Sungai Kapuas atau sungai Kapuas Buhang[2] atau sungai Batang Lawai (Laue)[3][4][5][6][7][8] merupakan sungai yang berada di Kalimantan Barat. Sungai ini merupakan sungai terpanjang di pulau Kalimantan dan sekaligus menjadi sungai terpanjang di Indonesia dengan panjang mencapai 1.143km. Kapuas menjadi jalur transportasi utama yang menghubungkan wilayah pedalaman dengan pesisir. Sungai ini memiliki lebih dari 33 anak sungai.[9] Anak sungai Kapuas di bagian hulu terjauh berada di Pegunungan Muller di utara, mulai dari perbatasan Indonesia - Malaysia, menuju pesisir selatan Kalimantan hingga bermuara di Laut Jawa.[1]
Etimologi
Nama sungai Kapuas diambil dari nama daerah Kapuas (sekarang Kapuas Hulu) sehingga nama sungai yang mengalir dari Kapuas Hulu hingga muaranya disebut sungai Kapuas.
Pemanfaatan sungai Kapuas
Sungai Kapuas tetap menjadi urat nadi bagi kehidupan masyarakat (terutama suku Dayak dan Melayu) di sepanjang aliran sungai. Sebagai sarana transportasi yang murah, Sungai Kapuas dapat menghubungkan daerah satu ke daerah lain di wilayah Kalimantan Barat, dari pesisir Kalimantan Barat sampai ke daerah pedalaman Putussibau di hulu sungai ini. Selain itu, sungai Kapuas juga merupakan sumber mata pencaharian untuk menambah penghasilan keluarga dengan menjadi nelayan/penangkap ikan secara tradisional, pengemudi sampan, dan penyewaan speed boat.
Keanekaragaman hayati
Kalimantan Barat memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi dengan berbagai jenis ekosistem mulai dari hutan hujan tropis, hutan mangrove, hingga rawa gambut. Wilayah ini menjadi rumah bagi berbagai spesies flora dan fauna endemik.[9] Kapuas juga merupakan rumah dari lebih 700 jenis ikan dengan sekitar 12 jenis ikan langka dan 40 jenis ikan yang terancam punah. Potensi perikanan air tawar di sungai Kapuas adalah mencapai 2 juta ton.[butuh rujukan]
Potensi pariwisata Kapuas
Pada 17 Agustus 2019 yang lalu, Merah Putih dikibarkan di atas ponton di tengah sungai ini dalam rangka peringatan ke-74 kemerdekaan Indonesia yang diikuti oleh 90 komunitas, penambang, relawan, sampai ratusan masyarakat yang diikuti pula dengan aneka lomba tradisional.[10] Upacara hari kemerdekaan itu dilangsungkan pertama kalinya di atas sungai ini.[11]
Pasar Apung Kapuas
Pasar Apung di Sungai Kapuas telah ada sejak 1920anSeorang pemuda dengan dagangannya di Pasar Apung Kapuas
Pasar Terapung di Sungai Kapuas berada di Pontianak, Kalimantan Barat, yang juga dikenal sebagai Pasar Apung di Alun-Alun Sungai Kapuas, di mana pedagang menjual dagangannya dari perahu-perahu. Pasar ini terbentuk karena larangan berjualan di darat oleh Pemerintah Kota Pontianak, sehingga pedagang memindahkan aktivitas mereka ke atas sungai untuk berjualan. Pasar ini merupakan tempat aktivitas ekonomi yang penting bagi masyarakat dan juga menarik wisatawan untuk merasakan pengalaman berbelanja secara unik di atas sungai.[12]
Kerusakan DAS dan bencana hidrologi
Danau Sentarum terletak di area Taman Nasional Danau Sentarum, Dusun Tekenang, Kalimantan Barat. Kondisi danau pada musim kemarau Agustus 2019 sangat kering, hanya menyisakan beberapa titik air, menurut Kepala resort Tekenang pada musim hujan air danau akan naik sekitar ketinggian 6 meter di mana danau berfungsi sebagai tadah air hujan untuk menstabilkan ketinggian sungai Kapuas, sedangkan pada musim kemarau air danau akan mengalir menuju hilir melewati sungai Tawang (Sebelah kiri pada foto) sampai ke sungai Kapuas untuk mengisi kekurangan debit air sungai yang bermanfaat untuk kebutuhan sehari-hari masyarakat sekitar sungai.
Di tepi hutan gambut, Masyarakat Adat Dayak Kanayatn Binua Sunge Samak hidup dengan kearifan yang telah diajarkan leluhur: menjaga air dan tanah. Bagi Masyarakat Adat yang tinggal di Kecamatan Sungai Ambawang, Kalimantan Barat ini, merawat tradisi bukan sekadar tugas, melainkan menjaga keseimbangan alam (hutan dan gambut) demi kelangsungan hidup dan warisan bagi anak cucu di kemudian hari.[13]
Wilayah adat Binua Sunge Samak berada di dataran rendah. Sekitar 70 persen dari wilayah ini berupa tanah bergambut, bukan tanah mineral seperti di banyak daerah lain. Kondisi ini membuat Masyarakat Adat sangat bergantung pada ekosistem gambut. Namun, selama 20 tahun terakhir, mereka hidup dalam ketidaknyamanan akibat perubahan tata ruang dan kerusakan lingkungan.[13]
Bencana hidrologi
Awal tahun 2025, banjir besar hingga lebih dari 1,5 meter melanda wilayah Binua Sunge Samak Kampokng Pancaroba, Kabupaten Kubu Raya. Banjir membuat hampir seluruh aktivitas masyarakat lumpuh total. Tempat tinggal yang terendam memaksa orang meninggalkan barang berharga mereka. Jalan utama yang terhubung dengan jalur trans Kalimantan terputus karena kendaraan tidak mampu melewati genangan, sehingga akses transportasi dan distribusi kebutuhan pokok terhenti. Bahkan selama hampir sebulan, warga hidup dalam kondisi serba terbatas. Anak-anak tidak bisa bersekolah karena sekolah ikut terendam, sementara para orang tua kehilangan kesempatan bekerja maupun mengelola lahan pertanian yang terendam air. Persediaan pangan mulai menipis, dan banyak keluarga mengalami kerugian besar akibat peralatan rumah tangga dan hasil panen rusak.[14]
Komunitas Dayak Kanayatn Binua Sunge Samak Kampokng Pancaroba itu kini hidup dalam ancaman nyata perubahan iklim yang ditandai dengan semakin seringnya banjir besar melanda kawasan mereka. Banjir yang dulunya dianggap musibah sesekali, kini berubah menjadi peristiwa tahunan yang kian parah, melumpuhkan aktivitas warga dan mengancam keberlangsungan hidup masyarakat adat. Wilayah Binua Sunge Samak Kampokng Pancaroba terletak di dataran rendah tanpa perbukitan. Letak geografis yang rentan itu membuat banjir sulit dihindari, terutama ketika curah hujan ekstrem akibat perubahan iklim terus meningkat. Dibandingkan 15 hingga 20 tahun lalu, banjir kini lebih sering dan lebih parah.[14]
Bagi Komunitas Dayak Kanayatn Binua Sunge Samak Kampokng Pancaroba, banjir bukan lagi sekadar bencana alam, melainkan peringatan keras tentang rapuhnya keseimbangan lingkungan. Mereka berharap suara masyarakat adat bisa menjadi perhatian utama dalam kebijakan penanggulangan bencana dan perlindungan ekosistem Kalimantan. Terutama penekanan terhadap pentingnya kebijakan perlindungan hutan dan gambut yang selama ini menjadi benteng alami penahan banjir.[14]
Hidrologi DAS
Lomba perahu di sungai Kapuas (sekitar 1920)Jembatan Kapuas di Pontianak
Sekitar 40% wilayah provinsi Kalimantan Barat berupa dataran rendah, dengan ketinggian 0-100 meter di atas permukaan laut. Umumnya terdapat di sepanjang pesisir dan daerah aliran sungai besar. Sekitar 50% wilayah provinsi berupa dataran bergelombang dengan ketinggian 100-500 meter di atas permukaan laut, terutama di bagian tengah. Sekitar 10% wilayah provinsi berupa perbukitan dan pegunungan dengan ketinggian >500 meter di atas permukaan laut, terutama di perbatasan dengan Sarawak dan Kalimantan Tengah.[9]
DAS Kapuas berbatasan dengan dua DAS besar lainnya di bagian timur yaitu DAS Mahakam dan DAS Barito. Di bagian utara berbatasan dengan DAS Katingan, DAS Seruyan, DAS Kotawaringin serta DAS Pawan. Di bagian timur berbatasan dengan DAS Mempawah serta DAS Sambas. Selain itu batas DAS Kapuas bagian utara menjadi pembatas alami antara Indonesia dengan Sarawak-Malaysia.[1]