Deskripsi
Orem-orem pada mulanya merupakan hidangan yang umumnya disajikan dalam acara hajatan masyarakat, seperti pernikahan, syukuran, dan kenduri keluarga di wilayah Kota Malang dan sekitarnya. Pola penyajian ini sejalan dengan tradisi kuliner Jawa Timur yang menempatkan masakan bersantan sebagai hidangan utama pada peristiwa sosial dan ritual komunal.[4]
Sejak dekade 1980-an, seiring dengan berkembangnya ekonomi perkotaan dan meningkatnya aktivitas perdagangan informal, orem-orem mulai dijual secara lebih luas di warung-warung tradisional serta oleh pedagang kaki lima. Perubahan ini menandai pergeseran fungsi orem-orem dari hidangan seremonial menjadi makanan konsumsi harian yang mudah dijangkau oleh masyarakat perkotaan.[5]
Kota Malang sendiri telah lama dikenal sebagai salah satu sentra produksi tempe di Jawa Timur. Produk seperti “tempe khas Malang” dan keripik tempe telah menjadi identitas kuliner daerah tersebut.[6] Ketersediaan tempe sebagai bahan pangan lokal yang melimpah menjadi faktor penting dalam berkembangnya orem-orem sebagai masakan khas Malang.
Secara umum, orem-orem merupakan masakan yang terbuat dari irisan tempe khas Malang yang digoreng, potongan ayam, dan dimasak bersama kuah santan yang relatif kental. Penyajiannya dilakukan dengan cara menuangkan kuah santan beserta isian tempe dan ayam di atas irisan ketupat, kemudian ditambahkan tauge sebagai pelengkap. Hidangan ini memiliki kemiripan dengan sayur lodeh, namun dibedakan oleh konsistensi kuah yang lebih kental serta cita rasa gurih dengan sentuhan pedas ringan. Dalam praktik konsumsi sehari-hari, orem-orem sering disajikan bersama kecap manis atau sambal sesuai selera konsumen.[7]
Dari sudut pandang ilmu pangan, penggunaan santan dalam orem-orem menghasilkan sistem emulsi lemak-air yang berperan penting dalam pembentukan tekstur, aroma, dan cita rasa masakan. Santan juga berfungsi sebagai medium pelarut senyawa aromatik dari rempah-rempah, sehingga memperkaya profil sensorik hidangan.[8]
Keunikan lain dari orem-orem terletak pada metode memasaknya yang secara tradisional menggunakan bahan bakar arang. Penggunaan bara arang memungkinkan proses pemanasan berlangsung stabil tanpa api besar, sehingga membantu mempertahankan aroma bumbu dan mencegah kerusakan emulsi santan akibat panas berlebih. Praktik ini sejalan dengan temuan dalam kajian teknologi pangan tradisional yang menyebutkan bahwa metode pemasakan berpanas rendah dan stabil berpengaruh positif terhadap kualitas sensori masakan bersantan.[9]
Meskipun secara konseptual orem-orem dapat dibuat di daerah lain, hidangan ini secara kultural sangat melekat pada Malang karena penggunaan tempe khas Malang dan racikan bumbu lokal. Oleh sebab itu, orem-orem sering dipandang sebagai representasi identitas kuliner lokal yang mencerminkan keterkaitan antara bahan pangan setempat, teknik memasak tradisional, dan dinamika sosial masyarakat Malang.[10]