Mobilitas penumpang di stasiun ini didominasi oleh pekerja di kawasan Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan M.H. Thamrin pada hari kerja. Sementara itu, pada akhir pekan, peningkatan volume penumpang terjadi khususnya pada hari Minggu sehubungan dengan pelaksanaan Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) di kawasan tersebut.
Ke arah barat stasiun ini, sebelum Stasiun Karet, terdapat Stasiun BNI City yang letaknya sangat berimpitan dengan dua stasiun di antaranya (jarak Stasiun Sudirman dan Karet hanya dipisahkan oleh Stasiun BNI City). Dan sejak dibukanya stasiun tersebut pada akhir 2017, stasiun ini kerap kali disebut Sudirman Lama oleh masyarakat sekitar, untuk membedakan dengan stasiun baru yang merupakan pemberhentian KRL bandara tersebut.[6]
Sejarah
Stasiun ini dahulu bernama Stasiun Dukuh (DKH).[7] Setelah direnovasi, stasiun ini dibuka kembali oleh Presiden RI, Soeharto dan Ibu Negara Tien Soeharto pada 5 Juli 1986, bersama dengan uji coba KRL Jabotabek Lin Lingkar dengan unit Rheostatik baja nirkarat.[8] Nama stasiun ini berganti sejak 2003 seiring pengoperasian KRL Sudirman Ekspres relasi Serpong–Sudirman setelah menjalani dua kali uji coba pada Maret dan Agustus 2003.[4]
Sejak 1 Agustus 2019, stasiun ini bersama Stasiun Universitas Indonesia, Palmerah, Cikini, dan Taman Kota, resmi menghapus penjualan kartu single trip (Tiket Harian Berjaminan/THB) untuk KRL Commuter Line. Hal ini karena mayoritas penumpang KRL Commuter Line sudah terbiasa menggunakan kartu multi trip maupun uang elektronik. Dengan cara ini, antrean panjang pembelian tiket KRL dapat dipangkas. Namun, pengguna jasa tetap dapat melakukan tap-in/tap-out dengan THB di stasiun ini, sebelum akhirnya sistem THB resmi dihapuskan pada 3 September2022.[9][10][11]
Rencana pengembangan stasiun
Peron 1 Stasiun Sudirman, pada 24 Februari 2022.
Dalam rencana pembangunan jalur transportasi massal di Jakarta, Stasiun Sudirman direncanakan menjadi stasiun pusat dan awal menuju Terminal Lebak Bulus. Saat ini, Stasiun Sudirman terhubung dengan stasiun MRT di sisi barat Stasiun, dengan stasiun LRT Jabodebek melalui jembatan penyebrangan multiguna (JPM) Dukuh Atas yang terhubung dengan peron 1 stasiun,[a] dan antarmoda bagi seluruh jenis angkutan di DKI Jakarta.[12][13][14]
Stasiun Sudirman juga menjadi stasiun yang dekat dengan akses Transjakartakoridor 1 (Blok M—Kota), koridor 4 (Galunggung—Pulo Gadung), dan koridor 6 (Galunggung—Ragunan). Stasiun ini sedang dikaji untuk dapat terhubung dengan Stasiun LRT Dukuh Atas pada pembangunan LRT Jakarta fase 1C, usai pembangunan fase 1B selesai dilakukan.[15]
Tata letak
Peron 2 Stasiun Sudirman, 24 Februari 2022
Stasiun ini memiliki dua jalur kereta api. Kedua-duanya merupakan sepur lurus tanpa wesel.
Pada 18 Januari2023, seorang penumpang terjatuh pada peron 2 Stasiun Sudirman. Penumpang tersebut terjatuh tepat saat KRL arah Manggarai melintas. Beruntung korban selamat dan kemudian dievakuasi setelah kereta melintas. Korban kemudian dirawat di pos kesehatan atas luka ringan yang dialami hingga akhirnya melanjutkan perjalanan ke Stasiun Tangerang.[6]
Galeri
Rangkaian KRL ex Tokyo Metro 05-110F memasuki Stasiun Sudirman.
Saat penumpukan penumpang di jam pulang kerja di Stasiun Sudirman
Akses Stasiun Sudirman dari atas Jembatan Terowongan Kendal, Menteng
Akses Stasiun Sudirman dari Jalan Jenderal Sudirman
Panorama peron baru di sisi timur stasiun
Catatan kaki
↑Akses dari dan menuju JPM dilakukan melalui Stasiun Sudirman dengan melakukan tapping in dan tapping out di stasiun serta membayar tarif Rp1,00 (satu rupiah) untuk akses "penyeberangan" hingga 15 menit. (lihat Free Out di KRL Commuter Line)