Penggunaan
Bahasa Besemah dituturkan oleh komunitas yang homogen (umumnya oleh suku Besemah), tidak seperti ragam bahasa Melayu lain semisal bahasa Melayu Palembang, bahasa Melayu Riau, atau bahasa Indonesia dialek Jakarta yang menjadi lingua franca. Namun, sebagaimana halnya ragam-ragam bahasa di atas, bahasa Besemah umumnya digunakan secara diglosik atau bahkan poliglosik bersama bahasa Indonesia dan bahasa Melayu Palembang yang dipakai luas di Sumatera Selatan.
Bahasa Indonesia baku digunakan di setiap situasi formal, termasuk dalam pidato dan ceramah pernikahan, pemakaman, serta khotbah Jumat di masjid-masjid. Bahasa Melayu Palembang adalah sebuah koine yang berasal dari bahasa Melayu yang digunakan di kota Palembang serta daerah urban lainnya di Sumatera Selatan di mana terjadi pertemuan antara suku-suku Melayu, Jawa, Minangkabau, Batak, serta Tionghoa-Indonesia. Maka bahasa Melayu Palembang pun digunakan oleh penutur bahasa Besemah untuk komunikasi antar etnis. Sementara bahasa Besemah digunakan sesama penutur asli di rumah serta dalam kehidupan sehari-hari di perdesaan.[7]
Kerentanan kepunahan bahasa
Bahasa Besemah kurang bisa dicocokkan ke dalam klasifikasi kerentanan kepunahan bahasa yang ada. Jika dilihat sekilas, bahasa ini bisa dikategorikan sebagai bahasa vital karena (1) anak muda masih mempelajari bahasa tersebut secara aktif, dan (2) masih memiliki penutur yang lumayan banyak (sekitar 400.000). Keduanya merupakan tanda yang baik bagi bahasa Besemah, tetapi ada beberapa faktor lain yang menunjukkan bahwa bahasa Besemah mungkin tidak se-stabil yang diperkirakan. Faktor-faktor tersebut adalah: bahasa kontak, multilingualisme, sikap terhadap bahasa asli, serta tidak adanya pendidikan formal atau ejaan baku bagi bahasa Besemah.[7]