai $1,13 miliar pada tahun 2019.[11] UEA memiliki investasi sebesar $2,9 miliar di Bangladesh.[12]