Asam sunti atau boh seulimeng[1] adalah salah satu bumbu dapur khas yang banyak digunakan di berbagai Hidangan Aceh. Asam sunti terbuat dari belimbing wuluh yang dikeringkan melalui proses penjemuran di terik matahari dan diberi garam sehingga dapat disimpan dalam jangka waktu yang lama.[2]
Selama ini, Asam sunti dibuat secara tradisional, dikarenakan pohon Belimbing sayur tumbuh subur dan berbuah sepanjang tahun di Aceh. Selain memanfaatkan buahnya menjadi bumbu dapur, orang Aceh juga menggunakan bunganya sebagai obat untuk susah menelan dan bibir pecah-pecah karena panas dalam, serta daunnya untuk mengusir lalat.[4]
Asam sunti dalam beberapa hidangan Aceh bersifat esensial dan sulit dicari bahan penggantinya. Sehingga, sering dijadikan sebagai oleh-oleh atau komoditas perdagangan antar warga Aceh baik yang berdomisili di daerah lain ataupun yang masih di Aceh.[5]
Proses membuat
Pengolahan belimbing wuluh menjadi asam sunti pun menjadi tradisi turun-temurun dan diolah dengan cara tradisional. Belimbing wuluh akan diiris tipis, dicampur garam, dan dijemur hingga kering dan warnanya berubah menjadi kecoklatan. Proses ini akan menghasilkan rasa asam khas dan aroma kuat yang menjadi ciri khas masakan Aceh.[6] Penjemuran menggunakan wadah yang terbuat dari anyaman daun kelapa atau tampah.[4]
Adapun proses membuatnya adalah dengan perendaman terlebih dahulu sehari sebelumnya agar teksturnya menjadi lebih lunak. Selanjutnya, belimbing wuluh dicuci dan dijemur hingga kering. Setelah proses penjemuran selesai, belimbing wuluh akan digarami agar tidak berjamur dan memulai proses pengawetan. Belimbing wuluh kemudian akan disimpan di dalam wadah tertutup. Esok harinya, belimbing wuluh akan dijemur lagi berulang kali hingga kering.[7]
Sesekali, pengawetan ini akan menghasilkan cairan asam yang dimanfaatkan sebagai cuka alami untuk masakan Aceh.[7]