Pius I (Italia: Pio Icode: it is deprecated , Yunani: Πίος) adalah uskup Roma dari ca140 sampai kematiannya ca154,[1] menurut Annuario Pontificio. Tanggal kelahiran dan kematiannya tercantum sebagai 142 atau 146 hingga 157 atau 161.[2] Ia dianggap menentang baik kaum Valentinian maupun kaum Gnostik selama masa kepausannya. Ia dianggap sebagai seorang santo oleh Gereja Katolik dengan hari raya pada tanggal 11 Juli, tetapi tidak jelas apakah dia meninggal sebagai seorang martir.
Kehidupan Awal
Menurut tradisi, Pius I lahir di kota Aquileia, Italia, sekitar akhir abad pertama Masehi. Ia diduga berasal dari keluarga Kristen yang taat, meskipun informasi rinci mengenai keluarganya masih diperdebatkan. Sebagian sumber menyatakan bahwa ia adalah saudara dari Hermas, seorang penulis Kristen terkenal yang menulis Gembala Hermas, sebuah karya penting dalam literatur Kristen awal.
Kepemimpinan Sebagai Paus
Paus Pius I menjadi uskup Roma pada masa ketika Kekristenan sedang berkembang pesat tetapi menghadapi penganiayaan dari Kekaisaran Romawi. Selama masa kepemimpinannya, ia terlibat dalam menanggapi tantangan teologis dari berbagai ajaran sesat yang muncul, termasuk Marcionisme dan Gnostisisme.
Melawan Marcionisme
Marcionisme adalah ajaran yang diajarkan oleh Marcion dari Sinope, yang mengklaim bahwa AllahPerjanjian Lama berbeda dari Allah yang diwahyukan oleh Yesus Kristus dalam Perjanjian Baru. Marcion juga menolak banyak kitab dalam Alkitab, termasuk sebagian besar Perjanjian Lama. Paus Pius I menentang ajaran ini dengan tegas dan memimpin Gereja untuk menolak doktrin Marcion sebagai sesat. Penolakannya terhadap Marcionisme membantu memperkuat kanon Kitab Suci yang digunakan oleh Gereja.
Melawan Gnostisisme
Gnostisisme adalah gerakan yang mengajarkan bahwa keselamatan diperoleh melalui pengetahuan mistik khusus. Paus Pius I memainkan peran penting dalam mempertegas pengajaran gereja bahwa keselamatan hanya dapat diperoleh melalui iman kepada Yesus Kristus dan melalui sakramen-sakramen Gereja.
Kontribusi dalam Doktrin Gereja
Sebagai paus, Pius I memperkuat pengajaran Gereja mengenai keilahian Kristus dan doktrin Tritunggal Mahakudus. Ia juga terlibat dalam pengembangan liturgi dan struktur organisasi Gereja, yang menjadi landasan bagi pertumbuhan Kekristenan pada abad-abad berikutnya.
Kanonisasi Kitab Suci
Pada masa Paus Pius I, terdapat upaya untuk menentukan kitab-kitab mana yang dianggap sebagai Kitab Suci yang diilhami. Meskipun proses kanonisasi baru selesai beberapa abad kemudian, tindakan Paus Pius I dalam menolak kitab-kitab sesat seperti yang digunakan oleh Marcion memberikan kontribusi besar dalam membentuk kanon Alkitab yang kita kenal saat ini.
Penganiayaan terhadap Gereja
Selama masa pemerintahannya, umat Kristen sering kali menjadi sasaran penganiayaan di bawah kekaisaran Romawi. Meskipun tidak banyak bukti langsung mengenai penganiayaan yang dihadapi Paus Pius I secara pribadi, ia memimpin gereja dalam menghadapi tantangan tersebut dengan keberanian dan kebijaksanaan.
Kematian dan Kanonisasi
Paus Pius I diyakini wafat sekitar tahun 155 M. Ada beberapa sumber yang menyebut bahwa ia meninggal sebagai martir, meskipun bukti historisnya masih kurang jelas. Ia dimakamkan di Roma, dan kemudian dihormati sebagai santo oleh Gereja Katolik. Hari pestanya diperingati setiap tanggal 11 Juli.