ENSIKLOPEDIA
Pius X
Pius X | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Uskup Roma | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Foto berwarna Paus Pius X, 1907 | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Gereja | Gereja Katolik | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Awal masa jabatan | 4 Agustus 1903 | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Masa jabatan berakhir | 20 Agustus 1914 | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Pendahulu | Leo XIII | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Penerus | Benediktus XV | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Imamat | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Tahbisan imam | 18 September 1858 oleh Giovanni Antonio Farina | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Tahbisan uskup | 16 November 1884 oleh Lucido Parocchi | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Pelantikan kardinal | 12 Juni 1893 oleh Leo XIII | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Peringkat | Kardinal Imam | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Informasi pribadi | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Nama lahir | Giuseppe Melchiorre Sarto | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Lahir | (1835-06-02)2 Juni 1835 Riese, Lombardia–Venesia, Kekaisaran Austria | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Meninggal | 20 Agustus 1914(1914-08-20) (umur 79) Istana Apostolik, Roma, Kerajaan Italia | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Jabatan sebelumnya |
| ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Semboyan | Instaurare omnia in Christo (Untuk memulihkan segala sesuatu di dalam Kristus)[1] | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Tanda tangan | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Lambang | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Orang kudus | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Hari peringatan |
| ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Venerasi | Gereja Katolik | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Gelar orang kudus | Konfesor | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Beatifikasi | 3 Juni 1951 Basilika Santo Petrus, Kota Vatikan oleh Paus Pius XII | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Kanonisasi | 29 Mei 1954 Basilika Santo Petrus, Kota Vatikan oleh Paus Pius XII | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Pelindung |
| ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Paus lainnya yang bernama Pius | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Gelar Kepausan untuk Paus Pius X | |
|---|---|
| Gaya referensi | Yang Teramat Mulia Bapa Suci |
| Gaya penyebutan | Yang Mulia |
| Gaya religius | Bapa Suci |
Paus Pius X (bahasa Italia: Pio Xcode: it is deprecated ; lahir Giuseppe Melchiorre Sarto;[a] 2 Juni 1835 – 20 Agustus 1914) adalah kepala Gereja Katolik dari 4 Agustus 1903 sampai kematiannya pada bulan Agustus 1914. Pius X dikenal karena menentang keras penafsiran modernis terhadap doktrin Katolik, dan untuk mempromosikan reformasi liturgi dan teologi skolastik Thomist. Ia memprakarsai penyusunan Kitab Hukum Kanon 1917, karya pertama yang komprehensif dan sistemik dari jenisnya, yang pada akhirnya diumumkan oleh penggantinya. Ia dihormati sebagai santo di Gereja Katolik.
Pius X mengabdikan dirinya kepada Perawan Maria yang Terberkati di bawah gelar Bunda Kepercayaan; sementara ensiklik kepausannya Ad diem illum mengambil makna pembaharuan yang tercermin dalam motto kepausannya.[4] Ia memajukan Gerakan Liturgi dengan merumuskan prinsip participatio actuosa (partisipasi aktif umat beriman) dalam motu proprio-nya, Tra le sollecitudini (1903). Ia menganjurkan penerimaan Komuni Kudus secara sering, dan menurunkan batas usia untuk menerima Komuni Pertama, yang menjadi inovasi abadi dalam kepausannya.[5]
Seperti para pendahulunya, ia mempromosikan Thomisme sebagai metode filsafat utama yang diajarkan di lembaga-lembaga Katolik. Dia dengan keras menentang berbagai filsafat abad ke-19 yang ia pandang sebagai intrusi kesalahan sekuler yang tidak sesuai dengan dogma Katolik, terutama modernisme, yang ia kritik sebagai sintesis dari setiap bidat.[6]
Pius X dikenal karena sikapnya yang tegas dan rasa kemiskinan pribadinya, tercermin dari keanggotaannya dalam Ordo Ketiga Santo Fransiskus.[7] Ia secara rutin memberikan khotbah dari mimbar, sebuah praktik yang jarang dilakukan pada saat itu.[b] Setelah gempa bumi Messina tahun 1908, ia memenuhi Istana Apostolik dengan para pengungsi, jauh sebelum pemerintah Italia bertindak.[7] Dia menolak segala bentuk bantuan untuk keluarganya, dan kerabat dekatnya memilih untuk tetap hidup dalam kemiskinan, tinggal di dekat Roma.[7][8] Ia juga melakukan reformasi Kuria Roma dengan Konstitusi Apostolik Sapienti consilio pada tahun 1908.
Setelah kematiannya, kultus pengabdian yang kuat mengikuti reputasinya sebagai orang yang saleh dan suci. Ia dibeatifikasi pada tahun 1951 dan dikanonisasi pada tahun 1954 oleh Paus Pius XII.[8] Sebuah patung yang memuat namanya berdiri di dalam Basilika Santo Petrus, dan kota kelahirannya diubah namanya menjadi Riese Pio X setelah kematiannya.
Kehidupan awal dan pelayanan

Giuseppe Melchiorre Sarto lahir di Riese, Kerajaan Lombardia–Venesia, Kekaisaran Austria (sekarang di provinsi Treviso, Veneto, Italia), pada tahun 1835. Dia adalah anak kedua dari sepuluh bersaudara dari Giovanni Battista Sarto (1792–1852), seorang tukang pos desa, dan Margherita Sanson (1813–1894). Ia dibaptis pada tanggal 3 Juni 1835. Meskipun dalam kemiskinan, orang tuanya menghargai pendidikan, dan Giuseppe pun bersekolah dengan menempuh jalan kaki sejauh 6 kilometer (3,7 mi) ke sekolah setiap harinya.
Giuseppe memiliki tiga saudara laki-laki dan enam saudara perempuan: Giuseppe Sarto (lahir 1834; meninggal setelah enam hari), Angelo Sarto (1837–1916), Teresa Parolin-Sarto (1839–1920), Rosa Sarto (1841–1913), Antonia Dei Bei-Sarto (1843–1917), Maria Sarto (1846–1930), Lucia Boschin-Sarto (1848–1924), Anna Sarto (1850–1926), Pietro Sarto (lahir 1852; meninggal setelah enam bulan).[9] Sebagai Paus, ia menolak segala bentuk perlakuan istimewa untuk keluarganya: saudaranya tetap bekerja sebagai juru tulis pos, keponakan kesayangannya tetap menjadi pastor desa, dan ketiga saudara perempuannya yang belum menikah tinggal bersama dalam keadaan sederhana di Roma.
Giuseppe, yang dipanggil "Bepi" oleh ibunya, memiliki begitu banyak keceriaan alami sehingga gurunya sering kali harus mencambuk pantatnya. Meskipun demikian, dia adalah seorang siswa yang sangat baik yang lebih fokus pada pekerjaan rumah daripada hobi atau rekreasi. Di malam hari setelah berolahraga atau bermain game bersama teman-teman, ia akan meluangkan waktu sepuluh menit untuk berdoa sebelum pulang ke rumah.[10] Ia juga pernah menjadi pelayan altar. Pada usia sepuluh tahun, ia telah menyelesaikan dua kelas dasar di sekolah desanya serta belajar bahasa Latin dengan seorang pastor setempat; mulai saat itu, dia harus berjalan sejauh empat mil ke gymnasium di Castelfranco Veneto untuk kelas selanjutnya. Selama empat tahun berikutnya, ia akan menghadiri Misa sebelum sarapan dan berjalan jauh ke sekolah. Ia sering membawa sepatunya agar lebih awet. Sebagai anak laki-laki miskin, ia sering diejek karena bekal makan siangnya yang sedikit dan pakaiannya yang lusuh, tetapi ia tidak pernah mengeluh kepada guru-gurunya.[10]
Pada tahun 1850, ia menerima tonsur dari pastor parokinya, yang menulis surat kepada Kardinal Venesia untuk mengamankan beasiswa bagi Sarto ke Seminari Padua, "di mana ia menyelesaikan studi klasik, filosofis, dan teologisnya dengan predikat istimewa".[11]

Pada tanggal 18 September 1858, Sarto ditahbiskan menjadi imam oleh Giovanni Antonio Farina, Uskup Treviso (kemudian dikanonisasi olehnya), dan menjadi seorang kapelan di Tombolo. Selama di sana, Sarto memperluas pengetahuannya tentang teologi, dengan belajar Thomas Aquinas dan hukum kanon, sambil menjalankan sebagian besar fungsi pastor paroki Constantini yang sakit-sakitan. Seringkali, Sarto berusaha memperbaiki khotbah-khotbahnya dengan nasihat dari Constantini, yang menyebut salah satu khotbahnya yang paling awal sebagai "sampah".[10] Di Tombolo, reputasi Sarto sebagai orang suci tumbuh begitu pesat sehingga sebagian orang memanggilnya "Don Santo".[10]
Pada tahun 1867, ia diangkat menjadi imam besar dari Salzano. Ia memugar gereja setempat dan memperluas rumah sakit, dana tersebut berasal dari hasil mengemis, kekayaan, dan kerja kerasnya sendiri. Dia memenangkan kasih sayang masyarakat ketika dia bekerja membantu orang sakit selama wabah kolera di awal tahun 1870-an. Dia diangkat menjadi seorang kanon katedral dan kanselir Keuskupan Katolik Roma Treviso|Keuskupan Treviso]], juga bertindak sebagai pembimbing spiritual dan Rektor (gerejawi) seminari Treviso serta penguji para pastor. Sebagai kanselir, ia memungkinkan siswa sekolah negeri untuk menerima pendidikan agama. Sebagai seorang imam dan kemudian uskup, ia sering berjuang untuk memberikan pendidikan agama kepada kaum muda di pedesaan dan perkotaan yang tidak dapat bersekolah di sekolah Katolik. Pada suatu saat, tumpukan jerami besar terbakar di dekat sebuah pondok, dan ketika Sarto tiba, ia berbicara kepada orang-orang yang panik, "Jangan takut, api akan dipadamkan dan rumah kalian akan diselamatkan!" Pada saat itu, api berbalik arah, menyelamatkan pondok tersebut.[10] Meskipun memiliki banyak tugas, Sarto sering meluangkan waktu untuk berjalan-jalan sore bersama anak-anak yang bersiap untuk Komuni Pertama mereka.

Pada tahun 1879, Uskup Federico Maria Zinelli meninggal,[12] dan Sarto terpilih sebagai vikaris kapitulari untuk mengurus keuskupan hingga pelantikan uskup baru pada bulan Juni 1880.
Setelah tahun 1880, Sarto mengajar teologi dogmatis dan teologi moral di seminari di Treviso. Pada tanggal 10 November 1884, ia diangkat menjadi uskup Mantua oleh Paus Leo XIII. Ia ditahbiskan enam hari kemudian di Roma di gereja Sant'Apollinare alle Terme Neroniane-Alessandrine, Roma, oleh Kardinal Lucido Parocchi, dibantu oleh Pietro Rota, dan oleh Giovanni Maria Berengo. Ia diangkat ke posisi kehormatan sebagai asisten di tahta kepausan pada tanggal 19 Juni 1891. Sarto memerlukan dispensasi kepausan dari Paus Leo XIII sebelum ditahbiskan sebagai uskup karena ia tidak memiliki gelar doktor,[13] sehingga ia menjadi paus terakhir tanpa gelar doktor hingga Paus Fransiskus.
Setelah ditahbiskan, Sarto kembali ke kampung halamannya dari Roma dan langsung mengunjungi ibunya. Di sana, dia berulang kali mencium cincinnya dan berkata kepadanya: "Tapi kau tidak akan memiliki cincin indah ini, Nak, jika aku tidak memilikinya," sambil memperlihatkan cincin pernikahannya kepadanya.[10]
Kardinal dan patriarkat

Paus Leo XIII mengangkat Sarto menjadi kardinal dari ordo kardinal imam dalam konsistori rahasia pada tanggal 12 Juni 1893.[14] Dalam konsistori publik pada tanggal 15 Juni, Paus memberinya galero merah kardinalnya, menugaskan kepadanya gereja tituler San Bernardo alle Terme, dan mengangkatnya Patriark Venesia.[15] Namun, hal ini menimbulkan kesulitan, karena pemerintah Italia yang bersatu kembali mengklaim hak untuk menunjuk Patriark, mengingat penguasa sebelumnya, Kaisar Austria telah menggunakan kekuasaan itu. Hubungan yang buruk antara Kuria Romawi dan pemerintah sipil Italia sejak aneksasi Negara Kepausan pada tahun 1870, hal itu menambah tekanan pada pengangkatan tersebut. Jumlah kursi keuskupan yang kosong segera bertambah menjadi 30. Sarto akhirnya diizinkan untuk menduduki posisi patriark pada tahun 1894. Terkait penunjukannya sebagai kardinal, Sarto mengatakan kepada sebuah surat kabar lokal bahwa ia merasa "cemas, takut, dan terhina".[16]
Setelah diangkat menjadi kardinal dan sebelum berangkat ke Venesia, ia mengunjungi ibunya. Terharu hingga tak bisa berkata-kata, sang ibu bertanya: "Anakku, sampaikan berkat terakhir kepada ibumu", merasa bahwa itu akan menjadi kali terakhir mereka bertemu.[10] Setibanya di Venesia, ia secara resmi dinobatkan pada tanggal 24 November 1894.
Sebagai kardinal-patriark, Sarto menghindari politik, mengalokasikan waktunya untuk pekerjaan sosial dan memperkuat koperasi kredit paroki. Namun, dalam surat pastoral pertamanya kepada warga Venesia, Sarto berpendapat bahwa dalam hal-hal yang berkaitan dengan Paus, "Tidak boleh ada pertanyaan, tidak ada kerumitan, tidak ada pertentangan antara hak pribadi dan haknya, tetapi hanya kepatuhan."[butuh rujukan]
Pada bulan April 1903, Paus Leo XIII dilaporkan mengatakan kepada Lorenzo Perosi: "Hargailah dia dengan sepenuh hati, Perosi, karena di masa depan dia akan mampu berbuat banyak untukmu. Kami sangat yakin dia akan menjadi penerus kami." Sebagai seorang kardinal, pada saat terpilih menjadi Paus, ia dianggap sebagai salah satu pengkhotbah paling terkemuka di Gereja meskipun ketenarannya secara global tidak sebesar sekarang.[17] Dalam perannya sebagai kardinal, Sarto memegang keanggotaan dalam kongregasi untuk Uskup dan Reguler, Ritus, dan Indulgensi dan Relik Suci.
Pemilihan paus

Pada tanggal 20 Juli 1903, Leo XIII meninggal, dan pada akhir bulan itu konklaf berkumpul untuk memilih penggantinya. Menurut sejarawan, favoritnya adalah sekretaris kedaulatan negara bagian terlambat, Kardinal Mariano Rampolla. Pada pemungutan suara pertama, Rampolla mendapat 24 suara, Gotti memiliki 17 suara, dan Sarto lima suara. Pada pemungutan suara kedua, Rampolla mendapat lima suara, begitu juga dengan Sarto. Keesokan harinya, sepertinya Rampolla akan terpilih. Namun, veto terhadap nominasi Rampolla, oleh Kardinal Polandia Jan Puzyna de Kosielsko dari Kraków atas nama Kaisar Franz Joseph (1848-1916) dari Austria-Hungaria, diproklamirkan. Banyak di antara conclave, termasuk Rampolla, memprotes veto, dan bahkan menyarankan agar dia terpilih sebagai paus meski memiliki hak veto.
Namun, suara ketiga telah dimulai, dan karena itu, conclave harus melanjutkan pemungutan suara, yang tidak menghasilkan pemenang yang jelas, walaupun hal itu menunjukkan bahwa banyak dari conclave tersebut ingin menyerahkan dukungan mereka kepada Sarto, yang memiliki 21 suara setelah menghitung . Pemungutan suara keempat menunjukkan Rampolla dengan 30 suara dan Sarto dengan 24 suara. Tampaknya jelas bahwa para kardinal bergerak menuju Sarto.
Keesokan paginya, suara kelima dari conclave diambil, dan hitungannya ada Rampolla dengan 10 suara, Gotti dengan dua suara, dan Sarto dengan 50 suara. [butuh rujukan] Jadi, pada tanggal 4 Agustus 1903, Kardinal Sarto terpilih untuk menjadi kepausan. Ini menandai waktu terakhir sebuah veto akan dilaksanakan oleh seorang raja Katolik dalam persidangan konklaf.
Awalnya, dilaporkan, Sarto menolak nominasi tersebut, merasa tidak layak. Selain itu, dia sangat sedih dengan hak veto Austro-Hungaria dan berjanji untuk membatalkan kekuatan ini dan mengucilkan siapapun yang mengkomunikasikan hak veto semacam itu selama sebuah konklaf. Dengan para kardinal memintanya untuk mempertimbangkan kembali, selanjutnya dilaporkan, dia mengalami kesendirian, dan mengambil posisi tersebut setelah berdoa dalam kapel Pauline dan desakan rekan-rekannya sesama kardinal.
Dalam menerima kepausan, Sarto mengambil sebagai nama kepausannya Pius X, untuk menghormati pendahulunya yang baru-baru ini dengan nama yang sama, terutama dari Paus Pius IX (1846-78), yang telah berjuang melawan kaum liberal teologis dan untuk supremasi kepausan Penobatan tradisional Paus Pius X berlangsung pada hari Minggu berikutnya, 9 Agustus 1903. Setelah terpilih menjadi paus, dia juga secara formal adalah Grand Master dari Ordo Kembar Makam Yerusalem yang Kudus, Kongregasi untuk Ajaran dari Iman Ilahi Kongregasi Kudus Kudus, prefek Kongregasi Kudus untuk Gereja-gereja Oriental dan prefek Kongregasi Konstitusional Suci. Namun ada seorang kardinal-sekretaris yang menjalankan badan-badan ini setiap hari.
Kepausan


Kepausan Pius X terkenal karena teologi konservatif dan reformasi dalam liturgi dan hukum gereja. Dalam apa yang menjadi mottonya, Paus menyatakan pada tahun 1903 bahwa kepausannya akan melakukan Instaurare Omnia in Christo, atau "untuk memulihkan semua hal dalam Kristus." Dalam ensiklik pertamanya (E supremi apostolatus, 4 Oktober 1903), ia menyatakan kebijakan utamanya sebagai berikut: "Kami memperjuangkan otoritas Allah. Kewenangan dan Perintah-Nya harus diakui, ditangguhkan, dan dihormati."
Asal usulnya yang sederhana menjadi jelas setelah pemilihannya, ketika dia mengenakan salib dada yang terbuat dari logam berlapis emas pada hari penobatannya dan ketika rombongannya ketakutan, paus baru mengeluh bahwa dia selalu mengenakannya dan bahwa dia tidak membawa yang lain dengan dia.[18] Dia terkenal karena memotong upacara kepausan. Dia juga menghapuskan kebiasaan makan paus sendirian, yang didirikan oleh Paus Urbanus VIII, dan mengundang teman-temannya untuk makan bersamanya. [c]
Ketika dicaci-maki oleh para pemimpin sosial Roma karena menolak menjadikan saudari-saudari petaninya sebagai countesses, dia menjawab:"Saya telah menjadikan mereka saudara perempuan Paus; apa lagi yang bisa saya lakukan untuk mereka?"[18]
Ia mengembangkan reputasi sebagai sangat ramah dengan anak-anak. Dia membawa permen di sakunya untuk bulu babi jalanan di Mantua dan Venesia, dan mengajar katekismus kepada mereka. Selama audiensi kepausan, dia akan mengumpulkan anak-anak di sekitarnya dan berbicara kepada mereka tentang hal-hal yang menarik perhatian mereka. Pelajaran-pelajaran katekismus mingguannya di halaman San Damaso di Vatikan selalu memasukkan tempat khusus untuk anak-anak, dan keputusannya untuk meminta Confraternity of Christian Doctrine di setiap paroki sebagian dimotivasi oleh keinginan untuk mendapatkan kembali anak-anak dari kebodohan agama.[18]
Reformasi dan teologi gereja
Pemulihan dalam Kristus dan Mariologi
Pius X mempromosikan persekutuan setiap hari untuk semua umat Katolik, sebuah praktik yang dikritik karena memperkenalkan ketidaksopanan. Dalam ensiklik 1904-nya Ad diem illum, ia memandang Maria dalam konteks "memulihkan segala sesuatu dalam Kristus".
Dia menulis:
Secara rohani kita semua adalah anak-anaknya dan dia adalah ibu dari kita, oleh karena itu, dia harus dihormati seperti seorang ibu.[20] Kristus adalah Firman yang membuat Daging dan Juruselamat umat manusia. Dia memiliki tubuh fisik seperti setiap manusia lainnya: dan sebagai penyelamat keluarga manusia, dia memiliki tubuh spiritual dan mistis, Gereja. Ini, menurut Paus memiliki konsekuensi bagi pandangan kita tentang Perawan Suci. Dia tidak memahami Putra Allah yang Kekal hanya agar Dia dapat menjadi manusia yang mengambil sifat manusiawi-Nya darinya, tetapi juga, dengan memberinya sifat manusiawi, agar Dia menjadi Penebus manusia. Maria, membawa Juruselamat di dalam dirinya, juga membawa semua orang yang hidupnya terkandung dalam kehidupan Juruselamat. Karena itu, semua umat beriman yang bersatu dengan Kristus, adalah anggota tubuh-Nya, daging-Nya, dan tulang-tulang-Nya[21] dari rahim Maria seperti tubuh yang disatukan ke kepalanya. Melalui cara spiritual dan mistis, semua adalah anak-anak Maria, dan dia adalah Ibu mereka. Ibu, secara rohani, tetapi benar-benar Ibu dari anggota Kristus (S. Aug. L. de S. Virginitate, c. 6).[20]
Selama masa kepausan Pius X, banyak gambar Maria yang terkenal diberikan penobatan kanonik: Our Lady of Aparecida, Our Lady of the Pillar, Our Lady of the Cape, Our Lady of Chiquinquira of Colombia, Our Lady of San Juan de los Lagos, Our Lady of La Naval de Manila, Virgin of Help of Venezuela, Our Lady of Carmel of New York, ikon Maria dari Santuario della Consolata dan Konsepsi Tak Bernoda di dalam Chapel of the Choir di dalam Basilika Santo Petrus diberikan penghargaan bergengsi ini.
Tra le sollecitudini dan nyanyian Gregorian
Dalam waktu tiga bulan penobatannya, Pius X menerbitkan bukunya motu proprio Tra le sollecitudini. Komposisi Klasik dan Barok telah lama lebih disukai daripada nyanyian Gregorian dalam musik gerejawi.[22] Paus mengumumkan kembali ke gaya musik sebelumnya, diperjuangkan oleh Lorenzo Perosi. Sejak 1898, Perosi telah menjadi Direktur Sistine Chapel Choir, sebuah gelar yang ditingkatkan oleh Pius X menjadi "Direktur Abadi". Pilihan Paus Joseph Pothier untuk mengawasi edisi baru nyanyian mengarah pada adopsi resmi dari Solesmes edisi nyanyian Gregorian.
Reformasi liturgi
Dalam kepausannya, Pius X berupaya meningkatkan pengabdian dalam kehidupan para klerus dan kaum awam, khususnya dalam Breviary, yang ia direformasi secara luas, dan Misa.
Selain memulihkan Greantian Chant, ia menempatkan penekanan liturgis baru pada Ekaristi, dengan mengatakan, "Komuni Suci adalah jalan terpendek dan teraman ke Surga." Untuk tujuan ini, ia sering mendorong penerimaan Komuni Suci. Ini juga meluas ke anak-anak yang telah mencapai "usia kebijaksanaan", meskipun ia tidak mengizinkan praktik Timur kuno persekutuan bayi. Dia juga menekankan jalan yang sering ke Sakramen Tobat sehingga Perjamuan Kudus akan diterima dengan layak. Pengabdian Pius X kepada Ekaristi pada akhirnya akan memberinya kehormatan "Paus Sakramen Mahakudus", yang dengannya ia masih dikenal di antara para penyembahnya.
Pada tahun 1910, ia mengeluarkan dekrit 'Quam singulari' ', yang mengubah usia di mana persekutuan dapat diterima dari 12 hingga 7 tahun, zaman kebijaksanaan Paus menurunkan usianya karena ia ingin mengesankan peristiwa itu di benak anak-anak dan merangsang orang tua mereka untuk ketaatan agama yang baru; dekrit ini ditemukan tidak disukai di beberapa tempat karena kepercayaan bahwa orang tua akan menarik anak-anak mereka lebih awal dari sekolah-sekolah Katolik, sekarang Komuni Pertama dilaksanakan sebelumnya.[18]
Pius X berkata padanya 1903 motu proprio Tra le sollecitudini, "Sumber utama dan tak terpisahkan dari roh Kristen sejati adalah partisipasi dalam misteri yang paling suci dan di depan umum, doa resmi gereja."[18]
Dia juga berusaha untuk memodifikasi upacara kepausan untuk menggarisbawahi signifikansi keagamaan mereka dengan menghilangkan kesempatan untuk tepuk tangan. Misalnya, ketika memasuki konsistori publik pertamanya untuk pembuatan kardinal pada bulan November 1903, ia tidak dibawa di atas kerumunan orang pada sedia gestatoria seperti tradisional. Dia tiba dengan berjalan kaki mengenakan cope dan mitre di akhir prosesi wali gereja "hampir bersembunyi di belakang garis ganda Pengawal Palatine yang dilaluinya".[23]
Anti-modernisme
Paus Leo XIII telah berusaha untuk menghidupkan kembali warisan Thomas Aquinas, 'pernikahan akal dan wahyu', sebagai tanggapan terhadap 'pencerahan' sekuler. Di bawah kepausan Pius X neo-Thomisme menjadi cetak biru untuk pendekatan terhadap teologi.[24] Kepausan Pius X menampilkan kecaman keras atas apa yang disebutnya 'modernis' dan 'relativis' yang ia anggap berbahaya bagi iman Katolik (lihat misalnya sumpahnya melawan modernisme). Ini mungkin aspek paling kontroversial dari kepausannya. Dia juga mendorong pembentukan dan upaya Sodalitium Pianum (atau Liga Pius V), sebuah jaringan informan anti-Modernis, yang dipandang negatif oleh banyak orang karena tuduhan bid'ah terhadap orang-orang di bukti paling tipis.[18] Kampanye menentang Modernisme ini dijalankan oleh Umberto Benigni di Departemen Urusan Luar Biasa di Sekretariat Negara, mendistribusikan propaganda anti-Modernis dan mengumpulkan informasi tentang "penjahat". Benigni memiliki kode rahasianya sendiri — Pius X dikenal sebagai Mama.[25]

Sikap Pius X terhadap kaum Modernis tanpa kompromi. Berbicara tentang mereka yang menasihati "pelaku", katanya: "Mereka ingin mereka diperlakukan dengan minyak, sabun dan belaian. Namun, mereka harus dipukuli dengan kepalan. Dalam duel, Anda tidak menghitung atau mengukur pukulan, Anda menyerang sebanyak yang Anda bisa."[25]
Gerakan ini dikaitkan terutama dengan para sarjana Katolik Prancis tertentu seperti Louis Duchesne, yang mempertanyakan kepercayaan bahwa Tuhan bertindak secara langsung dalam urusan kemanusiaan, dan Alfred Loisy, yang menyangkal bahwa beberapa bagian dari Alkitab secara literal lebih benar daripada mungkin secara metaforis benar. Dalam kontradiksi dengan Thomas Aquinas mereka berpendapat bahwa ada kesenjangan yang tidak dapat dijembatani antara pengetahuan alam dan supranatural. Efeknya yang tidak diinginkan, dari sudut pandang tradisional, adalah relativisme dan skeptisisme.[26] Modernisme dan relativisme, dalam hal kehadiran mereka di gereja, adalah tren teologis yang mencoba mengasimilasi para filsuf modern seperti Immanuel Kant serta rasionalisme ke dalam teologi Katolik.[butuh rujukan] Kaum modernis berpendapat bahwa kepercayaan gereja telah berkembang sepanjang sejarahnya dan terus berkembang [butuh rujukan] Anti-modernis memandang gagasan ini sebagai bertentangan dengan dogma dan tradisi Gereja Katolik.
Dalam sebuah dekrit, berjudul Lamentabili sane exitu[27](atau "Keberangkatan yang Sesungguhnya"), yang diterbitkan 3 Juli 1907, Pius X secara resmi mengutuk 65 proposisi modernis atau relativis mengenai sifat gereja, wahyu, penafsiran alkitab, sakramen, dan keilahian Kristus. Ini diikuti oleh ensiklik Pascendi dominici gregis (atau "Memberi Makan Kawanan Tuhan"), yang mengkarakteristikkan Modernisme sebagai "sintesis dari semua ajaran sesat." Setelah ini, Pius X memerintahkan agar semua ulama mengambil Sacrorum antistitum, sumpah menentang Modernisme. Sikap agresif Pius X terhadap modernisme menyebabkan beberapa gangguan di dalam gereja. Meskipun hanya sekitar 40 klerus menolak untuk mengambil sumpah, para sarjana Katolik dengan kecenderungan modernis secara substansial tidak dianjurkan. Para teolog yang ingin menempuh jalur penyelidikan sejalan dengan sekularisme, modernisme, atau relativisme harus berhenti, atau menghadapi konflik dengan kepausan, dan bahkan mungkin ekskomunikasi.
Katekismus Santo Pius X

Pada tahun 1905, Pius X dalam suratnya Acerbo nimis mengamanatkan keberadaan Confraternity of Christian Doctrine (kelas katekismus) di setiap paroki di dunia.[18]
Katekismus Pius X adalah perwujudannya katekisme sederhana, sederhana, singkat, populer untuk penggunaan seragam di seluruh dunia; itu digunakan di provinsi gerejawi Roma dan selama beberapa tahun di bagian lain Italia; Namun, itu tidak ditentukan untuk digunakan di seluruh gereja universal.[28] Karakteristik Pius X adalah "kesederhanaan eksposisi dan kedalaman konten. Juga karena ini, katekismus Pius X mungkin memiliki teman di masa depan."[29][30] Katekismus dimuliakan sebagai metode pengajaran agama dalam ensikliknya Acerbo nimis pada April 1905.[31]
Katekismus Santo Pius X dikeluarkan pada tahun 1908 dalam bahasa Italia, sebagai Catechismo della dottrina Cristiana, Pubblicato per Ordine del Sommo Pontifice San Pio. Terjemahan bahasa Inggris berjalan hingga lebih dari 115 halaman.[32]
Ditanya pada tahun 2003 apakah Katekismus Santo Pius X yang hampir 100 tahun masih berlaku, Kardinal Joseph Ratzinger mengatakan: "Iman seperti itu selalu sama. Karena itu, Katekismus Santo Pius X selalu mempertahankan nilainya. Sedangkan cara mentransmisikan isi iman dapat berubah sebagai gantinya. Dan karenanya orang mungkin bertanya-tanya apakah Katekismus Santo Pius X dapat dalam arti itu masih dianggap valid hari ini."[30]
Reformasi hukum kanon
Hukum Kanon di Gereja Katolikbervariasi dari satu daerah ke daerah tanpa resep keseluruhan. Pada 19 Maret 1904, Paus Pius X menugaskan komisi para kardinal untuk merancang satu set undang-undang universal. Dua penggantinya bekerja di komisi itu, Giacomo della Chiesa, yang menjadi Paus Benediktus XV dan Eugenio Pacelli, yang menjadi Paus Pius XII. Dua penggantinya bekerja di komisi itu, Giacomo della Chiesa, yang menjadi Paus Benediktus XV dan Eugenio Pacelli, yang menjadi Paus Pius XII. Ini Code of Canon Law pertama diumumkan secara resmi oleh Benediktus XV pada 27 Mei 1917, dengan tanggal efektif 19 Mei 1918[33] and remained effect until Advent 1983.[34]
Reformasi administrasi Gereja
Pius X mereformasi Kuria Roma dengan konstitusi Sapienti consilio dan menetapkan aturan baru yang menegakkan pengawasan seorang uskup atas seminari di ensiklik Pieni l'animo. Dia mendirikan seminari-seminari regional (menutup beberapa yang lebih kecil), dan mengumumkan rencana baru pembelajaran seminari. Dia juga melarang pastor mengelola organisasi sosial.
Kebijakan Gereja terhadap pemerintahan sekuler

Pius X membalikkan pendekatan akomodatif dari Leo XIII terhadap pemerintahan sekuler, menunjuk Rafael Merry del Val sebagai Sekretaris Kardinal Negara (Merry del Val nantinya akan memiliki alasan sendiri dibuka untuk kanonisasi pada tahun 1953, tetapi masih belum dibeatifikasi[18]). Ketika presiden Prancis Émile Loubet mengunjungi raja Italia Victor Emmanuel III (1900–1946), Pius X, masih menolak untuk menerima aneksasi wilayah kepausan oleh Italia, mencela presiden Prancis untuk kunjungan ini. dan menolak untuk bertemu dengannya. Hal ini menyebabkan jeda diplomatik dengan Prancis, dan pada tahun 1905 Prancis mengeluarkan Hukum Pemisahan, yang memisahkan gereja dan negara, dan yang dicela Paus. Efek dari pemisahan ini adalah gereja kehilangan dana pemerintah di Prancis. Dua uskup Prancis disingkirkan oleh Vatikan karena mengakui Republik Ketiga. Akhirnya, Prancis mengusir Yesuit dan memutuskan hubungan diplomatik dengan Vatikan.
Paus mengadopsi posisi serupa terhadap pemerintahan sekuler di bagian lain dunia: di Portugal, Irlandia, Polandia, Ethiopia, dan sejumlah negara lain dengan populasi Katolik yang besar. Tindakan dan pernyataannya terhadap hubungan internasional dengan Italia membuat marah kekuatan sekuler dari negara-negara ini, serta beberapa negara lain, seperti Inggris dan Rusia. Dalam Ulster, Protestan semakin khawatir bahwa usulan Peraturan Rumah Irlandia yang dijalankan oleh umat Katolik yang diilhami oleh Pius X akan menghasilkan Aturan Roma .
Pada tahun 1908, dekrit kepausan 'Ne Temere' 'mulai berlaku yang mempersulit pernikahan campuran. Perkawinan yang tidak dilakukan oleh seorang pastor Katolik dinyatakan sah tetapi secara sakramental tidak sah, mengkhawatirkan beberapa Protestan bahwa gereja akan menasihati pemisahan untuk pasangan yang menikah di gereja Protestan atau dengan layanan sipil.[35] Priests were given discretion to refuse to perform mixed marriages or lay conditions upon them, commonly including a requirement that the children be raised Catholic. The decree proved particularly divisive in Ireland, which has a large Protestant minority, contributing indirectly to the subsequent political conflict there and requiring debates in the House of Commons of the United Kingdom.[36]
Ketika otoritas sekuler menantang kepausan, Pius X menjadi lebih agresif. Dia menangguhkan Opera dei Congressi, yang mengoordinasikan kerja asosiasi Katolik di Italia, serta mengutuk Le Sillon, sebuah gerakan sosial Prancis yang mencoba mendamaikan gereja. dengan pandangan politik liberal. Dia juga menentang serikat pekerja yang bukan hanya Katolik.
Pius X mencabut sebagian keputusan yang melarang umat Katolik Italia memilih; Namun, ia tidak pernah mengakui pemerintah Italia.
Penolakan terhadap Zionisme
Pada tanggal 26 Januari 1904, Pius X menerima Theodor Herzl, Bapak Zionisme politik modern, dalam sebuah audiensi; Herzl berharap dapat meyakinkan Vatikan untuk mendukung gerakannya. Pius X menghormati Herzl, tetapi tidak akan mendukung pembentukan Negara Israel modern, menyebut penolakan orang Yahudi untuk mengakui Yesus sebagai Mesias dalam Alkitab.[37]
Hubungan dengan Kerajaan Italia
Awalnya, Pius mempertahankan sikap tahanan di Vatikan tetapi dengan bangkitnya sosialisme ia mulai membiarkan 'Non Expedit' 'menjadi rileks. Pada tahun 1905, dalam ensiklik Il fermo proposito [de; it; la] ia mengizinkan umat Katolik untuk memilih ketika mereka "membantu" pemeliharaan ketertiban sosial "dengan memilih para deputi yang bukan sosialis.[butuh rujukan]
Hubungan dengan Polandia dan Rusia
Di bawah Pius X, situasi tradisional Katolik Polandia yang sulit di Rusia tidak membaik. Meskipun Nicholas II dari Rusia mengeluarkan dekrit 22 Februari 1903, yang menjanjikan kebebasan beragama bagi Gereja Katolik, dan, pada tahun 1905, mengumumkan konstitusi, yang mencakup kebebasan beragama,[38] Gereja Ortodoks Rusia merasa terancam dan bersikeras pada interpretasi yang kaku. Keputusan Kepausan tidak diizinkan dan kontak dengan Vatikan tetap dilarang.
Aktivitas untuk Amerika Serikat
Pada tahun 1908, Pius X mengangkat Amerika Serikat dari status misionarisnya, sebagai pengakuan atas pertumbuhan gereja Amerika.[18] Lima belas keuskupan baru diciptakan di AS selama masa kepausannya, dan ia menyebut dua kardinal Amerika. Dia sangat populer di kalangan umat Katolik Amerika, sebagian karena latar belakangnya yang buruk, yang membuatnya tampak sebagai orang biasa yang berada di atas takhta kepausan.[18]
Pada tahun 1910, paus menolak audiensi dengan mantan Wakil Presiden Charles W. Fairbanks, yang telah membahas asosiasi Metodis di Roma, juga seperti mantan Presiden Theodore Roosevelt, yang berniat untuk membahas hubungan yang sama.[18][39]
Pada tanggal 8 Juli 1914, Paus Pius X menyetujui permintaan Kardinal James Gibbons untuk memohon perlindungan dari Konsepsi Immaculate untuk lokasi pembangunan Kuil Nasional Maria Dikandung Tanpa Noda di Washington DC.[butuh rujukan]
Urusan internasional lainnya
Pius X berupaya membangun hubungan bilateral dengan Tiongkok.[40]: 18 Prancis, yang telah menegaskan protektorat keagamaannya di Tiongkok setelah perjanjian yang tidak adil, berpendapat bahwa Takhta Suci tidak memiliki wilayah kedaulatan dan tidak memiliki hak untuk bertindak secara independen dalam urusan internasional dan menghalangi upaya Pius X.[40]: 18
Mukjizat semasa hidup Paus
Netralitas artikel ini dipertanyakan. Diskusi terkait dapat dibaca pada halaman pembicaraan. Jangan hapus pesan ini sampai kondisi untuk melakukannya terpenuhi. (Mei 2025) (Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini) |
Selain kisah-kisah mukjizat yang dilakukan melalui perantaraan Paus setelah kematiannya, ada juga kisah-kisah mukjizat yang dilakukan oleh Paus semasa hidupnya. Pada suatu kesempatan, selama audiensi kepausan, Pius X sedang menggendong seorang anak lumpuh yang berhasil melepaskan diri dari pelukannya dan kemudian berlari mengelilingi ruangan. Pada kesempatan lain, sepasang suami istri (yang telah mengaku dosa kepadanya ketika ia masih menjadi uskup Mantua) yang memiliki anak berusia dua tahun yang menderita meningitis menulis surat kepada Paus dan Pius X, lalu membalas surat mereka dengan harapan dan doa. Dua hari kemudian, anak itu sembuh.[18]
Kardinal Ernesto Ruffini (kemudian menjadi Uskup Agung Palermo) telah mengunjungi Paus setelah Ruffini didiagnosis menderita tuberkulosis, dan Paus menyuruhnya untuk kembali ke seminari dan mengatakan bahwa ia akan baik-baik saja. Ruffini menyampaikan kisah ini kepada para penyelidik dalam proses kanonisasi Paus.[18]
Suatu ketika, seorang pria yang menderita kelumpuhan lengan memohon bantuan kepada Pius X. Sambil memegang lengannya, Paus hanya berkata, "Percayalah kepada Tuhan... hanya berimanlah dan Tuhan akan menyembuhkanmu." Pada saat itu, pria tersebut benar-benar dapat menggerakkan lengannya, berseru dengan gembira kepada Paus yang hanya meletakkan jari di bibirnya agar tidak menarik perhatian pada apa yang telah terjadi, menunjukkan bahwa pria itu hanya diam saja.[10] Kasus lain melibatkan seorang gadis Irlandia yang dipenuhi luka borok yang dibawa menemui Paus oleh ibunya. Ketika Pius X melihatnya, ia meletakkan tangannya di kepala gadis itu, dan luka borok tersebut menghilang sepenuhnya. Kasus lain melibatkan seorang siswi di Roma yang tertular penyakit kaki serius yang membuatnya lumpuh sejak usia satu tahun. Melalui seorang teman, dia berhasil mendapatkan salah satu kaus kaki Paus dan diberi tahu bahwa dia akan sembuh jika memakainya, dan dia pun melakukannya. Saat ia mengenakan kaus kaki itu, kaki yang sakit itu langsung sembuh. Ketika Pius X mendengar tentang hal ini, ia tertawa dan berkata, "Alangkah lucunya! Saya memakai kaus kaki saya sendiri setiap hari dan tetap saja kaki saya terus-menerus sakit!"[10]
Aktivitas lain

Selain pertahanan politik gereja, reformasi liturgi, anti-modernisme, dan awal kodifikasi hukum kanon, kepausan Pius X melihat reorganisasi Kuria Romawi. Dia juga berupaya memperbarui pendidikan para imam, seminari, dan kurikulum mereka direformasi. Pada tahun 1904 Paus Pius X memberikan izin bagi para seminaris diosis untuk menghadiri Sekolah Tinggi St. Thomas. Dia mengangkat perguruan tinggi ke status Pontificium pada 2 Mei 1906, sehingga membuat derajatnya setara dengan universitas kepausan lainnya di dunia.[41][42] Dengan Surat Apostolik pada 8 November 1908, ditandatangani oleh Paus Agung pada 17 November, perguruan tinggi itu diubah menjadi Collegium Pontificium Internationale Angelicum. Itu akan menjadi Universitas Kepausan St Thomas Aquinas, Angelicum pada tahun 1963.
Pius X menerbitkan 16 ensiklik; di antara mereka adalah Vehementer nos pada tanggal 11 Februari 1906, yang mengutuk 1905 hukum Prancis tentang pemisahan Negara dan Gereja. Pius X juga menegaskan, meskipun tidak sempurna,[43] the existence of Limbo in Catholic theology in his 1905 Catechism, saying that the unbaptized "do not have the joy of God but neither do they suffer... they do not deserve Paradise, but neither do they deserve Hell or Purgatory."[44] Pada 23 November 1903, Pius X mengeluarkan arahan kepausan, a motu proprio, yang melarang wanita bernyanyi di gereja Paduan Suara (mis. Paduan suara arsitektur).
Dalam Nubuat St. Malachy, kumpulan 112 nubuat tentang para paus, Pius X muncul sebagai Ignis Ardens atau "Membakar Api".
Pada bulan November 1913, Paus Pius X menyatakan tarian tango sebagai tidak bermoral dan terlarang bagi umat Katolik.[45] Kemudian, pada bulan Januari 1914, ketika tango terbukti terlalu populer untuk dinyatakan terlarang, Paus Pius X mencoba taktik yang berbeda, mengejek tango sebagai "salah satu hal paling bodoh yang dapat dibayangkan", dan merekomendasikan orang untuk menari furlana, tarian Venesia, sebagai gantinya.[46]
Kanonisasi dan beatifikasi
Pius X membeatifikasi sebanyak 131 orang (termasuk kelompok martir dan mereka yang diakui berdasarkan "kultus") dan mengkanonisasi empat orang. Mereka yang dikanonisasi selama masa kepausannya termasuk: Marie-Geneviève Meunier (1906), Rose-Chrétien de la Neuville (1906), Valentin de Berriochoa (1906), Clair dari Nantes (1907), Zdislava Berka (1907), John dari Ruysbroeck (1908), Andrew Nam Thung (1909), Agatha Lin (1909), Agnes De (1909), Joan of Arc (1909), dan John Eudes (1909). Mereka yang dikanonisasi olehnya adalah Alexander Sauli (1904), Gerard Majella (1904), Clement Mary Hofbauer (1909), dan Joseph Oriol (1909).
Pada tahun 1908 Paus Pius X menobatkan Yohanes Krisostomus sebagai santo pelindung para pengkhotbah.[47][48]
Konsistori

Pius X mengangkat 50 kardinal dalam tujuh konsistori yang diadakan selama masa kepausannya, yang mencakup tokoh-tokoh terkemuka Gereja pada waktu itu seperti Désiré-Joseph Mercier (1907) dan Pietro Gasparri (1907). Pada tahun 1911, ia meningkatkan perwakilan Amerika di jabatan kardinal berdasarkan fakta bahwa Amerika Serikat sedang berkembang; Paus juga menunjuk seorang kardinal in pectore (António Mendes Belo, yang namanya dispekulasikan secara akurat oleh media) pada tahun 1911 yang namanya kemudian ia ungkapkan pada tahun 1914. Pius X juga menobatkan Giacomo della Chiesa sebagai kardinal, penerus langsungnya, Paus Benediktus XV.
Di antara para kardinal yang ia nominasikan terdapat kardinal pertama kelahiran Brasil (dan kardinal pertama kelahiran Amerika Latin; Joaquim Arcoverde de Albuquerque Cavalcanti) dan yang pertama dari Belanda (Willem Marinus van Rossum) sejak 1523. Konsistori tahun 1911 merupakan konsistori dengan jumlah kardinal terbanyak dalam satu abad terakhir.
Pada tahun 1911, Paus dilaporkan ingin mengangkat Diomede Panici menjadi kardinal; namun, Panici meninggal sebelum pengangkatan tersebut terjadi. Selain itu, hal ini terjadi setelah Panici awalnya dipertimbangkan tetapi ditolak untuk pengangkatan oleh Paus Leo XIII yang bahkan mempertimbangkan untuk mengangkat saudara laki-laki Panici. Dalam konsistori tahun 1914, Pius X mempertimbangkan untuk menamai biarawan Kapusin Armando Pietro Sabadel untuk menjadi kardinal; namun, Sabadel menolak undangan Paus.
Kematian dan pemakaman

Pada tahun 1913, Paus Pius X menderita serangan jantung, dan selanjutnya hidup dalam kondisi kesehatan yang buruk. Pada tahun 1914, Paus jatuh sakit pada Pesta Kenaikan Maria (15 Agustus 1914); mengakibatkan penyakit yang tidak akan menyembuhkannya, dan dilaporkan bahwa ia menderita demam dan komplikasi paru-paru. Kondisinya memburuk akibat peristiwa yang menyebabkan pecahnya Perang Dunia I (1914–1918), yang dilaporkan membuat pria berusia 79 tahun itu jatuh ke dalam keadaan melankolis.
Meskipun kondisi Paus diklasifikasikan sebagai serius, gejala yang mengkhawatirkan baru muncul pada tanggal 19 Agustus. Meskipun Pius X menghabiskan sebagian besar hari itu dalam keadaan sadar dan tidak sadar bergantian, ia mengatakan pada suatu saat, "Di zaman dahulu, Paus dengan satu kata saja mungkin bisa menghentikan pembantaian, tetapi sekarang dia tidak berdaya". Tak lama kemudian Paus menerima Sakramen Terakhir dan akhirnya, infeksi bronkitis lama yang pernah diderita Paus beberapa tahun lalu kambuh kembali, mempercepat penurunan kesehatannya.[49] Penyakit yang dideritanya telah menyebar ke saluran bronkial sehingga menyebabkan pneumonia yang merenggut nyawanya.[50]

Dia meninggal pada pukul 1:20 pagi hari Kamis, 20 Agustus 1914, hanya beberapa jam setelah kematian pemimpin Yesuit Franz Xavier Wernz, dan tepat pada hari ketika pasukan Jerman berbaris memasuki Brussels. Dalam momen kejernihan pikiran sesaat sebelum wafatnya, Pius X dilaporkan mengatakan: "Sekarang aku mulai berpikir akhir zaman sudah dekat. Tuhan Yang Mahakuasa dalam kebaikan-Nya yang tak terbatas ingin menyelamatkanku dari kengerian yang sedang dialami Eropa".[51] Adiknya, Anna, sedang berdoa di samping tempat tidurnya ketika Pius X meninggal. Tindakan terakhir Paus sebelum meninggal adalah mencium salib kecil yang digenggamnya sekitar pukul 1:15 pagi.[10]
Pius X dimakamkan di makam sederhana dan tanpa hiasan di ruang bawah tanah di bawah Basilika Santo Petrus. Jenazahnya disemayamkan pada tanggal 21 Agustus dengan jubah kepausan merah dan kemudian dimakamkan setelah Misa Requiem, peti jenazahnya disemayamkan di atas sebuah catafalque besar di Kapel Sistina.[52] Batu nisan aslinya bertuliskan: "Paus Pius X, miskin namun kaya, lembut dan rendah hati, pembela Iman Katolik yang tak terkalahkan, yang selalu berusaha untuk memperbarui segala sesuatu di dalam Kristus".[16] Para dokter kepausan memiliki kebiasaan mengeluarkan organ tubuh untuk membantu proses pembalseman. Pius X secara tegas melarang hal ini dalam pemakamannya dan para paus berikutnya melanjutkan tradisi ini. Makam Pius X terletak di dekat makam Paus Yohanes XXIII dan Paus Yohanes Paulus II di bawah altar Persembahan.
Ia digantikan oleh Giacomo della Chiesa, yang dikenal sebagai Paus Benediktus XV.
Penggalian
Pada tanggal 19 Mei 1944, jenazah Pius X digali untuk diperiksa sebagai bagian dari proses beatifikasi, di mana jenazah tersebut ditemukan dalam keadaan secara ajaib tidak busuk. Pada tahun 1959, jenazah mendiang paus dikirim, dengan izin dari Paus Yohanes XXIII (yang juga mantan Patriark Venesia), ke Venesia. Sebelum jenazah dibawa ke Venesia melalui kereta api pada tanggal 11 April, Paus Yohanes XXIII memimpin kebaktian doa kecil bersama beberapa kardinal lainnya. Jenazah tersebut dipajang untuk penghormatan umat beriman di Basilika Santo Markus selama satu bulan (12 April–10 Mei) sebelum dikembalikan ke tempat peristirahatan asli mendiang paus, dengan Kardinal Giovanni Urbani bertindak sebagai utusan kepausan untuk acara yang berlangsung selama sebulan.[53]
Kanonisasi
Pius X | |
|---|---|
Potret resmi, 1903 | |
| Paus, Konfesor | |
| Dihormati di | Gereja Katolik |
| Beatifikasi | 3 Juni 1951, Basilika Santo Petrus, Kota Vatikan oleh Paus Pius XII |
| Kanonisasi | 29 Mei 1954, Basilika Santo Petrus, Kota Vatikan oleh Paus Pius XII |
| Pesta | 21 Agustus 3 September (Kalender Romawi Umum 1955–1969) |
| Pelindung | Keuskupan Agung Atlanta, Georgia; Keuskupan Des Moines, Iowa; penerima komuni pertama; Keuskupan Great Falls-Billings, Montana; Keuskupan Agung Kottayam, India; peziarah; Santa Luċija, Malta; Keuskupan Springfield-Cape Girardeau, Missouri; Keuskupan Agung Zamboanga, Filipina; emigran dari Treviso; Patriarkat Venesia; Seminari St. Pius X (Dubuque, Iowa) |

Meskipun kanonisasi Pius X terjadi pada tahun 1954, peristiwa-peristiwa yang mengarah ke sana dimulai segera setelah kematiannya. Sebuah surat tertanggal 24 September 1916 dari Monsignor Leo, Uskup Nicotera dan Tropea, menyebut Pius X sebagai "seorang Santo yang agung dan seorang Paus yang agung." Untuk mengakomodasi banyaknya peziarah yang ingin mengakses makamnya, yang melebihi kapasitas ruang bawah tanah, "sebuah salib logam kecil dipasang di lantai basilika," yang tertulis Pius Papa X, "agar umat beriman dapat berlutut tepat di atas makam".[54] Misa diadakan di dekat makamnya hingga tahun 1930.
Pengabdian kepada Pius X antara kedua perang dunia tetap tinggi. Pada tanggal 14 Februari 1923, untuk memperingati ulang tahun ke-20 pengangkatannya sebagai Paus, langkah pertama menuju kanonisasinya dimulai dengan pengangkatan resmi orang-orang yang akan meneruskan perjuangannya. Peristiwa itu ditandai dengan didirikannya monumen untuk mengenangnya di Basilika Santo Petrus. Pada tanggal 19 Agustus 1939, Paus Pius XII (1939–58) menyampaikan penghormatan kepada Pius X di Kastil Gandolfo. Pada tanggal 12 Februari 1943, perkembangan lebih lanjut dari perjuangan Pius X tercapai, ketika ia dinyatakan telah menunjukkan kebajikan heroik, Oleh karena itu, ia memperoleh gelar "Venerabilis".
Pada tanggal 19 Mei 1944, peti jenazah Pius X digali dan dibawa ke Kapel Salib Suci di Basilika Santo Petrus untuk pemeriksaan kanonik.[55] Setelah membuka peti mati, para pemeriksa menemukan jenazah Pius X dalam kondisi yang sangat baik, meskipun ia telah meninggal 30 tahun sebelumnya dan telah menyampaikan keinginannya untuk tidak dibalsem. Menurut Jerome Dai-Gal, "seluruh tubuh" Pius X "berada dalam kondisi pelestarian yang sangat baik".[54] Pada upacara pengakuan kanonik jenazahnya, hadir para kardinal Italia Alfredo Ottaviani dan Nicola Canali.[56]
Setelah pemeriksaan dan berakhirnya proses kerasulan terhadap perkara Pius X, Pius XII menganugerahkan gelar Venerabilis kepada Pius X. Jenazahnya dibiarkan terbuka selama 45 hari (Roma dibebaskan oleh Sekutu selama waktu ini), sebelum dikembalikan ke makamnya.
Setelah itu, proses menuju beatifikasi dimulai, dan penyelidikan oleh Kongregasi Suci Ritus (SCR) mukjizat yang dilakukan melalui pekerjaan perantaraan Pius X pun terjadi. SCR akhirnya mengakui dua mukjizat. Kasus pertama melibatkan Marie-Françoise Deperras, seorang biarawati yang menderita kanker tulang dan sembuh pada tanggal 7 Desember 1928 selama sebuah novena di mana relik Pius X diletakkan di dadanya. Kisah kedua melibatkan biarawati Benedetta De Maria, yang menderita kanker, dan dalam sebuah novena yang dimulai pada tahun 1938, ia akhirnya menyentuh patung relik Pius X dan sembuh.[57]
Paus Pius XII secara resmi menyetujui kedua mukjizat tersebut pada tanggal 11 Februari 1951; dan pada tanggal 4 Maret, Pius XII, dalam De Tuto-nya, menyatakan bahwa Gereja dapat melanjutkan beatifikasi Pius X. Beatifikasinya berlangsung pada tanggal 3 Juni 1951[58] di Basilika Santo Petrus di hadapan 23 kardinal, ratusan uskup dan uskup agung, serta kerumunan 100.000 umat beriman. Selama dekrit beatifikasinya, Pius XII menyebut Pius X sebagai "Paus Ekaristi", untuk menghormati perluasan ritus tersebut kepada anak-anak yang dilakukan oleh Pius X.

Proses kanonisasi Pius X dibuka pada tanggal 24 November 1951.[58] Pada tanggal 17 Februari 1952, jenazah Pius X dipindahkan dari makamnya ke basilika Vatikan dan ditempatkan di bawah altar Kapel Persembahan di Basilika Santo Petrus. Jenazah Paus terbaring di dalam sarkofagus yang terbuat dari kaca dan perunggu agar dapat dilihat oleh umat beriman.[59]
Pada tanggal 29 Mei 1954, kurang dari tiga tahun setelah beatifikasinya, Pius X dikanonisasi, menyusul pengakuan SCR atas dua mukjizat lainnya. Kasus pertama melibatkan Francesco Belsami, seorang pengacara dari Napoli yang menderita abses paru-paru, yang sembuh setelah meletakkan gambar Paus Pius X di dadanya. Mukjizat kedua melibatkan Suster Maria Ludovica Scorcia, seorang biarawati yang menderita virus neurotropik yang serius, dan yang, setelah beberapa novena, sembuh total. Misa kanonisasi dipimpin oleh Pius XII di Basilika Santo Petrus di hadapan sekitar 800.000 orang[60] dari umat beriman dan para pejabat Gereja di Basilika Santo Petrus. Pius X menjadi paus pertama yang dikanonisasi sejak Pius V pada tahun 1712.[61]
Upacara kanonisasinya direkam dan disiarkan oleh penyiar berita televisi, termasuk NBC.
Kartu doa sering menggambarkan Paus yang disucikan dengan perlengkapan Komuni Kudus. Selain dikenal sebagai "Paus Sakramen Mahakudus", Pius X juga merupakan santo pelindung para emigran dari Treviso. Ia dihormati di berbagai paroki di Italia, Jerman, Belgia, Kanada, dan Amerika Serikat.
Jumlah paroki, sekolah, seminari, dan rumah retret yang dinamai menurut namanya di negara-negara Barat sangat banyak, sebagian karena dia sangat terkenal, dan beatifikasi serta kanonisasinya pada awal tahun 1950-an terjadi pada periode setelah Perang Dunia II ketika terjadi banyak pembangunan baru di kota-kota dan pertumbuhan penduduk di era baby boom, sehingga menyebabkan perluasan institusi Katolik yang berkorelasi dengan pertumbuhan masyarakat.[18]
Hari raya Paus Pius X ditetapkan pada tanggal 3 September pada tahun 1955, untuk dirayakan sebagai Hari Raya Ganda. Hal ini berlangsung selama 15 tahun. Pada kalender tahun 1960, statusnya diubah menjadi Hari Raya Kelas Tiga. Peringkat dalam Kalender Romawi Umum sejak 1969 adalah Peringatan dan hari rayanya wajib dirayakan pada tanggal 21 Agustus, mendekati hari kematiannya (20 Agustus, terhalang oleh hari raya Santo Bernardus).[62]
Persaudaraan Doktrin Kristen adalah pendukung besar kanonisasinya, sebagian karena ia telah menetapkan perlunya keberadaan persaudaraan tersebut di setiap keuskupan dan karena persaudaraan tersebut telah menerima banyak dukungan, dan diperkirakan bahwa dengan mengkanonisasi Paus yang memberi mereka mandat, hal ini akan membantu menangkal kritik tersebut.[18] Mereka memulai gerakan doa untuk kanonisasi dirinya yang berhasil mengumpulkan lebih dari dua juta nama sebagai tanda dukungan.[18]
Setelah kanonisasi Paus, keajaiban lain konon terjadi ketika seorang aktivis keluarga Kristen bernama Clem Lane menderita serangan jantung hebat dan ditempatkan di dalam tenda oksigen, di mana ia menerima sakramen pengurapan terakhir. Sebuah relik Paus diletakkan di atas tendanya, dan ia sembuh, yang sangat mengejutkan para dokternya.[18] Seorang saudari Loretto di Webster College di St. Louis, Missouri, mengklaim bahwa saudara laki-lakinya yang seorang imam juga telah disembuhkan melalui perantaraan Paus.[18]
Lambang kepausan

Lambang kepausan pribadi Pius X terdiri dari unsur-unsur tradisional semua lambang kepausan sebelumnya Paus Benediktus XVI: perisai, tiara kepausan, dan kunci, symbolizing papal authority.
Perisai tersebut terbagi menjadi dua bagian, karena berbentuk per fess. Di perisai bagian atas (chief) terdapat lambang Patriark Venesia, yang merupakan kedudukan Paus Pius X dari tahun 1893 hingga 1903. Lambang ini terdiri dari Singa Santo Markus yang sebenarnya dan dikelilingi lingkaran cahaya perak di atas latar belakang putih keperakan, menampilkan sebuah buku dengan tulisan PAX TIBI MARCE di sebelah kiri dan EVANGELISTA MEUS di sebelah kanan. Kata-katanya berarti "Damai sejahtera bagimu, Markus, penginjilku", motto Venesia sebagai tempat peristirahatan terakhir Markus sang Penginjil; namun, lambang Republik Venesia memiliki latar belakang merah.[63] Para Patriark Venesia sebelumnya telah menggabungkan lambang pribadi mereka dengan lambang Patriarkat ini.[64] Lambang "utama" yang sama dapat dilihat pada lambang para paus selanjutnya yang merupakan Patriark Venesia setelah terpilih menjadi Paus Roma, yaitu Yohanes XXIII dan Yohanes Paulus I. Penggambaran bagian dari lambang Pius X ini menunjukkan singa dengan atau tanpa pedang, dan terkadang hanya satu sisi buku yang ditulis.[butuh rujukan]
Perisai bagian bawah menampilkan lambang Pius X sebagai Uskup Mantua: jangkar yang dilemparkan ke laut yang berbadai (garis-garis bergelombang biru dan perak), diterangi oleh satu bintang berujung enam berwarna emas.[63] Ini terinspirasi dari Ibrani Bab 6, Ayat 19, (Indonesia: "Harapan yang kita miliki adalah jangkar jiwa yang pasti dan teguh") Uskup Sarto pernah berkata, "Harapan adalah satu-satunya pendamping hidupku, penopang terbesar dalam ketidakpastian, kekuatan terkuat dalam situasi kelemahan."[butuh rujukan]
Meskipun tidak tertera pada lambang kebesarannya, motto Pius X yang paling terkenal adalah: Instaurare omnia in Christo (Indonesia: "Untuk memulihkan segala sesuatu di dalam Kristus"),[65] diduga sebagai kata-kata terakhirnya sebelum meninggal.[butuh rujukan]
Dalam fiksi
Kehidupan Paus Pius X digambarkan dalam film tahun 1951 Gli uomini non-guardano il cielo karya Umberto Scarpelli. Film ini berpusat pada tahun 1914, ketika Paus berduka atas ancaman yang mengintai dan dihibur oleh keponakannya.
Sebuah penggambaran satir tentang Paus Pius X disajikan dalam novel karya Flann O'Brien The Hard Life, saat para tokoh Irlandia melakukan perjalanan dari Dublin ke Roma dan mendapatkan kesempatan wawancara pribadi dengan Paus, yang berakhir sangat buruk.
Referensi
- ↑ "hSarto". Araldica vaticana. Diakses tanggal 23 Juni 2013.
- ↑ "Pope joins faithful at altar of St. Pius X". Vatican Insider. 22 Agustus 2015. Diarsipkan dari asli tanggal 28 September 2015. Diakses tanggal 23 Agustus 2015.
- ↑ "Why is St. Pius X the Society's patron?". 25 Agustus 2014.
- ↑ Sarto 1904, 5.
- ↑ Lortz 1934, §113.
- ↑ Lortz 1934, §113,2.
- 1 2 3 Kühner 1960, hlm. 183.
- 1 2 Pius X. Franciscan SFO. Diarsipkan dari asli tanggal 24 September 2015. Diakses tanggal 8 Januari 2014..
- ↑ "Pope Pius X". Greenspun. Diakses tanggal 23 Juni 2013.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 "The Feast of Pope St. Pius X (#6) - Giuseppe Melchior Sarto, the Future Pope". District of Australia and New Zealand. Society of Saint Pius X. 1 September 2020. Diarsipkan dari asli tanggal 26 Maret 2023. Diakses tanggal 22 Februari 2022.
- ↑
Herbermann, Charles, ed. (1913). "Pope Pius X" . Catholic Encyclopedia. New York: Robert Appleton Company. - ↑ David Cheney, Bishop Federico Maria Zinelli †, catholic-hierarchy.org, accessed 10 October 2021
- ↑ "The Pope Who Had No Doctorate". The Catholic Herald. UK. 11 Mei 1956. Diakses tanggal 23 Juni 2013.
- ↑ Acta Sanctae Sedis (PDF). Vol. XXV. 1892–1893. hlm. 721. Diakses tanggal 5 Maret 2021.
- ↑ Acta Sanctae Sedis (PDF). Vol. XXVI. 1893–1894. hlm. 3, 7. Diakses tanggal 5 Maret 2021.
- 1 2 "Biography of St. Pius X". Church of Saint Pius X. Diakses tanggal 7 Februari 2022.
- ↑ "Sarto is Elected as Poep". Colombia Courier. 7 Agustus 1903. Diakses tanggal 22 Februari 2022.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Avella, Steven M; Zalar, Jeffrey (Fall 1997), "Sanctity in the Era of Catholic Action: The Case of St. Pius X", Catholic Historian, vol. 15, no. 4 (Edisi Spirituality and Devotionalism), US, hlm. 57–80
- ↑ "'Pope and Mussolini' Tells the 'Secret History' of Fascism and the Church". NPR. Diakses tanggal 4 Februari 2014.
- 1 2 Sarto 1904, 10.
- ↑ Ephes. v., 30.
- ↑ J. de Luca, Disharmony among bishops: on the binding nature of a papal motu proprio on music, Journal of the Australian Catholic Historical Society 35 (2014) Diarsipkan 2017-02-15 di Wayback Machine., 28-37.
- ↑ "The Pope's First Allocution". The Tablet: 778–9, 813–4. 14 November 1903. Diakses tanggal 18 Juli 2018.
- ↑ Noel 2009, hlm. 8.
- 1 2 Cornwell 2008, hlm. 37
- ↑ Cornwell 2008, hlm. 35
- ↑ Sarto, Giuseppe Melchiorre (3 Juli 1907). "Lamentabili Sane". Papal encyclicals. Diakses tanggal 23 Juni 2013.
- ↑ Sarto 1905, hlm. 3.
- ↑ Joseph Ratzinger (2 Mei 2003). "On the Abridged Version of Catechism". Zenit. Diarsipkan dari asli tanggal 18 Februari 2008. .
- 1 2 Ratzinger, Joseph, Interview, IT: 30 giorni, diarsipkan dari asli tanggal 21 Oktober 2007, diakses tanggal 4 Februari 2019,
The text... was characterized by simplicity of exposition and depth of content. That is also a reason why the Catechism of Saint Pius X may still find friends in the future
. - ↑ Sarto, Giuseppe Melchiorre (15 April 1905). "Acerbo Nimis". Rome, IT: Vatican. Diakses tanggal 23 Juni 2013.
- ↑ Sarto 1905, hlm. 2.
- ↑ Ap. Const. Providentissima Mater Ecclesia
- ↑ Ap. Const. Sacrae Disciplinae Leges
- ↑ Moir, John S. "Canadian Protestant Reaction to the Ne Temere Decree". Winnipeg, Manitoba: University of Manitoba. Diakses tanggal 23 Juni 2013.
- ↑ "Debate on 'Ne Temere'". Hansard. Mill Bank Systems. 1911. Diakses tanggal 23 Juni 2013.
- ↑ Herzl, Theodor (26 Januari 1904). "THEODOR HERZL: Audience with Pope Pius X (1904)". Council of Centers on Jewish-Christian Relations (dalam bahasa Inggris (Britania)).
- ↑ Schmidlin 1904, III, 125.
- ↑ "San Francisco Call 4 April 1910 — California Digital Newspaper Collection". cdnc.ucr.edu. Diakses tanggal 22 September 2017.
- 1 2 Wong, Stephanie M. (2025). Making Catholicism Chinese: the Catholic Church in a Modernizing China. New York, NY, United States of America: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-762369-5.
- ↑ "Acta Sanctae Sedis" (PDF). Ephemerides Romanae. 39. Rome, IT. 1906. Diakses tanggal 9 Juni 2011..
- ↑ Renz 2009, hlm. 43.
- ↑ "Out On A Limbo". Catholic. Diarsipkan dari asli tanggal 3 September 2011. Diakses tanggal 23 Juni 2013.
- ↑ "Past Roman Catholic statements about Limbo and the destination of unbaptised infants who die?". Religious tolerance. Diarsipkan dari asli tanggal 28 Mei 2013. Diakses tanggal 23 Juni 2013.
- ↑ "100 Years Ago You Would Have Been Talking About the Tango". New England Historical Society. Diarsipkan dari asli tanggal 18 Maret 2016. Diakses tanggal 4 Februari 2019.
- ↑ "Do the Furiana". The Milwaukee Journal. Diarsipkan dari asli tanggal 6 Mei 2016. Diakses tanggal 4 Februari 2019.
- ↑ "Chrysostom, John", An Episcopal Dictionary of the Church, The Episcopal Church
- ↑ Hanna, Shauna. "John Chrysostom", Living Lutheran, October 11, 2018
- ↑ "Death claims Pope Pius X". The Idaho Springs Siftings-News. 22 Agustus 1914. Diakses tanggal 10 Februari 2022.
- ↑ De Santo, Natale Gaspare; Bisaccia, Carmela; S De Santo, Luca (16 Februari 2022). "Pius X (1835-1914): the last gouty pope". Giornale Italiano di Nefrologia. 39 (1): 2022–vol1. ISSN 1724-5990. PMID 35191630.
...the diagnosis was pneumonia, heart failure, pericarditis and uremia due to gout.
- ↑ "The death of Pope Pius X". The Spectator. 22 Agustus 1914. Diakses tanggal 7 Februari 2022.
- ↑ "St. Pius X died today 100 years ago". District of the USA. Society of Saint Pius X. 21 Agustus 2014. Diakses tanggal 7 Februari 2022.
- ↑ "St. Pius X: Body Going to Venice". The Catholic Standard and Times. 3 April 1959. Diakses tanggal 7 Februari 2022.
- 1 2 Thouvenot, Fr. Christian (April 2004). "Canonization of Pope Pius X by Pope Pius XII". The Angelus. Diakses tanggal 3 November 2013.
- ↑ "Saint Pius X: since 50 years in St. Peter" (dalam bahasa Italia). Museum "San Pio X". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 Februari 2007. Diakses tanggal 4 September 2020.
- ↑ "Pius X saint" (PDF) (dalam bahasa Italia). "Giuseppe Sarto" Foundation. hlm. 17. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2 Agustus 2020.
- ↑ Walter Diethelm (1956). Saint Pius X: The Farm Boy who Became Pope. Ignatius Press. hlm. 160–161. ISBN 978-0-89870-469-3.
- 1 2 Index ac status causarum beatificationis servorum dei et canonizationis beatorum (dalam bahasa Latin). Typis polyglottis vaticanis. Januari 1953. hlm. 195.
- ↑ Christine Quigley (2006) [First published 1998]. Modern Mummies: The Preservation of the Human Body in the Twentieth Century. McFarland & Company. hlm. 204. ISBN 978-0-7864-2851-9.
- ↑ "The Canon Process – Museo San Pio X". IT: Museo san Pio X. Diakses tanggal 23 Juni 2013.
- ↑ "Life on the Newsfronts of the World". Life. 18 Januari 1954. hlm. 42.
- ↑ Calendarium Romanum (Libreria Editrice Vaticana, 1969), pp. 101, 137
- 1 2 Papal Heraldry, Donald Lindsay Galbreath, page 105.
- ↑ A Treatise on Ecclesiastical Heraldry, John Woodward, page 128
- ↑ "General Audience of 18 August 2010: Saint Pius the Tenth | BENEDICT XVI". www.vatican.va. Diakses tanggal 5 Februari 2020.
| Internasional | |
|---|---|
| Nasional | |
| Akademik | |
| Seniman | |
| Orang | |
| Lain-lain | |
- ↑ Italia: [dʒuˈzɛppe melˈkjɔrre ˈsarto]; Bahasa inggris: Joseph Melchior Sarto
- ↑ Sebelum perubahan Konsili Vatikan Kedua, perayaan Misa tidak selalu memerlukan khotbah atau homili.
- ↑ Paus Pius XI menghidupkan kembali praktik makan sendirian selama masa kepausannya tetapi tidak ada penerus lain dari Pius X yang diketahui telah mengikuti kebiasaan ini.[19]