Kaldera Batur merupakan daerah pertanian yang penting, dengan budidaya berbagai hasil panen. Air irigasi mengalir kembali ke danau setelah dipompa, membawa serta nutrisi ke badan danau.
Suplai air dari mata air panas
di desa Toya Bungkah, Ada beberapa sumber air panas yang berhubungan dengan aktivitas gunung berapi Gunung Batur. Ini telah dikembangkan untuk tujuan wisata.[3] Air dari sumber air panas ini mengalir ke danau.
Akuakultur
Danau Batur dalam beberapa tahun terakhir, bertani ikan. Nile tilapia adalah spesies dominan di danau saat sebuah studi dilakukan pada tahun 2011.[4] Nama lokal ikan ini adalah ikan Mujair.
Kematian ikan
Pada pagi hari tanggal 19 Juni 2011, bintik-bintik putih kehijauan muncul di permukaan danau. Bintik-bintik ini kemudian bergabung, membentang dari Toya Bungkah sampai Buahan. Seiring dengan perubahan warna, ribuan ikan mati melayang ke permukaan. Penyebab kematian ikan diyakini berkaitan dengan perbedaan suhu diurnal tinggi selama awal musim kemarau. Sebagai hasil dari perbedaan suhu, pencampuran air terjadi karena arus yang dikembangkan, yang pada gilirannya mencampurumum sedimen yang membusuk, membawa gas beracun ke permukaan. Menjelang akhir 21 Juni 2011, warna air kembali normal.[5]