Kue cucur adalah penganan yang terbuat dari adonan tepung beras dan gula (merah), kemudian digoreng. Penganan ini tidak hanya ada di Indonesia, tapi terdapat juga di Malaysia, Thailand, dan Brunei. Asal-usul penganan cucur belum diketahui secara pasti, tetapi penganan ini telah terdokumentasi dalam Serat Centini yang diterbitkan pada abad ke-18M.[3][4][5][6][7]
Kue ini terbuat dari tepung beras dan gula jawa atau gula aren yang digoreng. Kue Cucur memiliki bentuk yang cenderung tebal menggembung seperti gunung di bagian tengah dan tipis di bagian pinggirannya. Selain warnanya yang khas, bentuk kue cucur pun unik karena layaknya bunga dengan serat kue yang terlihat dijelas di atas permukaannya.[8] Dalam leluri suku Betawi, jajanan ini termasuk salah satu makanan adat yang kerap dihidangkan dalam upacara-upacara adat budaya Betawi.[butuh rujukan]
Penyebaran
Secara umum, kue tradisional masyarakat Betawi ini dapat ditemui di pasar-pasar tradisional di seluruh daerah di Indonesia, khususnya di area Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi) dan sekitarnya. Di berbagai daerah Indonesia, Kue Cucur juga dikenali dengan beragam nama atau sebutan lain, seperti Pinyaram, Panyaram, atau Paniaram (oleh suku Minangkabau di Sumatera Barat),[9]Dumpi (oleh suku Mandar di Sulawesi Barat), Kucur atau Kocor (oleh suku Madura dan Kangean di Madura dan Kepulauan Kangean, maupun masyarakat di provinsi Jawa Timur pada umumnya),[10][11][12], Wadai Cucur di Kalimantan Selatan,[13] dan lain sebagainya.
Cucur Banjar
Di Kalimantan Selatan, masyarakat Banjar menggunakan kue ini saat melakukan kegiatan adat. Misalnya dalam bulan Safar, ada ritual batimbang anak atau ritual mengayunkan anak agar anak tersebut terhindar dari pengaruh buruk. Dalam ritual tersebut, kue cucur sering dijadikan perlengkapan ritual ini.[14]Baayun Mulud, salah satu tradisi masyarakat Banjar pada bulan Rabiulawal, biasanya juga disediakan kue cucur untuk menghiasi ayunan anak yang mengikut tradisi tersebut.[15]
Dikarenakan faktor perdagangan dan kekuasaan kerajaan-kerajaan kuno Indonesia pada zaman dahulu, Kue Cucur menyebar dari Indonesia hingga dikenali di wilayah maritim Asia Tenggara, di Brunei kue ini disebut sebagai Penyaram, di Malaysia kue ini dikenali dengan nama Kuih Cucur Jawa atau Cucur Jawa,[16] sedangkan di Thailand dikenali sebagai Khanom Cūcùn (ขนมจู้จุน), Cūcùn (จูจุ่น) atau Cūcùn Yawā (จูจุ่นยะวา).[17]
Etimologi
Kata "cucur" diambil dari istilah dalam bahasa Jawa "cucur" (ꦕꦸꦕꦸꦂ) [18][19] ataupun "kucur" (ꦏꦸꦕꦸꦂ) yang memiliki arti "pancuran" atau "kucuran" yang merujuk pada teknik pembuatan kue cucur.[20][21]
↑"Kue Cucur". www.tasteatlas.com (dalam bahasa Inggris). Taste Atlas. Diakses tanggal 13 Juni 2021.
↑"Kocor Cake Uit Madura Oost Java"[Kue Kocor dari Madura, (provinsi) Jawa Timur]. voinews.id (dalam bahasa Belanda). Voice of Indonesia. Diakses tanggal 13 Juni 2021.
↑Ricklefs, M. C., “Centhini, Serat”, in: Encyclopaedia of Islam, THREE, Edited by: Kate Fleet, Gudrun Krämer, Denis Matringe, John Nawas, Devin J. Stewart.
↑"Kocor Cake Uit Madura Oost Java"[Kue Kocor dari Madura, (provinsi) Jawa Timur]. voinews.id (dalam bahasa Belanda). Voice of Indonesia. Diakses tanggal 13 Juni 2021.
↑"จูจุ่น"[Cūcùn]. www.signatureofphuket.com (dalam bahasa Thai). Signature of Phuket. Diarsipkan dari asli tanggal 2021-06-24. Diakses tanggal 13 Juni 2021.
↑cucur: a fried sweet made of rice flour and brown sugar. Sumber: Javanese-English Dictionary, Horne, 1974, #1968.
↑cucur (cucUr): (araning manuk kudhasih lan araning panganan). Sumber: Bausastra: Jarwa Kawi, Padmasusastra, 1903, #11.
↑"Kamus Indonesia-Jawa Kuno"(PDF). repositori.kemdikbud.go.id. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Diakses tanggal 13 Juni 2021.
↑"Cucur". kbbi.kemdikbud.go.id. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Diakses tanggal 13 Juni 2021.