Paus Konstantinus (Latin: Constantinuscode: la is deprecated ; 664–9 April 715) adalah uskup Roma dari tanggal 25 Maret 708 hingga kematiannya pada tanggal 9 April 715.[1] Salah satu paus terakhir dari Kepausan Bizantium, momen paling menentukan dalam masa kepausannya adalah kunjungannya ke Konstantinopel pada tahun 710/711, di mana ia berkompromi dengan Justinian II mengenai kanon Trullan dari Konsili Quinisext. Kunjungan Paus berikutnya ke kota ini terjadi pada tahun 1967.
Kehidupan Awal
Konstantinus lahir sekitar tahun 664 di Suriah, sebuah wilayah yang saat itu berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Bizantium. Ia berasal dari keluarga Kristen yang saleh dan sangat terdidik. Sejak muda, Konstantinus telah menunjukkan kecakapan dalam ilmu teologi dan tata kelola gereja, sehingga ia dipercaya untuk menduduki beberapa jabatan penting di dalam Gereja sebelum akhirnya diangkat sebagai Paus.
Pemilihan Sebagai Paus
Konstantinus terpilih menjadi Paus pada tanggal 25 Maret 708 setelah wafatnya Paus Sisinius yang menjabat selama masa singkat. Pemilihannya dianggap sebagai hasil dari konsensus antara Gereja di Roma dan otoritas kekaisaran Bizantium, mengingat pengaruh kuat Bizantium dalam urusan gerejawi pada masa itu.
Hubungan dengan Kekaisaran Bizantium
Kepausan Konstantinus sangat dipengaruhi oleh hubungan dengan Kekaisaran Bizantium. Ia adalah salah satu paus yang secara langsung mengunjungi Konstantinopel (sekarang Istanbul) untuk bertemu dengan kaisar. Pada tahun 710, ia memenuhi undangan Kaisar Yustinianus II untuk membahas masalah-masalah teologis dan administratif yang berkaitan dengan Gereja.
Kunjungan ini sangat jarang dilakukan oleh seorang paus dan menunjukkan pentingnya hubungan antara Roma dan Konstantinopel pada masa itu. Konstantinus membawa serta beberapa pejabat tinggi Gereja Roma dalam kunjungannya, dan ia disambut dengan penghormatan besar di istana kekaisaran.
Di sisi lain, ia juga menghadapi ancaman dari bangsa Lombard di Italia yang terus-menerus mengancam wilayah-wilayah Gereja. Meskipun demikian, Konstantinus berhasil mempertahankan posisi Gereja di Roma sebagai pusat kekristenan.
Kontroversi Ikonoklasme
Pada masa akhir kepausannya, Paus Konstantinus mulai menghadapi tantangan dari gerakan ikonoklasme (penentangan terhadap penggunaan ikon atau gambar kudus), yang mulai mendapatkan dukungan di kalangan tertentu di Kekaisaran Bizantium. Meskipun gerakan ini baru berkembang secara besar-besaran setelah kematiannya, Konstantinus telah menyatakan sikap tegas bahwa penggunaan ikon dalam ibadah adalah sesuai dengan tradisi gereja dan tidak bertentangan dengan ajaran Kristus.
Warisan
Paus Konstantinus meninggal dunia pada 9 April 715 setelah menjabat selama tujuh tahun. Ia dimakamkan di Basilika Santo Petrus di Roma. Warisannya tetap dikenang sebagai seorang paus yang berdedikasi pada persatuan Gereja dan berani menghadapi tantangan politik maupun teologis pada zamannya.