Ekonomi Azerbaijan dicirikan oleh korupsi dan ketimpangan.[11] Kekayaan minyak negara tersebut telah memperkuat stabilitas rezim Ilham Aliyev dan memperkaya elite penguasa di Azerbaijan.[12][13][14][15] Kekayaan minyak Azerbaijan telah memungkinkan negara tersebut untuk menjadi tuan rumah acara internasional mewah, serta melakukan upaya lobi besar-besaran di luar negeri.[16][17]
Dalam skema pencucian uang Azerbaijan, sebesar $2,9 miliar dibayarkan kepada politikus asing dan elite Azerbaijan oleh perusahaan yang terkait dengan penguasa Azerbaijan Ilham Aliyev, kementerian pemerintah, dan Bank Internasional Azerbaijan antara tahun 2012 dan 2014.[18]
Korupsi merajalela di bidang pendidikan, kesehatan, dan bisnis secara umum. Suap, nepotisme, dan kronisme sudah menjadi hal yang lumrah.[4] Pemerintah Aliyev di Azerbaijan membatasi akses publik terhadap informasi mengenai pemilik dan pemegang saham perusahaan-perusahaan Azerbaijan.[19]
Sejarah
Setelah pembubaran Uni Soviet pada akhir 1991, masa transisi di Azerbaijan menjadi rumit dan berlarut-larut.[20] Hal ini disebabkan oleh ketidakmampuan elite politik nasional untuk memastikan keberlangsungan lembaga-lembaga publik utama selama periode 1991–1993. Pada saat yang sama, Azerbaijan harus menghadapi konflik militer dengan Armenia terkait wilayah Nagorno-Karabakh.[21] Pada 1993, akibat invasi Armenia, Azerbaijan kehilangan 20% wilayahnya. Di tahun yang sama, Dewan Keamanan PBB mengeluarkan empat resolusi (822, 853, 874, dan 884) yang mengecam penggunaan kekuatan terhadap Azerbaijan dan pendudukan wilayahnya. PBB menuntut agar Armenia segera menarik pasukannya secara penuh dan tanpa syarat.[22]
Akibat perang ini, lebih dari satu juta pengungsi dan orang-orang yang telantar di dalam negeri (IDP) membanjiri Azerbaijan, yang memperburuk situasi sosial dan ekonomi negara. Peristiwa tragis ini memaksa pemerintah Azerbaijan untuk memprioritaskan penanganan IDP dengan menyediakan tempat tinggal dan kebutuhan dasar mereka, ketimbang membangun kembali lembaga-lembaga publik. Runtuhnya Uni Soviet juga menyebabkan perekonomian Azerbaijan lumpuh. Karena itu, pemerintah memfokuskan seluruh sumber daya finansial dan politiknya untuk melindungi para IDP sekaligus melawan invasi Armenia di panggung hukum internasional.[20]
↑Öge, Kerem (2014-10-21). "The Limits of Transparency Promotion in Azerbaijan: External Remedies to 'Reverse the Curse'". Europe-Asia Studies. 66 (9): 1482–1500. doi:10.1080/09668136.2014.956448. S2CID155078060.
↑Altstadt, Audrey L. (1997), Parrott, Bruce; Dawisha, Karen (ed.), "Azerbaijan's struggle toward democracy", Conflict, Cleavage, and Change in Central Asia and the Caucasus, Democratization and Authoritarianism in Post-Communist Societies, Cambridge University Press, hlm.110–155, ISBN978-0-521-59731-9
↑Elmar Mammadyarov. Statement by Foreign Minister Elmar Mammadyarov at the First Meeting of the Organization of Islamic Cooperation (OIC) Contact Group on the aggression of Armenia against Azerbaijan.