TinutuanTinutuan, disajikan bersama ikan asinBubur Manado
Tinutuan (atau yang dikenal juga sebagai bubur Manado) merupakan hidangan tradisional Indonesia yang berasal dari wilayah Manado, Sulawesi Utara.[1][2] Ada pula pendapat yang menyebut makanan ini sebagai kuliner khas Minahasa, Sulawesi Utara.[3] Hidangan ini terdiri dari perpaduan beragam sayuran tanpa tambahan daging, sehingga kerap dianggap sebagai makanan yang dapat dinikmati oleh berbagai kalangan masyarakat.[4] Umumnya tinutuan disajikan sebagai menu sarapan lengkap dengan aneka pelengkap. Meski begitu, hidangan ini juga mudah ditemukan di rumah makan pada waktu selain pagi hari. Kepopulerannya tidak hanya terbatas di kalangan masyarakat Manado, tetapi juga digemari oleh banyak orang dari berbagai daerah. Namun, pada Januari 2025, tinutuan sempat mendapat penilaian kurang baik karena dimasukkan dalam daftar salah satu makanan terburuk di dunia versi Taste Atlas.[5][6][7][8]
Nama Tinutuan sendiri berasal dari bahasa Minahasa, yaitu kata tinu’tuan yang berarti ‘campuran’. Ada pula pendapat yang mengatakan istilah ini berasal dari kata tutu, yang berarti mencampur atau menggabungkan. Hal ini mengacu pada cara pembuatan bubur ini, di mana berbagai bahan alami dicampur menjadi satu, sehingga menciptakan perpaduan rasa dan tekstur yang kaya.[9]
Sejak kapan tinutuan menjadi makanan khas Kota Manado tidak diketahui secara pasti.[2] Beberapa sumber menyebutkan tinutuan mulai ramai diperdagangkan di beberapa sudut Kota Manado sejak tahun 1970,[3] sementara yang lain menyatakan sejak tahun 1981.[10] Jalan Wakeke kemudian ditetapkan sebagai sentra bubur Manado, memperkuat identitas kuliner ini sebagai bagian dari budaya kuliner kota Manado.[11] Asal-usul Bubur Manado sendiri dapat ditelusuri hingga awal abad ke-20, ketika hidangan ini mulai dikenal luas di kalangan masyarakat Minahasa. Awalnya, bubur ini populer sebagai makanan sarapan karena praktis, bergizi, dan mampu mengenyangkan. Seiring waktu, tinutuan tidak hanya menjadi santapan sehari-hari, tetapi juga bagian dari tradisi keluarga dan komunitas. Banyak keluarga Minahasa menyajikannya sebagai hidangan pagi, terutama saat berkumpul bersama, yang menunjukkan nilai kekeluargaan dan kebersamaan yang kuat dalam budaya lokal.[9]
Terdapat catatan yang menyebutkan bahwa tinutuan kemungkinan lahir dari upaya para zending atau penyebar agama Kristen untuk lebih dekat dengan masyarakat lokal. Mereka menciptakan hidangan yang sesuai dengan selera setempat dan memanfaatkan bahan-bahan yang mudah diperoleh.[12] Dalam beberapa kisah, tinutuan juga dipandang sebagai makanan yang berkembang pada masa-masa sulit, misalnya selama masa penjajahan, ketika akses terhadap daging terbatas. Masyarakat kemudian memanfaatkan bahan-bahan nabati untuk menciptakan makanan yang tetap bergizi dan mengenyangkan.[13][14]
Pemerintah Kota Manado melalui Dinas Pariwisata setempat pada tahun 2004[10] (ada juga yang mengatakan pada pertengahan tahun 2005)[2] menjadikan Kawasan Wakeke, Kecamatan Wenang, Kota Manado, sebagai lokasi wisata makanan khas tinutuan.[3][4]
Bahan
Pelengkap hidangan tinutuan
Bahan pembuatan tinutuan sederhana. Tinutuan merupakan campuran berbagai macam sayuran segar lokal yaitu labu kuning yang juga disebut sambiki, singkong, bayam, kangkung, daun gedi,[10]jagung, ubi jalar dan kemangi.[15] Seluruh bahan tersebut dimasak bersama dengan beras hingga menjadi bubur yang kental dan memiliki nilai gizi tinggi.[9]
Penyajian
Tinutuan ini biasanya disajikan untuk sarapan pagi.[10] Tinutuan dapat disajikan dengan ikan asin dan tahu goreng serta berbagai macam pelengkap hidangan seperti yang terlihat pada gambar.
Bubur Manado yang dijajakan di Kota Solo, Jawa Tengah
Tinutuan yang disajikan bersama mi disebut midal, di mana akhiran dal tersebut berasal dari kata pedaal yakni nama lain untuk tinutuan khusus di wilayah Minahasa Selatan yang merupakan wilayah subetnis Tountemboan di Minahasa.[4]
Tinutuan juga dapat dicampur dengan sup kacang merah yang disebut brenebon.[4] Tinutuan yang dicampur dengan brenebon ini kadang juga ditambahkan tetelan sapi, yang konon dipercaya orang yang memakannya dapat menarik "roda" (gerobak).[4] Pada komunitas Kristen di Manado, tinutuan yang dicampur dengan brenebon ini dapat juga disajikan khusus yaitu dengan ditambahkan kaki babi, biasanya pada acara khusus seperti acara tumpah makan yaitu pada hari pengucapan syukur di Manado.[4]
Filosofi dan nilai budaya
Bubur Manado, atau tinutuan, merupakan hidangan khas yang tidak hanya dikenal karena rasa dan kandungan gizinya, tetapi juga sarat makna budaya bagi masyarakat Minahasa. Hidangan ini terbuat dari beras yang dimasak bersama berbagai sayuran seperti jagung, bayam, kangkung, ubi jalar, labu, dan umbi-umbian lainnya, yang mencerminkan keragaman dan kebersamaan dalam masyarakat setempat. Setiap bahan yang digunakan memiliki makna tersendiri, melambangkan kesederhanaan, kekayaan alam, dan pemanfaatan sumber daya yang tersedia di sekitar lingkungan. Proses memasaknya yang relatif sederhana tetapi memakan waktu menggambarkan nilai kesabaran dan ketekunan yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tinutuan umumnya disajikan sebagai sarapan, memberikan energi dan nutrisi di awal hari, sekaligus menjadi bagian dari tradisi keluarga dan komunitas.[11] Menurut antropolog Jerman Gabriele Weichert, pemilihan bahan-bahan alami menunjukkan ketergantungan masyarakat Minahasa pada alam serta penghormatan terhadap nenek moyang.[12] Selain itu, bubur ini juga dianggap sebagai simbol persatuan dan toleransi, karena berbagai bahan yang berbeda dapat berpadu menjadi satu hidangan, sejalan dengan semboyan lokal "Torang Samua Basudara" yang berarti "kita semua bersaudara," menggambarkan hubungan sosial yang erat dan inklusif di antara masyarakat Manado.[16]
Cerita rakyat
Selain fakta sejarah, Bubur Manado atau Tinutuan juga kaya akan cerita legenda yang diwariskan dari generasi ke generasi di masyarakat Minahasa. Salah satu kisah yang paling terkenal menceritakan tentang seorang wanita tua bijak yang dikenal dengan sebutan Ina. Menurut cerita rakyat, Ina memperoleh resep Tinutuan melalui mimpi yang diberikan oleh dewa-dewa leluhur. Dalam mimpinya, para dewa menunjukkan cara mencampurkan berbagai bahan alami yang tumbuh subur di tanah Minahasa, sehingga tercipta hidangan yang lezat, bergizi, dan mampu memenuhi kebutuhan gizi masyarakat. Setelah terbangun, Ina segera mengumpulkan bahan-bahan yang muncul dalam mimpinya, seperti bayam, kangkung, jagung manis, labu kuning, dan ubi jalar. Ia memasaknya sesuai dengan petunjuk dari mimpinya, mencampurkan semuanya menjadi satu bubur yang kental dan penuh nutrisi. Ketika hidangan ini pertama kali disajikan kepada masyarakat, rasa dan kandungan gizinya membuat banyak orang kagum. Mereka tidak hanya menyukai cita rasa unik Tinutuan, tetapi juga merasa bahwa hidangan ini membawa keberkahan. Sejak saat itu, Tinutuan menjadi makanan yang tidak hanya populer di kalangan rakyat biasa, tetapi juga dipercaya memiliki nilai spiritual dan berkah dari para leluhur. Cerita ini menekankan hubungan antara makanan, alam, dan spiritualitas dalam budaya Minahasa.[9]
Selain legenda Ina, terdapat pula versi lain mengenai asal-usul Bubur Manado yang lebih bersifat praktis dan sosial. Cerita ini menyebutkan bahwa Tinutuan diciptakan oleh para petani Minahasa yang ingin menggabungkan hasil panen mereka agar bisa membuat makanan cukup untuk seluruh warga desa. Berbagai bahan lokal yang tersedia, seperti sayuran hijau, jagung, dan umbi-umbian, dicampur menjadi satu bubur. Pendekatan ini mencerminkan nilai gotong royong, kebersamaan, dan kepedulian terhadap sesama, yang menjadi ciri khas masyarakat Minahasa. Hal ini juga menjelaskan mengapa Tinutuan memiliki beragam bahan, karena setiap bahan mencerminkan hasil bumi lokal yang melimpah dan diolah dengan cara sederhana namun penuh makna.[9]