Anterus lahir di Yunani, namun detail mengenai kelahiran dan masa mudanya tidak banyak diketahui. Namanya berasal dari bahasa Yunani, Anteros, yang berarti "cinta yang berbalas". Beberapa sumber tradisional mengindikasikan bahwa ia adalah putra seorang Kristen yang saleh, meskipun latar belakang keluarganya tetap tidak jelas.
Masa Kepausan
Paus Anterus terpilih sebagai pemimpin umat Katolik Roma pada 21 November235, menggantikan Paus Pontianus yang dipaksa turun tahta dan diasingkan ke tambang di Sardinia oleh Kaisar Maximinus Thrax. Kepausan Anterus terjadi pada masa-masa penuh tantangan bagi umat Kristen, yang menghadapi penganiayaan berat dari otoritas Romawi.
Pelestarian Martir dan Tradisi Kristen
Salah satu kontribusi utama Paus Anterus adalah upayanya untuk mengumpulkan dan mendokumentasikan kisah-kisah para martir Kristen. Ia diduga memerintahkan agar dokumen-dokumen tentang para martir dihimpun dan disimpan di arsip gereja. Tradisi ini penting bagi Gereja Katolik karena memberikan teladan iman serta memperkuat keberanian umat Kristen di tengah penganiayaan.
Hubungan dengan Kekaisaran Romawi
Meskipun masa jabatannya singkat, Paus Anterus tetap menjadi simbol perlawanan pasif terhadap penganiayaan Kristen oleh kekaisaran. Tidak ada bukti langsung bahwa ia dianiaya secara langsung oleh Maximinus Thrax, tetapi situasi politik yang tidak stabil saat itu memperburuk nasib umat Kristen.
Kematian dan Pemakaman
Paus Anterus wafat pada 3 Januari236. Tradisi mengindikasikan bahwa ia meninggal sebagai martir, meskipun penyebab pasti kematiannya tidak tercatat dengan jelas dalam dokumen sejarah. Ia dimakamkan di Katakomba Santo Kalistus, sebuah tempat pemakaman yang menjadi lokasi istimewa bagi para paus pada masa itu. Tulisan "Anterus Martir" ditemukan dalam inskripsi makamnya, menegaskan reputasinya sebagai seorang saksi iman.