ENSIKLOPEDIA
Bahasa Bali Kuno
| Bahasa Bali BPS: 0096 0
Basa Bali ᬩᬲᬩᬮᬶ | |||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
Basa Bali (bahasa Bali) ditulis dalam aksara Bali | |||||||||||||
| Pengucapan | [ˈbasə ˈbali] (umum, baku) [ˈbaso ˈbali] (dialek selatan, tengah, barat, dan Bangli) [ˈbasa ˈbali] (dialek Bali Aga/Mula)[1] | ||||||||||||
| Dituturkan di | serta negara-negara dengan diaspora Bali | ||||||||||||
| Wilayah | dan wilayah transmigrasi lainnya di Indonesia | ||||||||||||
| Etnis | Bali Bali Aga/Mula Loloan Tionghoa Bali | ||||||||||||
Penutur | (3,3 juta per 2000)
Perincian data penutur Jumlah penutur beserta (jika ada) metode pengambilan, jenis, tanggal, dan tempat.[2]
| ||||||||||||
| |||||||||||||
Bentuk baku | |||||||||||||
| Dialek | |||||||||||||
| Alfabet Latin (alfabet bahasa Bali) Aksara Bali | |||||||||||||
| Status resmi | |||||||||||||
| Diatur oleh | Lembaga Bahasa, Aksara dan Sastra Bali[7] | ||||||||||||
| Kode bahasa | |||||||||||||
| ISO 639-2 | ban | ||||||||||||
| ISO 639-3 | ban | ||||||||||||
| Glottolog | bali1278[8] | ||||||||||||
| IETF | ban | ||||||||||||
| BPS (2010) | 0096 0 | ||||||||||||
|
| |||||||||||||
| Lokasi penuturan | |||||||||||||
Bahasa Bali merupakan bahasa pertama maupun bahasa mayoritas
Bahasa Bali merupakan bahasa mayoritas dengan bahasa lain juga digunakan atau sebagai bahasa kedua seperti bahasa Jawa, Sasak dan Melayu
Bahasa Bali merupakan bahasa minoritas | |||||||||||||
Penuturan bahasa Bali di Lombok bersamaan dengan bahasa Sasak | |||||||||||||
|
Peta interaktif yang menunjukkan persebaran penuturan bahasa Bali di wilayah Pulau Bali, Nusa Penida, Pulau Lombok dan sekitarnya. Tekan peta untuk mengakses peta interaktif. | |||||||||||||
| Koordinat: 8°21′S 115°5′E / 8.350°S 115.083°E / -8.350; 115.083 | |||||||||||||
|
Artikel ini mengandung simbol fonetik IPA. Tanpa bantuan render yang baik, Anda akan melihat tanda tanya, kotak, atau simbol lain, bukan karakter Unicode. Untuk pengenalan mengenai simbol IPA, lihat Bantuan:IPA.
| |||||||||||||
| L • B • PW | |||||||||||||


ProyekWiki Bahasa
Artikel ini menggunakan peta yang dihasilkan dari OpenStreetMap dan juga jejaring peta (mapframe) yang dibuat oleh kontributor Wikipedia. Apabila Anda menemukan kesalahan informasi, galat, maupun kendala teknis lainnya dalam data peta, silahkan laporkan di sini. Apabila Anda tertarik dalam pengembangan proyek pemetaan bahasa, silakan bergabung ke ProyekWiki kami. Proyek ini sudah menghasilkan sebanyak 659 artikel bahasa dengan peta interaktif yang dapat diakses dan digunakan oleh para pembaca.

Bahasa Bali (Endonim: Basa Bali, Aksara Bali: ᬩᬲᬩᬮᬶ, pengucapan dalam IPA: [ˈbasə ˈbali], atau Bhāṣā Bali, ᬪᬵᬱᬵᬩᬮᬶ)[12] adalah bahasa yang termasuk kedalam kelompok Melayu-Polinesia dalam rumpun bahasa Austronesia yang dituturkan oleh sekitar 3.3 juta jiwa pada tahun 2000 yang utamanya terkonsentrasi di pulau Bali dan juga tersebar di Nusa Penida, Lombok bagian barat, dan Jawa bagian timur,[13] hingga Sumatra bagian selatan dan Sulawesi.[14] Diperkirakan bahwa pada tahun 2011, terdapat kurang dari 1 juta orang yang masih menggunakan bahasa Bali sebagai bahasa utama mereka di Bali.
Bahasa Bali juga termasuk kedalam kelompok rumpun bahasa Bali-Sasak-Sumbawa yang berarti bahasa ini memiliki hubungan kekerabatan yang sangat dekat dengan Bahasa Sasak di pulau Lombok dan Bahasa Sumbawa di pulau Sumbawa.
Di Lombok, bahasa Bali terutama dipertuturkan di sekitar kota Mataram, sedangkan di pulau Jawa bahasa Bali terutama dipertuturkan di beberapa desa di kabupaten Banyuwangi. Selain itu bahasa Osing, yaitu dialek bahasa Jawa orang Osing Banyuwangi, juga menyerap banyak kata-kata Bali. Misalkan sebagai contoh kata osing yang berarti “tidak” diambil dari bahasa Bali tusing. Di daerah-daerah transmigrasi orang Bali yang signifikan seperti di Sulawesi dan Lampung bahasa Bali juga masih tetap digunakan.
Bahasa Bali dipertuturkan oleh kurang lebih 3,3 juta jiwa berdasarkan data sensus tahun 2000 bahasa ini digolongkan sebagai bahasa yang "tidak terancam" oleh Glottolog.[15] Kebanyakan penutur bahasa Bali juga menuturkan bahasa Indonesia sebagai bahasa penghubung antar etnis.
Tingkatan bahasa

Bahasa Bali seperti halnya Bahasa Jawa dan Bahasa Sasak juga memiliki tingkatan penggunaannya, misalnya ada yang disebut Bali Alus, Bali Madya, dan Bali Kasar. Hal ini terjadi karena pengaruh bahasa Jawa menyebar ke Bali sejak zaman Majapahit menguasai Bali.
- Basa Alus. Bahasa Alus atau bahasa singgih merupakan bahasa yang digunakan untuk menghormati atau meninggikan. Bahasa Bali Halus memiliki beberapa jenis sebagai berikut:
- Basa Bali Alus Singgih (a.si), digunakan ketika berbicara kepada sulinggih (brahman), penguasa dunia, pejabat tinggi, dan orang-orang penting.
- Basa Bali Alus Madia (a.ma), dipakai ketika berbicara dengan bahasa lembut, tetapi tidak diketahui apakah pembicara harus meninggikan atau merendahkan nada bicaranya.
- Basa Alus Mider (a. mi), merupakan bahasa halus yang menghiasi penggunaannya ketika berbicara kepada ras atas maupun ras bawah yang seharusnya dihormati.
- Basa Bali Alus Sor (a. so), dipakai oleh orang pada waktu bercerita atau menyebut dirinya apabila sedang berbicara dengan sanak saudara yang dihormati. Basa alus sor digunakan untuk merendahkan diri ketika berbicara kepada ras yang lebih tinggi atau seseorang yang seharusnya dihormati. Kata-kata yang digunakan untuk berbicara adalah kata-kata yang lembut.
- Bali Mider / Madia, digunakan saat mengajar di banjar, sekolah, dan tempat lain yang banyak penduduknya. Bahasa ini bukan bahasa yang sombong atau kasar, akan tetapi digunakan untuk menghormati orang-orang yang patut dihormati dan orang-orang yang rendah hati (jaba/kawula) serta orang-orang yang tidak dikenal.
- Bali Rendah atau Kapara, digunakan saat berbicara dengan teman, saudara, dan orang yang sudah dikenal sejak zaman dahulu. Bahasa Bali Halus memiliki beberapa jenis sebagai berikut:
- Basa Bali Sor, adalah bagian dari bahasa Bali rendah yang digunakan untuk berbicara kepada orang yang dipanggil; kelas bawah, sesama orang asing, atau persahabatan dekat atau saat sedang berkelahi/adu mulut dengan lawan bicara.
- Basa kasamén/kapara (b.s), kata lingganipun dari sami, mendapat awalan ka- diikuti akhiran -an menjadi kasamian, berpasangan dengan kasamén. Menjadi bahasa kasamén yang berarti bahasa rendah yang dapat digunakan oleh semua orang dan tidak bermaksud meninggikan atau merendahkan.
- Basa Bali Kasar (b.k), Bahasa kasar ini juga merupakan bentuk bahasa rendah, yang digunakan terhadap teman dekat yang sudah akrab, tingkatan bahasa ini sering digunakan ketika sedang berkelahi/adu mulut, tingkatkan ini tidak dianjurkan digunakan untuk orang yang belum/baru dikenal, tingkatkan ini sebisa mungkin dihindari penggunanya tapi masih banyak yang memakainya terutama oleh kalangan anak-anak muda, berbeda dengan bahasa Bali halus yang kosakatanya sama di setiap wilayah, pemakaian kosakata dalam bahasa kasar dapat berbeda-beda tergenang dialek di masing-masing daerah atau kabupaten/kota di Bali.[16]
Klasifikasi
Bahasa Bali termasuk dalam cabang Melayu-Polinesia dari rumpun bahasa Austronesia. Dalam rumpun Melayu-Polinesia, bahasa Bali berada di subcabang Bali-Sasak-Sumbawa.[17] Terdapat tiga dialek utama dari bahasa Bali, yakni bahasa Bali yang dituturkan di pegunungan dan dataran tinggi, bahasa Bali dataran rendah, dan penuturan di Nusa Penida.[15]
Demografi
Menurut sensus tahun 2000, bahasa Bali dituturkan oleh sekitar 3,3 juta orang di Indonesia yang utamanya terkonsentrasi di pulau Bali dan area sekitarnya.
Pada 2011, diperkirakan hanya terdapat tidak lebih dari 1 juta orang yang menuturkan bahasa Bali. Hal ini dikarenakan masyarakat pada wilayah perkotaan hanya mengajarkan bahasa Indonesia, atau bahkan bahasa Inggris pada anak-anak mereka, serta penggunaan bahasa Bali dalam media massal terlah menghilang. Bentuk tertulis daribahasa Bali semakin asing bagi penutur bahasa itu sendiri dan sebagian besar masyarakat Bali menggunakan bahasa Bali hanya sebagai alat komunikasi lisan, sering kali mencampurkannya dengan bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari. Namun di daerah transmigrasi di luar Pulau Bali, bahasa Bali banyak digunakan dan diyakini berperan penting dalam kelangsungan bahasa tersebut.[18]
Fonologi
Vokal
Terdapat 6 vokal di dalam kotak fonem bahasa Bali
| Depan | Madya | Belakang | |
|---|---|---|---|
| Tertutup | /i/ | /u/ | |
| Tengah | /e/ | /ə/ | /o/ |
| Terbuka | /a/ |
Ejaan formal dari bahasa Bali membuat fonem /a/ dan /ə/ ditulis sebagai ⟨a⟩. Walaupun demikian, ⟨a⟩ sering kali dilafalkan sebagai [ə] hanya saat terletak pada akhir kata, serta pada awalan ma-, pa-, dan da-.[19]
Konsonan
Ada 18 konsonan di dalam kotak fonem Bahasa Bali:
| Dwibibir | Rongga gigi |
Langit langit |
Lang. belakang |
Celah suara | ||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Sengau | m | n | ɲ | ŋ | ||||||
| Hentian/Gesek | p | b | t | d | tʃ | dʒ | k | g | ||
| Geseran | s | h | ||||||||
| Hampiran | w | l | j | |||||||
| Getar | r | |||||||||
Tergantung dialeknya, fonem /t/ dapat dilepaskan sebagai konsonan hentian rongga-gigi maupun tarik-belakang. Hal ini sangat berbeda ketimbang banyak bahasa di Indonesia, termasuk bahasa Indonesia, yang mempunyai konsonan dentalik /t/ dengan alofoni rongga-gigi.[14]
Alofon
Sebuah ciri khas dan menjadi keistimewaan bahasa Bali ialah bahwa fonem eksplosif tak bersuara /t/ dilafalkan sebagai [t] pada posisi akhir, tetapi pada posisi awal dan tengah dilafalkan sebagai [ʈ] (t retrofleks).
Vokal /a/ pada posisi akhir terbuka dilafalkan sebagai [ĕ]. Misalkan kata Kuta, nama pantai termashyur di Bali, dilafalkan sebagai [k'uʈĕ].
Sukukata
Seperti bahasa Austronesia lainnya, bahasa Bali juga cenderung dengan kata-kata dwisukukata dan berbentuk KVKVK. Namun dalam mereduplikasi sebuah sukukata monosilabik berbentuk KVK, maka dalam bahasa Bali ini biasanya menjadi KVKKVK berbeda dengan bahasa Melayu dan Jawa:
| Melayu | Bali | Jawa |
|---|---|---|
| kukus | kuskus | dang (bentuk berbeda) |
| ngengat | ngetnget | ngĕngĕt |
Kekerabatan
Bahasa Bali dalam keluarga bahasa Austronesia sering ditengarai paling dekat berkerabat dengan bahasa Jawa. Namun hal ini tidaklah demikian. Bahasa Bali paling dekat dengan bahasa Sasak dan beberapa bahasa di pulau Sumbawa bagian barat. Kemiripannya dengan bahasa Jawa hanya karena pengaruh kosakata atas bahasa Jawa karena aktivitas penaklukan Jawa pada masa lampau, terutama pada abad ke-14 Masehi. Bali ditaklukkan oleh Gajah Mada pada tahun 1343 Masehi. Bahkan dalam keluarga Austronesia, secara fonologis bahasa Bali lebih mirip bahasa Melayu daripada bahasa Jawa. Namun fonem /r/ pada posisi akhir dalam bahasa Melayu, sering kali menjadi /h/ pada bahasa Bali. Hal ini bisa terbukti dengan senarai perbandingan kosakata dasar bahasa Melayu, Bali, Jawa Kuno dan Jawa Baru:
| Melayu | Bali | Jawa Kuno | Jawa Baru |
|---|---|---|---|
| dua | dua | rwa | ro, loro |
| jalan | jalan | dalan | dalan |
| dengar | dingěh | rĕngö | rungu |
| jarum | jaum | dom | dom |
| jauh | joh | adwah | adoh |
| ada | ada | hana | ana |
| beli | běli | wĕli, tuku | tuku |
| jari, jeriji | jriji | (?) | driji |
| betis, kaki | batis, bais | jöng, suku | sikil |
| hidup | idup | hurip | urip |
| air, ayer | yèh,toye | wway | we, banyu |
| buah | buah, woh | wwah | woh |
| di | ring | ri, ring | i, ing |
| telur | taluh | antiga | tigan, ĕndhog |
| jemur | jěmuh | (?) | pepe |
| bunga | bunga | kambang sĕkar | kĕmbang sĕkar |
| nasi | nasi | sĕga sĕkul | sĕga sĕkul |
| hujan | ujan | hudan | udan |
- Perbandingan Bahasa Bali dan Bahasa Banjar
| Melayu | Bali | Banjar |
|---|---|---|
| telur | taluh | hintalu |
| kaki, betis | batis, bais | batis |
| perahu | jukung | jukung |
| bulus | bedwang | bidawang |
| hujan | ujan | ujan |
| jari | jriji | jariji |
| dengar | dingěh | dangar |
| jemur | jěmuh | jamur |
| jalan | jalan | jalan |
| hidup | idup | hidup |
| dua | dua,kalih | dua |
Pengaruh bahasa Jawa
Bahasa Bali banyak terpengaruh bahasa Jawa, terutama bahasa Jawa Kuno dan bahasa Sanskerta. Kemiripan dengan bahasa Jawa terutama terlihat dari tingkat-tingkat bahasa yang terdapat dalam bahasa Bali yang mirip dengan bahasa Jawa. Maka tak mengherankanlah jika bahasa Bali halus yang disebut basa Bali Alus Mider mirip dengan bahasa Jawa Krama. Banyak kata-kata Bali yang halus diambil dari bahasa Jawa:
| Melayu | Bali | Jawa |
|---|---|---|
| sudah | sampun | sampun |
| meninggal | seda | sedå |
| datang | rauh | rawuh |
| dari | saking | saking |
| arti | teges | tĕgĕs |
| cinta | tresna | tresnå |
| kalau | yen | yen |
| Indonesia | Bali (Andap) | Kognat
Jawa Kuno |
Tingkatan pada
Jawa Baru |
Bali (Alus) | Kognat
Jawa Kuno |
Tingkatan pada
Jawa Baru |
|---|---|---|---|---|---|---|
| lagi | buin | ? | - | malih | malih | tinggi |
| semua | makejang | ? | - | sami | sami | tinggi |
| sudah | suba | ? | - | sampun | sampun | tinggi |
| dan | muah | muwah | rendah | miwah | miwah | tinggi |
Kosakata khas Bali
Di atas sudah diapaparkan kosakata yang mirip dengan bahasa Melayu dan bahasa Jawa. Sekarang kosakata khas Bali dipaparkan:
| Melayu | Bali | Jawa |
|---|---|---|
| kau (kasar) | cai untuk laki-laki/nyai untuk wanita (kasar) | kowe, sirå, rikå |
| sungai | tukad | sungay (Jawa Kuno) kali lepen |
| yang | sane | ingkang, kang, sing |
| dukun, tabib | balian | dhukun |
Konsep geografis
Berbeda dengan banyak suku bangsa di dunia, tetapi masih mirip dengan suku bangsa penutur bahasa Austronesia lainnya, orang Bali dalam menentukan arah berorientasi bukan pada arah mata angin yang pasti namun pada letak kawasan geografis, pada kasus Bali ini pada letak gunung dan laut. Oleh karena itu arah mata angin bisa berubah-ubah sesuai tempatnya.
Kaja berarti arah menuju gunung. Oleh karena itu, terjemahan istilah 'kaja' dalam Bahasa Melayu adalah 'Utara' untuk masyarakat Bali Selatan, sementara terjemahannya untuk masyarakat Bali Utara, khususnya Buleleng, adalah 'Selatan'. Kelod berarti arah menuju laut. Berbalik dengan istilah 'kaja' di atas, jadi stilah 'kelod' dalam Bahasa Melayu adalah 'Selatan' untuk masyarakat Bali Selatan, sementara terjemahannya untuk masyarakat Bali Utara, khususnya Buleleng, adalah 'Utara'. Kauh berarti Barat, dan kangin berarti Timur. Hal ini sama untuk masyarakat Bali Selatan dan Bali Utara. Perbedaan tata-cara menyebut utara dan selatan ini sering menyebabkan kesalahpahaman jika orang Bali Selatan bertanya dalam Bahasa Bali kepada orang Bali Utara, karena perbedaan acuan. Acuan 'gunung' yang sering dipakai adalah titik pusat pulau Bali yaitu bagian pegunungan Batur dan Gunung Agung.
Tata bahasa
Susunan kalimat dalam bahasa Bali mirip dengan yang ada dalam bahasa Indonesia, serta infleksi morfologi yang terjadi pada verba dan nominanya sangat sedikit dan serupa. Meskipun demikian, morfologi derivasinya cukup luas dan imbuhan dapat ditambahkan untuk menunjukan artikel terhingga maupun tak terhingga, serta menunjukkan kasus posesiva.[19]

Variasi/dialek
Bahasa Bali memiliki variasi sejarah (waktu) dan variasi geografis (ruang). Dari berbagai prasasti yang dikeluarkan pada masa sebelum pemerintahan Raja Anak Wungsu (abad ke-10) diketahui ada varian bahasa Bali yang biasa disebut sebagai bahasa Bali Kuno. Kajian mengenai bahasa Bali Kuno pertama kali dilakukan oleh Roelof Goris pada tahun 1950-an dan kemudian dilanjutkan pada tahun 1970-an. Kamus Bahasa Bali Kuno - bahasa Indonesia telah dirilis oleh Kemendikbud pada tahun 1975.[21]
Suatu dialek yang masih digunakan saat ini adalah bahasa suku Bali Aga, dituturkan di beberapa desa di sekitar Danau Batur dan di wilayah lainnya.
Selain itu, bahasa masyarakat Bali umum (nonvariasi) adalah "bahasa Bali Kapara" atau Bali Lumbrah yang dipakai oleh mayoritas orang Bali sekarang.
Dialek Dataran Rendah
Varietas dataran rendah dituturkan di seluruh dataran dan distrik pesisir yang didefinisikan oleh inovasi fonologis, morfologis, dan leksikal dan terutama dalam elaborasi register; sistem tingkat tutur yang berkembang melalui kontak dengan Bahasa Jawa Kuno dan yang tidak dimiliki oleh Bali Aga (varietas dataran tinggi).[14] Karena inovasi bersama akibat kontak ini, kelompok dataran rendah umumnya diperlakukan sebagai standar dasar bahasa Bali; Pada kongres standardisasi tahun 1974, varietas Buleleng (ibu kotanya Singaraja) dan Klungkung direkomendasikan sebagai model, sebagian karena Singaraja telah lama berfungsi sebagai pusat administrasi, pendidikan, dan sastra pada era kolonial.[14]
Varietas dataran rendah berbeda satu sama lain, seringkali mengikuti garis distrik regional sebelumnya (Klungkung, Bangli, Karangasem, Buleleng, Gianyar, Badung, Tabanan, dan Jembrana) dengan variasi yang terkadang terjadi hanya dalam beberapa kilometer.[14] Pembagian internal terbesar adalah antara varietas utara dan timur (Buleleng, Klungkung, dan Karangasem) dan varietas selatan wilayah Denpasar Raya. Perbedaan gramatikal yang menonjol adalah bahwa varietas Denpasar cenderung kehilangan atau menetralkan sufiks verbal dan nominal yang dipertahankan sepenuhnya oleh varietas utara dan timur.[14]
Secara fonologis, varietas Dataran Rendah yang dijelaskan Clynes (1995) untuk Singaraja memiliki delapan belas konsonan dan enam vokal. Hentian apikalnya /t/ bersifat alveolar dan bukan dental, sebuah ciri yang membedakan bahasa Bali dari banyak bahasa Indonesia barat lainnya, termasuk bahasa Indonesia di mana /t/ bersifat dental.[14] Selain itu, /k/ di akhir kata biasanya direalisasikan sebagai hentian glotal, /h/ dihilangkan di awal suku kata dalam percakapan sehari-hari, tekanan jatuh pada suku kata terakhir, dan ⟨a⟩ di akhir kata secara ortografis diucapkan sebagai schwa [ə].[14]
Dialek Dataran Tinggi

Dialek dataran tinggi, juga dikenal sebagai dialek Bali Aga, adalah dialek bahasa Bali yang dituturkan oleh masyarakat Bali Aga di daerah pegunungan dan bagian utara Bali, terutama di pegunungan Kintamani, dan kabupaten-kabupaten di sekitarnya seperti Bangli, Buleleng, dan Karangasem, serta di Nusa Penida.[22]
Secara keseluruhan, ada dua sub-dialek dataran tinggi yang berbeda dari ragam yang digunakan di wilayah tersebut. Sub-dialek tersebut adalah Dialek Nusa Penida, yang sebagian besar digunakan dalam Nusa Penida, dan dialek Kapara (juga disebut sebagai Bali Kapara) terutama digunakan di Desa Sembiran, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng dengan perkiraan 4,883 pengguna.[23] Dialek Nusa Penida dianggap sebagai dialek yang berbeda, namun ada beberapa indikasi bahwa dialek Nusa Penida mungkin merupakan sub-dialek dari dialek dataran tinggi. Menurut Jendra, dkk. (1997), dialek Nusa Penida dan Highland memiliki pola fonologis yang sama seperti yang dijelaskan di bawah ini:[24]
- adanya /h/ di tengah kata, misalnya di /bəhas/;[1]
- adanya /-ñə/ dan /-cə/ imbuhan atau pada posisi kata akhir sebagai alofoni dari /-ə/;
- Intonasi ucapan penutur cenderung memiliki tempo cepat dan tekanan lebih keras
Namun, ada perbedaan penting lainnya antara kedua dialek tersebut, yaitu tidak adanya atau pengurangan distribusi fonem /a/ di posisi akhir kata.
Dialek Nusa Penida
Saat ini, dialek Nusa Penida banyak digunakan hanya di Nusa Penida di Kabupaten Klungkung. Namun, penting untuk dicatat bahwa tidak semua masyarakat di Nusa Penida menggunakan dialek Nusa Penida. Ada beberapa kelompok masyarakat yang berkomunikasi menggunakan dialek yang berbeda. Di pulau Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan, yang terletak di sebelah Nusa Penida, serta di sebagian kecil Nusa Penida yang dekat dengan pulau-pulau tersebut, terdapat dialek yang berbeda dan cukup unik dari dialek Nusa Penida. Salah satu perbedaan yang paling mencolok adalah pada kata-kata seperti éda (kamu) dan kola (saya) dalam dialek Nusa Penida. Penutur dialek Nusa Lembongan menggunakan kata-kata seperti cai atau ci (kamu) dan cang (saya). Contoh lain adalah əndək (dialek Nusa Penida) dan tusing atau sing (dialek Nusa Lembongan), géléng-cenik, hangkén-kénkén, dan sebagainya. Hanya 13 dari 16 desa di Nusa Penida yang menggunakan dialek Nusa Penida. Desa-desa lainnya menggunakan dialek Nusa Lembongan atau dialek yang menyerupai bahasa Bali Klungkung daratan.[24]
Dialek Nusa Penida juga digunakan di luar Nusa Penida, terutama karena migrasi penuturnya setelah letusan Gunung Agung pada tahun 1963. Penutur penting berpindah ke Sumatera bagian selatan, khususnya ke Bandar Lampung, Palembang, Mesuji, dan Lampung Selatan.
Dialek Lombok

Bahasa Bali di Lombok merupakan salah satu dialek dari bahasa Bali di Bali. Berdasarkan pengelompokan daerah pengamatan, bahasa ini terdiri atas dua kelompok dialek, yaitu dialek Pl (dialek pencilan) dan dialek Mt (dialek metro). Perkembangannya, kedua dialek tersebut mendapat pengaruh yang cukup kuat dari bahasa Sasak atau pun bahasa daerah lain yang ada di Pulau Lombok. Inovasi leksikal bahasa Bali di Lombok ditemukan dalam dua bentuk, yaitu inovasi internal dan inovasi eksternal. Inovasi internal dapat berupa bentuk Perubahan bunyi, penambahan bunyi, dan penghilangan bunyi. Adapun inovasi eksternal, bahasa Bali sangat kuat dipengaruhi oleh bahasa Sasak. Persebaran unsur pungutan dari bahasa Sasak di dalam kedua dialek itu terjadi secara tidak merata. Ketidakmerataan itu telah memperlihatkan bahwa dalam dialek yang terpencil memperlihatkan pengaruh unsur pungutan bahasa Sasak frekuensinya lebih tinggi dibandingkan dengan keterpengaruhannya pada daerah yang tidak terpencil. Inovasi internal yang dialami daerah dialek Pl yang merupakan daerah pencilan memperlihatkan inovasi internalnya rendah. Di sisi lain, pada daerah dialek Mt yang dekat dengan pusat kegiatan ekonomi, pemerintahan, dan kebudayaan, memperlihatkan inovasi internalnya tinggi.[25]
Sistem penulisan
Bahasa Bali memiliki dua sistem penulisan, yakni aksara Bali dan alfabet Latin.
Aksara Bali

Catatan: huruf-huruf disini disusun sesuai dengan urutan Hanacaraka.
Aksara Bali (Aksara Bali, ᬅᬓ᭄ᬱᬭᬩᬮᬶcode: ban is deprecated ), yang juga disusun sesuai dengan Hanacaraka (ᬳᬦᬘᬭᬓcode: ban is deprecated ), merupakan sistem penulisan sejenis abugida yang berasal dari aksara Brahmi di India. Bukti paling awal dari aksara ini berasal dari abad ke-9 Masehi.[26] Pada masa sekarang, aksara Bali tidak digunakan secara massal dan hanya sedikit penutur bahasa Bali yang benar-benar paham cara menggunakannya.[27]
Alfabet bahasa Bali
Sekolah-sekolah serta media komunikasi tertulis yang menggunakan bahasa Bali pada masa kini sering kali menggunakan sistem penulisan berbasis alfabet Latin yang disebut sebagai Tulisan Bali.[28]
Galeri
- Bahasa Bali yang ditulis dalam aksara Lontar
- Papan petunjuk di Pura Puseh, Batuan, Bali
- Salah satu halaman Injil yang ditulis dalam aksara Bali
- Klungkung Regent's Office sign
- Percobaan untuk menumbuhkan kembali aksara Lontar
Rujukan
- 1 2 Tryon, Darrell T. (June 2011). Comparative Austronesian Dictionary: An Introduction to Austronesian Studies (dalam bahasa Inggris). De Gruyter. hlm. 497. ISBN 978-3-11-088401-2.
- ↑ Ethnologue (dalam bahasa Inggris) (Edisi 25, 19), Dallas: SIL International, ISSN 1946-9675, OCLC 43349556, OL 20243680W, Wikidata Q14790
- ↑ de Casparis 2021, hlm. 25.
- ↑ Tryon & Dutton 2010, hlm. 155.
- ↑ "MORFOLOGI INFLEKSIONAL DAN DERIVASIONAL PADA BAHASA BALI STANDAR". ResearchGate.
- ↑ "Bahasa Bali Kepara Atau Bahasa Bali Lumrah | PDF".
- ↑ "Peraturan Daerah Provinsi Bali No 1 Tahun 2018 Tentang Bahasa, Aksara, Dan Sastra Bali". Article 12, Regional Regulation No. 1 Tahun 2018.
- ↑ Hammarström, Harald; Forkel, Robert; Haspelmath, Martin, ed. (2023). "Bahasa Bali". Glottolog 4.8. Jena, Jerman: Max Planck Institute for the Science of Human History. ; ;
- ↑ "UNESCO Interactive Atlas of the World's Languages in Danger" (dalam bahasa bahasa Inggris, Prancis, Spanyol, Rusia, and Tionghoa). UNESCO. 2011. Diarsipkan dari asli tanggal 29 April 2022. Diakses tanggal 26 Juni 2011. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
- ↑ "UNESCO Atlas of the World's Languages in Danger" (PDF) (dalam bahasa Inggris). UNESCO. 2010. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 31 Mei 2022. Diakses tanggal 31 Mei 2022.
- ↑ "Bahasa Bali". www.ethnologue.com (dalam bahasa Inggris). SIL Ethnologue.
- ↑ "Sor Singgih Basa Bali". ladra-bali.blogspot.com. Diakses tanggal 10 May 2019.
- ↑ Ethnologue.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 Clynes, Adrian (1995). Topics in the Phonology and Morphosyntax of Balinese (PhD thesis). Australian National University. doi:10.25911/5d77865d38e15. hdl:1885/10744.
- 1 2 "Glottolog 4.3 - Balinese". glottolog.org. Diakses tanggal 2021-04-27.
- ↑ "Sor Singgih Basa Bali". ladra-bali.blogspot.com. Diakses tanggal 10 May 2019.
- ↑ Adelaar, K. Alexander (2005). "The Austronesian languages of Asia and Madagascar: a historical perspective". Dalam Adelaar, K. Alexander; Himmelmann, Nikolaus (ed.). The Austronesian languages of Asia and Madagascar. London: Routledge. hlm. 1–42.
- ↑ Ni Komang Erviani (30 Maret 2012). "Balinese Language 'Will Never Die'". The Jakarta Post (dalam bahasa Inggris).
- 1 2 Spitzing, Günter (2002). Practical Balinese: Phrasebook and Dictionary. Rutland VT: Tuttle Publishing. hlm. 22.
- ↑ Clynes, Adrian (1994-12-31). Dutton, Tom; Tryon, Darrell T. (ed.). Old Javanese influence in Balinese: Balinese speech styles. DE GRUYTER MOUTON. hlm. 141–180. doi:10.1515/9783110883091.141. ISBN 978-3-11-012786-7.
- ↑ Granoka, I.W.O; et al. (1975). Kamus Bali Kuno - Indonesia. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ↑
- ↑
- 1 2 I Ketut Serawan. ""Basa Nosa", Bahasa Bali Dialek Nusa Penida yang Mirip Dialek Bali Aga?".
- ↑ https://www.neliti.com/id/publications/500940/inovasi-leksikal-bahasa-bali-di-lombok-kajian-dialektologi
- ↑ Beratha, Ni Luh Sutjiati (1992). Evolution of Verbal Morphology in Balinese (PhD thesis). Australian National University. doi:10.25911/5d7786429c1ff. hdl:1885/109364.
- ↑ "Balinese (Basa Bali)". Omniglot. Diakses tanggal 2021-01-30.
- ↑ Eiseman, Fred B. Jr. "The Balinese Languages". Bali Vision. Diarsipkan dari asli tanggal 2010-08-19.
Pranala luar
- Relasi Kekerabatan Bahasa Banjar dan Bahasa Bali: Tinjaunan Linguistik Historis Komparatif
- Ucapan dan contoh perkataan dalam bahasa Bali — kanal I Love Languages di Youtube
| Internasional | |
|---|---|
| Nasional | |
| Lain-lain | |


