Sejarah
Aljazair dan Somalia sama-sama memperoleh kemerdekaan pada awal dekade 1960-an. Pada awalnya, kedua negara memiliki pandangan dan ideologi yang serupa, seperti kerja sama Dunia Ketiga. Namun, keduanya kemudian secara resmi mengadopsi sosialisme sebagai ideologi penuntun seiring naiknya Houari Boumediene dan Siad Barre ke tampuk kekuasaan. Hal ini juga berarti bahwa kedua negara menjalin hubungan yang lebih erat dengan Uni Soviet.
Hubungan antara kedua negara tetap bersahabat, karena Somalia mendukung koalisi Arab dalam Perang Yom Kippur, di mana Aljazair terlibat sebagai pihak yang berperang.[1] Namun, hubungan mulai menegang ketika Somalia mulai memobilisasi angkatan bersenjatanya untuk kemungkinan invasi ke Ethiopia Timur pada tahun 1977.[2] Boumediene, yang memiliki hubungan baik dengan Ethiopia, Uni Soviet, dan Somalia, berupaya membujuk Barre agar tidak melanjutkan rencana invasi tersebut.[3] Barre kemudian tetap melakukan invasi, merebut, dan menganeksasi Ogaden, yang kemudian dikembalikan kepada Ethiopia setelah intervensi Uni Soviet.[4]
Selain itu, hubungan juga memburuk ketika Somalia menolak memutuskan hubungan dengan Mesir di bawah Anwar Sadat setelah normalisasi hubungan Mesir dengan Israel, serta penolakan Somalia untuk mengakui Sahara Barat demi mempertahankan hubungan yang lebih baik dengan Maroko, yang masih dipertahankannya hingga kini.[5]
Ketika pemerintahan Somalia runtuh pada tahun 1991, Aljazair menyumbangkan pasukan penjaga perdamaian untuk UNOSOM II, fase kedua dari Operasi Perserikatan Bangsa-Bangsa di Somalia.
Saat ini, hubungan antara kedua negara Afrika tersebut sangat hangat, karena Aljazair dan Somalia memelihara hubungan persaudaraan serta saling menegaskan dukungan satu sama lain.[6][7][8]