Upaya pelestarian dan inovasi
Di Banjarmasin, masubah merupakan sajian khas yang kerap dibuat menjelang bulan Ramadan dan Idul Fitri. Kue ini sangat populer saat bulan puasa dan hari raya, dengan penjualan yang bisa mencapai 50 porsi dalam sehari. Namun, saat ini hanya tersisa satu orang pembuat kue masubah di daerah Sungai Jingah, yang masih mempertahankan resep dan teknik tradisional dalam membuatnya.[2]
Menyadari pentingnya melestarikan warisan kuliner ini, Pemerintah Kota Banjarmasin menggelar pelatihan bagi para pelaku usaha kuliner agar kue Masubah tetap dikenal dan dapat dijadikan oleh-oleh khas daerah atau sajian di rumah makan. Pelatihan ini bertujuan agar generasi mendatang tetap dapat menikmati dan mengenal kue tradisional ini, sekaligus membuka peluang usaha bagi para pelaku usaha kuliner.[1]
Di era modern, beberapa inovasi mulai dikembangkan dalam pembuatan Masubah. Beberapa pembuat kue mencoba variasi rasa dengan menambahkan bahan-bahan seperti keju atau coklat, tetapi tetap menjaga keaslian resep aslinya. Dengan adanya pelestarian dan inovasi ini, diharapkan Masubah tetap menjadi salah satu ikon kuliner Banjarmasin yang memiliki nilai sejarah dan budaya tinggi.
Keunikan dan kepopuleran masubah
Kue masubah memiliki cita rasa yang manis dan tekstur yang lembut berkat bahan-bahan berkualitas seperti telur bebek, gula, vanili, mentega, tepung terigu, kayu manis, dan adas manis. Proses pembuatannya sama dengan kue lapis daerah lainnya, tetapi masubah memiliki cita rasa yang khas karena penggunaan rempah-rempah yang memberikan aroma harum dan cita rasa yang kaya.[3]