Suku Boang (Bahasa Batak Pakpak: Suak Boang; disebut juga sebagai Pakpak Boang) adalah sub-suku Pakpak yang mendiami wilayah sepanjang aliran sungai Simpangkanan dan Simpangkiri yang secara administratif termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Aceh Singkil dan Kota Subulussalam di Provinsi Aceh. Terkadang suku ini dianggap tidak berbeda dengan suku Singkil didekatnya, tetapi kedua masyarakat suku tersebut tidak menanggap mereka sebagai satu entitas yang sama.[4] Persamaan mereka biasanya didasarkan oleh kesamaan agama dan kemiripan budayanya.[5]
Etimologi
Penamaan "Boang" berasal dari bahasa Melayubuang yang berarti 'membuang'. Mereka memilih nama ini karena merasa dibuang oleh anggota sub-suku Pakpak lainnya (Pakpak Suak Silima) ketika mereka memutuskan untuk meninggalkan Kekristenan dan memilih untuk menganut Islam.[1]
Sejarah
Menurut cerita rakyat, orang-orang Simbelo, Simbacang, Siratak, dan Purbaji dianggap telah mendiami wilayah Pakpak sebelum kedatangan orang-orang Pakpak saat ini. Penduduk awal Pakpak adalah orang-orang Simargaru, Simorgarorgar, Sirumumpur, Silimbiu, Similang-ilang, dan Purbaji. Dalam lapiken atau laklak (buku berbahan dasar kulit kayu), disebutkan bahwa penduduk awal wilayah Pakpak adalah pendatang Tamil yang mengarungi lautan dengan menggunakan rakit kayu besar yang kemudian terdampar di pesisir pantai Barus. Persebaran awalnya meliputi orang-orang Pakpak Boang dari wilayah Aceh Singkil saat ini, hingga kemudian menyebar ke wilayah Simsim, Kelasen, Keppas, dan Pegagan.[3]
Masyarakat
Populasi mereka berjumlah sekitar 18.000 hingga 21.000 orang yang sebagian besar mendiami wilayah Kabupaten Aceh Singkil dan Kota Subulussalam.[1][2] Mayoritas masyarakat Pakpak Boang menganut agama Islam dengan pengaruh sinkretisme lokal. Terdapat juga beberapa penganut Kekristenan di antara mereka, tetapi tidak ada gereja adat.[1] Menurut data yang diperoleh dari Joshua Project, sekitar 99,49% masyarakat Pakpak Boang beragama Islam, sedangkan 0,51% di antaranya beragama Kristen.[2]