Bebek goreng adalah daging bebek yang digoreng dan dihidangkan dengan lalapan (sayuran segar). Bebek goreng dapat ditemui di warung-warung kaki lima sampai di restoran dan hotel mewah. Karena bebek goreng biasanya dimakan dengan nasi, maka penjual bebek goreng kaki lima menuliskan menu bebek goreng dengan spanduk bertuliskan "Nasi Bebek". Sampai saat ini, masih jarang dijumpai sajian bebek yang dimasak atau disajikan selain digoreng. Nasi bebek atau bebek goreng ini biasanya disajikan dalam keadan yang masih panas (baru digoreng) dengan lalapan daun kemangi, timun, dan sambal serta dimakan langsung dengan muluk (bahasa Jawa: menggunakan tangan). Yang paling khas dari bebek goreng adalah bumbunya yang berupa minyak berwarna kuning yang dilumurkan di atas nasi panas tersebut.
Etimologi
Secara etimologis, istilah bebek goreng merupakan frasa nomina yang terbentuk dari perpaduan kata serapan dan kata warisan Austronesia. Kata bebek diserap dari bahasa Jawa (bèbèk) yang tercipta melalui proses onomatope atau peniruan bunyi suara unggas tersebut ("bek-bek" atau "wek-wek"), dan dalam ranah kuliner Nusantara istilah ini lebih lazim digunakan dibandingkan kata asli Melayunya, yakni itik, akibat kuatnya pengaruh tradisi gastronomi Jawa dan Madura. Sementara itu, kata goreng diturunkan dari akar purba bahasa Proto-Melayu-Polinesia, yakni *guRiŋ, yang pada awalnya merujuk pada proses menyangrai atau memasak tanpa air, sebelum maknanya berevolusi menjadi teknik memasak dengan minyak panas (deep-frying) seiring masuknya pengaruh peranti dan teknik kuliner Tionghoa ke Nusantara. Kombinasi linguistik ini pada akhirnya membakukan sebutan untuk hidangan daging unggas air yang dimasak matang dalam rendaman minyak bersuhu tinggi tersebut.