Pada dekade 1980-an, Sungai Tapin dimanfaatkan sebagai sumber penghidupan oleh masyarakat yang tinggal di sepanjang bantaran sungai. Kondisi tersebut terjadi karena air sungai masih jernih dan terdapat berbagai jenis ikan air tawar. Setelah tahun 1993, kondisi air Sungai Tapin mengalami perubahan menjadi keruh.
[2] Pada tahun 2025, indeks kualitas air Sungai Tapin tercatat sebesar 66,08 dengan kategori sedang akibat pencemaran biologis berupa kontaminasi tinja manusia atau hewan serta limbah pertanian dan peternakan.[5]
Pada bagian hulu Sungai Tapin di Desa Pipitak Jaya, Kecamatan Piani, dibangun Bendungan Tapin yang memanfaatkan aliran sungai tersebut dan berfungsi untuk mengendalikan debit air, mereduksi potensi banjir di wilayah hilir, menyediakan air baku, serta mendukung irigasi pertanian, sehingga Sungai Tapin dan Bendungan Tapin merupakan satu kesatuan sistem pengelolaan sumber daya air yang saling terhubung.
Mitologi
Sungai Tapin dikaitkan dengan legendaBalahindang, sebuah cerita rakyat yang berkembang di Kabupaten Tapin.[9] Dalam hikayat tersebut, diceritakan bahwa Sungai Tapin diciptakan akibat perjalanan panjang seekor nagaputih yang merupakan jelmaan seorang pria yang dikutuk akibat memakan telur naga betina.[2]
↑Pemerintah Kabupaten Tapin (30 Maret 2023). Rencana Pembangunan Daerah Kabupaten Tapin(PDF). Rantau: Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Kabupaten Tapin. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)