Cagar Alam Rawa Danau adalah salah satu cagar alam di Kabupaten Serang, Banten.[1] Cagar alam ini meliputi wilayah danau dan hutan rawa air tawar Rawa Danau atau Rawa Dano. Rawa Danau merupakan satu-satunya rawa pegunungan di Pulau Jawa.[2]
Cagar Alam Rawa Danau berada di antara tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Padarincang, Kecamatan Pabuaran, dan Kecamatan Mancak. Secara geografis, Cagar Alam Rawa Danau terletak pada 6°8’ - 6°11’ Lintang Selatan dan 105°56’ - 106°04’Bujur Timur.[2]
Sejarah kawasan
Foto kawasan Cagar Alam Rawa Danau antara tahun 1915 dan 1926
Kawasan Rawa Danau telah dijadikan kawasan cagar alam sejak masa pemerintahan Hindia Belanda.[2] Cagar Alam Rawa Danau dikelola oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat, tepatnya oleh Seksi Konservasi Wilayah I Serang, Bidang KSDA Wilayah I Bogor.[3]
Tahun
Risalah
1921
Kawasan Rawa Danau ditunjuk sebagai cagar alam (natuurmonument) oleh pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 16 November 1921. Berdasarkan Staatsblad Tahun 1921 Nomor 683, kawasan ini diberi nama Natuurmonument Danoemeer.
1986-1987
Rekonstruksi Tata Batas dilaksanakan dari tanggal 26 November 1986 sampai 13 Januari 1987 oleh Badan Inventarisasi dan Tata Guna Hutan sepanjang 52,11km meliputi batas buatan 36,1km, batas enclave 13,85km dan batas alam 2,25km.
1995
Orientasi batas dilakukan oleh Kantor Wilayah Departemen Kehutanan Provinsi Jawa Barat sepanjang 53km dengan jumlah pal batas 607 buah (baik 99 buah, rusak 85 buah, rusak berat 251 buah, dan hilang 172 buah).
1999
Kawasan Rawa Danau ditunjuk sebagai kawasan konservasi Cagar Alam dengan SK Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 491/Kpts-II/1999 dengan luas 2.500 ha.
2011
Pengukuhan definitif oleh Balai Pemantapan Kawasan Hutan Wilayah XI Jawa-Madura menyatakan bahwa luas Cagar Alam Rawa Danau adalah 3.542,60 ha.
2012
Dilakukan pengukuran ulang oleh Balai Pemantapan Kawasan Hutan Wilayah XI Jawa-Madura. Dari pengukuran, diperoleh hasil luasan Cagar Alam sebesar 3.542,70 ha.
2014
Kawasan Rawa Danau ditetapkan sebagai Cagar Alam seluas 3.542,70 ha dengan SK Menteri Kehutanan No. SK.3586/Menhut-VII/KUH/2014 tanggal 2 Mei 2014.
2021
Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 60 Tahun 2021 tentang Penyelamatan Danau Prioritas Nasional menyebutkan terdapat 15 danau di Indonesia yang jadi prioritas nasional dimana salah satu di antaranya adalah Rawa Danau ini.[4]
Danau Prioritas Nasional
Rawa Danau juga telah ditetapkan sebagai salah satu dari 15 Danau Prioritas Nasional berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 60 Tahun 2021 tentang Penyelamatan Danau Prioritas Nasional. Penetapan ini dilakukan karena danau mengalami tekanan ekologis seperti kerusakan daerah tangkapan air, penurunan kualitas air, dan hilangnya keanekaragaman hayati.[5]
Penetapan sebagai danau prioritas nasional didasarkan pada kriteria:[5]
Memiliki nilai strategis dalam aspek ekonomi, ekologi, sosial budaya, dan ilmu pengetahuan.
Tercantum dalam dokumen perencanaan pembangunan nasional atau sektoral.
Tujuan dari kebijakan ini adalah untuk mengoordinasikan upaya penyelamatan dan pemulihan fungsi danau melalui sinergi antar kementerian, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan lainnya. Berikut dibawah ini merupakan perjalanan sejarah dari awal penunjukan sebagai Cagar Alam pertama kali hingga menyandang status "Penyelamatan Danau Prioritas Nasional"[5]
Air dari kawasan hulu mengalir melalui sungai Cidanau yang menjadi outlet utama DAS ini dan bermuara di wilayah perairan Selat Sunda, menjadikan DAS Cidanau sebagai sistem hidrologi yang menghubungkan ekosistem pegunungan, rawa, dan laut.[6]
Flora dan Fauna
Pemandangan Rawa Danau dari atas bukit
Flora
Cagar Alam Rawa Danau memiliki beragam flora yang tumbuh di hutan dan perairan. Tumbuhan yang berada di kawasan cagar alam adalah vegetasi hutan hujan seperti gaharu (Aquilaria sp.), vegetasi rawa seperti tangtalang (Elaeocarpus obtusus), dan tumbuhan bawah seperti kantong semar (Nepenthes sp.).[2] Beberapa jenis tanaman di kawasan ini dapat dimanfaatkan sebagai obat.[7]
Fauna
Sebagian dari jenis-jenis fauna penghuni Cagar Alam Rawa Danau di antaranya adalah lutung (Trachypithecus auratus), elang hitam (Ictinaetus malaiensis), buaya muara (Crocodylus porosus), dan lendi (Clarias nieuhofii).[8]