Eksonim (daribahasa Yunani ἔξωὄνομα, exonoma, artinya "nama (pemberian) luar") adalah nama sebutan untuk suatu tempat yang tidak digunakan oleh penduduk lokal tempat tersebut (baik dalam bahasa resmi negara maupun bahasa lokal lainnya), atau nama sebutan untuk penduduk atau bahasa yang tidak digunakan oleh penduduk atau bahasa yang dimaksudkan tersebut.
Nama yang digunakan oleh penduduk lokal suatu tempat disebut endonim atau otonim (Bahasa Yunani ἔνδον endon=di dalam, αὐτό auto=diri, dan ὄνομα onoma=nama), yang artinya nama sebutan untuk diri sendiri. Sebagai contoh, Deutschland adalah endonim; Jerman adalah eksonim dalam Bahasa Indonesia untuk nama tempat tersebut; dan Allemagne adalah eksonim dalam Bahasa Prancis. Demikian pula, Bahasa Spanyol adalah eksonim untuk nama bahasa tersebut; para petutur Bahasa Spanyol sendiri menyebut dengan nama español atau castellano. Contoh lain, Tiongkok (Zhongguo) adalah endonim untuk negara tersebut, sementara dalam bahasa Inggris menggunakan nama eksonim China, dan di Indonesia pada tahun 1966-2014 menggunakan nama eksonim Cina. (lihat Nama Tiongkok).
Contoh peta yang menunjukkan keragaman eksonim untuk Jerman, dibandingkan dengan warna biru untuk nama-nama yang berkaitan dengan endonim bahasa Jerman modern dari Deutschland [country of the people]. Kuning berasal dari bahasa Latin Alemanni, sebuah konfederasi suku di sekitar Sungai Donau yang berarti 'semua orang'; hijau tua berasal dari bahasa Latin Germāni, sebuah suku yang tinggal di sekitar Sungai Rhine; merah adalah Saxon; hijau muda yang asal usulnya tidak pasti; dan ungu adalah istilah Slavia yang berarti 'penggerutu'.
Pengunaan
Sebagai preferensi eksonim
Dalam beberapa situasi, penggunaan eksonim mungkin lebih disukai. Misalnya, di kota-kota multibahasa seperti Brussel, yang dikenal dengan ketegangan linguistik antara penutur bahasa Belanda dan Prancis, nama yang netral mungkin lebih disukai agar tidak menyinggung siapa pun. Dengan demikian, eksonim seperti Brussel dalam bahasa Inggris dapat digunakan alih-alih mengutamakan salah satu nama lokal (Belanda/Flandria: Brusselcode: nl is deprecated ; Prancis: Bruxellescode: fr is deprecated ).
Preferensi resmi
Kadang sebuah pemerintah negara ingin menganjurkan pengunaan nama endonim daripada nama eksonim yang diberikan negara lain:
Pada 1972, Ceylon (nama ini di-anglikisasi dari nama Portugis Ceilãocode: pt is deprecated ) mengganti nama negara menjadi Sri Lanka walaupun nama Ceylon tetap dipertahankan sebagai nama teh.
Pemerintahan Ukraina menetapkan agar ejaan bahasa Inggris ibukota Ukraina seharusnya dieja sebagai Kyiv[1] karena nama tradisional eksonim Inggris, yakni Kiev adalah nama pemberian dari Rusia dengan nama Kiyevcode: ru is deprecated (Киевcode: ru is deprecated )
Pemerintahan Belarus menyatakan bahwa endonim Belarus harus digunakan dalam setiap bahasa.[2] Pengunaan ini dipakai secara masif dalam bahasa Inggris dan juga Indonesia, sementara ejaan Belorussia/Byelorussia masih dipakai saat menyebut Republik Sosialis Soviet secara umum sudah tidak dipakai lagi. Di bahasa lain, eksonim masih dipakai secara masif, seperti Bahasa DenmarkHvideruslandcode: da is deprecated , Belanda Wit-Ruslandcode: nl is deprecated , Estonia Valgevenecode: et is deprecated , FaroeHvítarusslandcode: fo is deprecated , Tionghoa Bái'èluósīcode: zh is deprecated (白俄罗斯code: zh is deprecated ), dan Serbia Belorusijacode: sr is deprecated (Белорусијаcode: sr is deprecated ).
Pada 2006, Korea Selatan mengganti nama ejaan Tionghoa untuk ibukota Seoul dari eksonim 漢城/汉城code: zh is deprecated (Hànchéngcode: zh is deprecated ) yang berasal dari ejaan HanjaJoseon (Hangul:한성code: ko is deprecated ;Hanja:漢城code: ko is deprecated ;RR:Hanseong) menjadi Shǒu'ěrcode: zh is deprecated (首爾/首尔code: zh is deprecated ). Perubahan ini resmi digunakan di Tiongkok.
Pada Desember 2021, sebuah memo dikirim oleh Presiden TurkiRecep Tayyip Erdoğan memerintah pengunaan nama Türkiye (di bahasa Inggris Turkiye) daripada Turki di setiap komunikasi resmi, apapun bahasanya.[3][4]
Hanyu Pinyin
Di Singapura selama 1980an, pemerintah mendorong penggunaan ejaan Hanyu Pinyin untuk nama-nama tempat, terutama yang menggunakan nama Teochew, Hokkien, atau Kanton, sebagai bagian dari Kampanye Bicara Mandarin untuk mempromosikan bahasa Mandarin dan mencegah penggunaan "dialek". Misalnya, daerah Nee Soon, yang dinamai menurut nama pengusaha Teochew-Peranakan, Lim Nee Soon (林義順, Teochew Peng'im: lim5 ngi6 sung6, Mandarin Pinyin: Lín Yìshùn), menjadi Yishun dan sekolah serta tempat-tempat di sekitarnya yang didirikan setelah perubahan tersebut menggunakan ejaan Hanyu Pinyin. Sebaliknya, Hougang adalah ejaan Hanyu Pinyin, tetapi pengucapan Hokkien Aū-káng paling umum digunakan.[5] Perubahan pada Hanyu Pinyin tidak hanya memakan biaya besar, tetapi juga tidak populer di kalangan penduduk setempat. Mereka berpendapat bahwa versi Hanyu Pinyin terlalu sulit diucapkan oleh penutur non-Tiongkok atau non-Mandarin. Pemerintah akhirnya menghentikan perubahan tersebut pada tahun 1990-an, yang menyebabkan beberapa nama tempat di suatu daerah memiliki ejaan yang berbeda. Misalnya, Jalan Nee Soon, Daerah Pemilihan Perwakilan Kelompok Nee Soon, dan Pangkalan Angkatan Bersenjata Singapura, Kamp Nee Soon, semuanya terletak di Yishun tetapi tetap mempertahankan ejaan lama.[6]
Karena pelafalan Mandarin tidak sepenuhnya sesuai dengan fonem bahasa Inggris, penutur bahasa Inggris yang menggunakan romanisasi apa pun tidak akan mengucapkan nama-nama tersebut dengan benar jika pelafalan bahasa Inggris standar digunakan. Meskipun demikian, banyak penutur bahasa Inggris yang lebih tua masih menyebut kota-kota tersebut dengan nama-nama lama mereka, dan bahkan hingga saat ini nama-nama tersebut sering digunakan dalam asosiasi tradisional mereka, seperti Bebek Peking, Opera Peking, dan Universitas Peking. Sedangkan untuk Nanjing, peristiwa bersejarah yang disebut Pembantaian Nanking (1937) menggunakan nama lama kota tersebut karena itulah nama kota tersebut pada saat kejadian.
Demikian pula, banyak kota di Korea seperti Busan dan Incheon (sebelumnya masing-masing disebut "Pusan" dan "Inch'ŏn") juga mengalami perubahan ejaan akibat perubahan romanisasi, meskipun pengucapan bahasa Korea sebagian besar tetap sama.