Hubungan awal (1200-1700)
Hubungan terdokumentasi paling awal antara Denmark dan Finlandia berasal dari era ekspedisi Valdemar II dari Denmark ke Baltik timur laut, di mana bangsa Denmark menaklukkan Estonia. Pelayaran ini, mengikuti pantai Swedia dan Finlandia yang terlindungi, juga menyebabkan pendaratan di Finlandia. Kronik Denmark bahkan mengklaim bahwa Denmark menaklukkan sebagian Finlandia dengan kekerasan. Catatan dari kronik-kronik ini, bersama dengan rute pelayaran terkenal dari Denmark ke Estonia yang dijelaskan dalam kadaster Raja Valdemar, yang diyakini ditulis oleh Uskup Torkel di Reval pada tahun 1240-an, memberikan wawasan tentang perang salib Denmark awal dan rute maritim melalui Finlandia. Selama Puncak Abad Pertengahan, pengaruh Denmark meluas hingga ke Finlandia. Contoh yang terkenal adalah penggambaran santo kerajaan Denmark, Santo Knud, yang berdiri di gereja paroki Sääksmäki dan diyakini telah diukir sekitar tahun 1400, meskipun ini tampaknya merupakan kasus terisolasi. Keberadaan salinan Missale Hafniense, yang direkonstruksi dari fragmen perkamen yang pernah digunakan sebagai penjilidan buku catatan Finlandia pada abad ke-16, juga mengisyaratkan adanya hubungan gerejawi. Fragmen-fragmen ini, yang awalnya merupakan bagian dari teks liturgi Denmark abad pertengahan, dipindahkan ke Finlandia dari Arsip Kamar di Stockholm pada tahun 1810 dan dikeluarkan dari buku catatan pada tahun 1840-an.[3] Uni Kalmar membawa Denmark dan Finlandia ke dalam kontak yang lebih dekat, karena beberapa bangsawan Denmark menjadi aktif di wilayah Finlandia yang dikuasai Swedia, dengan beberapa di antaranya, seperti Erik Axelsson Tott, memainkan peran kunci di sana. Tott menjabat sebagai gubernur di Finlandia Timur dekat perbatasan dengan Kepangeran Agung Moskow yang sedang berkembang dan, pada tahun 1475, mulai membangun benteng perbatasan Olavinlinna. Selama konflik seputar pembubaran persatuan tersebut, aksi militer Denmark juga mencapai Finlandia. Pada tahun 1509, Otte Rud memimpin serangan yang mencakup penjarahan Turku dan pencurian piala katedralnya. Karena hubungan yang tegang antara Denmark dan Swedia selama tahun 1600-an, periode ini tidak menyaksikan hubungan yang signifikan antara Denmark dan Finlandia. Namun, pada awal tahun 1700-an, perang yang menyebabkan runtuhnya kekaisaran Swedia secara dramatis menggeser keseimbangan kekuasaan di kawasan tersebut, yang pada gilirannya menarik perhatian Denmark. Dengan bangkitnya Kekaisaran Rusia di bawah Pyotr Agung, Denmark semakin khawatir dengan perkembangan di Finlandia. Antara tahun 1714 dan 1716, pamflet-pamflet didistribusikan secara luas di Denmark, yang menggambarkan tahapan-tahapan penting penaklukan Finlandia oleh Rusia, termasuk pertempuran-pertempuran penting seperti di Pälkäne dan Isokyrö, jatuhnya Olavinlinna dan Kastil Kajaani, serta pendudukan Åland. Bersamaan dengan pamflet-pamflet ini, sebuah peta sketsa Pertempuran Storkyro di Ostrobothnia juga dipresentasikan, yang menggambarkan luasnya kemajuan militer Rusia.[4]
Hubungan di abad ke-20
Setelah deklarasi kemerdekaan Finlandia pada tahun 1917, sebuah delegasi yang terdiri dari Juho Kusti Paasikivi dan Adolf Törngren dikirim ke negara-negara Skandinavia, termasuk Denmark. Paasikivi, yang kemudian menjadi presiden setelah Perang Dunia II, dan Torngren, yang memiliki pengetahuan luas tentang urusan Rusia, ditugaskan untuk menyampaikan berita rahasia tentang kemerdekaan negara mereka. Di Denmark, mereka bernegosiasi dengan Menteri Luar Negeri Erik Scavenius. Denmark bereaksi keras ketika Uni Soviet terlibat dalam Perang Musim Dingin melawan Finlandia pada tahun 1939. Sekitar 1.000 sukarelawan Denmark bergabung dengan tentara Finlandia, membentuk batalion independen, sementara yang lain bertugas di berbagai unit. Dua pilot Denmark, Letnan Erhard Frijs dan Carl Knut Kalmberg, kehilangan nyawa mereka selama konflik tersebut. Namun, pada tahun 1941, situasi politik telah berubah, dan partisipasi sukarelawan Denmark telah berkurang. Selain itu, terlepas dari tantangannya sendiri, Denmark memberikan bantuan kemanusiaan yang signifikan dan ribuan rumah tangga Denmark menerima anak-anak Finlandia, menawarkan mereka perlindungan selama perang.[5]
Pada tahun 1970-an dan 1980-an, hubungan ekonomi mengalami pertumbuhan yang signifikan, dengan ekspor kedua arah meningkat sepuluh kali lipat. Pada tahun 1987, Denmark telah menjadi mitra ekspor terbesar ketujuh Finlandia. Ekspor Finlandia terdiversifikasi, menambahkan mesin, bahan bakar, bahan kimia, dan bahan baku ke produk tradisional seperti kayu, kertas, dan selulosa. Masuknya Denmark ke Masyarakat Ekonomi Eropa pada tahun 1973 semakin memperkuat hubungan ini, memposisikan Denmark sebagai pintu gerbang ke pasar internal komunitas.[6]