Danau Sentarum adalah danau musiman yang berada di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Danau ini dipenuhi air selama 10 bulan setiap tahunnya dan sisanya akan surut, membentuk kolam-kolam kecil yang menjadi habitat berbagai jenis ikan-ikan air tawar. Saat musim kemarau, kawasan Danau Sentarum berperan penting sebagai pemasok air bagi Sungai Kapuas. Luas keseluruhan kawasan Danau Sentarum mencapai sekitar 132.000 hektare.[1]
Untuk mencapai Danau Sentarum, dibutuhkan waktu sekitar 14 jam dari Kota Pontianak melalui perjalanan darat dan air dengan rute Pontianak-Sintang-Semitau. Dari Semitau menuju kawasan Danau Sentarum dapat ditempuh menggunakan perahu motor menuju Lanjak.[1]
Selain melaui jalur darat, kawasan ini juga dapat dicapai melalui jalur udara dari Pontianak menuju Putussibau sekitar dua jam dan dari Putussibau ke Nanga Suhaid menggunakan transportasi sungai (longboat) meunju kawasan danau sekitar tujuh jam.
Pada tahun 1999, Danau Sentarum ditetapkan sebagai taman nasional. Sebelumnya, Taman Nasional Danau Sentarum berstatus cagar alam pada 1981–1982 dan berubah menjadi suaka margasatwa sejak 1983.[3]
Masyarakat lokal
Daerah sekitar Danau Sentarum dihuni oleh masyarakat tradisional yang telah beradaptasi dengan naik turun air danau, antara lain Suku Dayak Iban, Sebaruk, Sontas, Kenyah dan Punan. Rumah panjang atau "betang" yang dihuni masyarakat adat suku memiliki ukuran beragam, ada yang dihuni lima sampai delapan kepala keluarga dan ada yang dihuni 15 sampai 30 kepala keluarga. Rumah panjang yang dihuni 15 – 30 kepala keluarga, mempunyai panjang rata-rata 186 meter dan lebar 6 meter.[4]
Perlindungan hayati
Kawasan danau ini sejak 1994 dimasukkan dalam daftar lahan basah terpenting di dunia. Beberapa jenis ikan melewati danau ini dalam siklus reproduksinya, antara lain jelawat (Leptobarbus hoevenii), menyadin (Osteochilus triporos), belantau (Macrochirichthys macrochirus), dan tapah (Wallago leeri). Burung dara laut (Sterna spp.) juga bermigrasi dari pantai ke Taman Nasional Danau Sentarum untuk bertelur. Isu pembendungan oleh pemerintah provinsi dikhawatirkan akan merusak fungsi danau ini bagi lingkungan.[5]
Pariwisata
Danau Sentarum dikenal sebagai salah satu tujuan ekowisata di Kalimantan Barat. Wisatawan dapat menikmati panorama danau musiman, pengamatan burung, budaya rumah betang masyarakat Dayak, serta aktivitas susur sungai menggunakan perahu tradisional. Festival Danau Sentarum juga diselenggarakan untuk mempromosikan ekowisata dan budaya masyarakat lokal di kawasan Kapuas Hulu.[6]