Sejarah
Menurut sejarahnya, pada zaman penjajahan Belanda, ketika para meneer Belanda akan mengadakan pesta, mereka biasanya memotong sapi untuk pesta tersebut.
Para meneer akan menyisakan bagian-bagian tertentu dari sapi yang dipotong untuk diberikan kepada para pekerja di antaranya adalah, bagian kepala, bagian dalam (paru-paru, usus, babat, dll.) serta iga.[2]
Oleh para pekerja tersebut, bagian-bagian itu diolah menjadi makanan yang beragam dan salah satu bagian yaitu iga diolah menjadi makanan yang khas, iga tersebut direbus atau dimasak selama kurang lebih dua jam, setelah itu dimasukkan bumbu atau rempah-rempah, seperti kunyit, lada, daun sereh, daun salam, dan santan kelapa. Maka jadilah makanan yang berkuah yang disebut "soto tangkar".[3]
Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Betawi hanya mampu membeli tangkar berupa potongan iga yang berdaging sedikit, karena bagian daging sapi yang lain sudah diambil oleh masyarakat penjajah Belanda.