Sejarah
Bandrek telah dikenal sejak sebelum abad ke-10, tepatnya dalam kumpulan resep kabuyutan Kerajaan Galuh yang berdiri sejak tahun 612 oleh Raja Sang Wretikandayun, dalam Naskah Nagara Kreta Bhumi, sama halnya dengan minuman Bajigur yang ada pada Babad Kawung Kawali Galuh. Selain itu, terdapat pula referensi dalam Babad Carbon II sebagai bagian dari jenis minuman dalam upacara tradisi pada masyarakat di Keraton Kesultanan Cirebon yang berdiri sejak tahun 1430 oleh Pangeran Cakrabuana/Walangsangsang.[1] Bandrek saat itu begitu dikenal di Tanah Sunda yang menggunakan bahan dasar rempah yakni jahe.[2][3]
Seiring dengan perkembangan zaman, bandrek banyak dijual dalam bentuk instan, tujuannya agar bisa dinikmati di manapun dan kapanpun, tetapi rasanya sedikit berbeda dengan bandrek yang asli. Di Bandung dan sekitarnya, masih banyak pedagang yang menjual bandrek asli, biasanya dijajakan bersama bajigur.