Organisasi ini memulai sejarahnya pada tahun 1947 dengan nama "Taal Ambenaar Voor Bali" dan berkedudukan di Singaraja dengan dipimpin oleh Roelof Goris. Tugas yang diemban saat itu terbatas pada penelitian terhadap barang-barang kuno dan batu-batu tertulis yang ada di Bali. Induk dari organisasi ini berkedudukan di Jakarta dengan nama "Instituut Voor Taal en Cultuur Onderzork" (ITCO) dan berada di bawah "Fakulteit der Litteren en Wijsbegeerte Universiteit Van Indonesie" (kemudian menjadi Fakultas Sastra Universitas Indonesia).
Pada tahun 1950, nama ITCO diubah menjadi Kantor Penyelidikan Bahasa dan Kebudayaan (KPBK). Pada bulan Agustus 1952, nama KPBK diubah menjadi Lembaga Bahasa dan Budaya (LBB). Pada tahun 1960, LBB diubah menjadi Direktorat Bahasa dan Kesusastraan (DBK) dan diletakkan di bawah Direktorat Jenderal Kebudayaan.
Pada bulan Mei 1965, nama DBK diubah menjadi Lembaga Bahasa Nasional (LBN). Pada tahun 1975, LBN diubah menjadi Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (Pusat Bahasa) dan diletakkan langsung di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan unit pelaksana teknis berupa Balai Penelitian Bahasa yang tersebar di seantero Indonesia, termasuk organisasi ini dengan nama Balai Penelitian Bahasa Bali.
Pada bulan Januari 1999, nama dari organisasi ini diubah menjadi Balai Bahasa Bali. Pada tahun 2012, nama dari organisasi ini kembali diubah menjadi seperti sekarang.[1]
Program kerja
Bidang Pengembangan
Penelitian bahasa dan sastra
Penerbitan jurnal ilmiah
Penerbitan kamus dwibahasa Indonesia-Bali
Penyusunan soal-soal UKBI
Penyusunan bahan ajar penunjang BIPA
Penyusunan ensiklopedia sastra
Pengelolaan perpustakaan
Bidang Pembinaan
Penyuluhan bahasa dan sastra
Bengkel sastra
Seminar bahasa dan sastra
Siaran pembinaan bahasa dan sastra di media massa
Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia
Kerja sama dengan berbagai pihak/instansi/lembaga/organisasi profesi