Paus Pius V, OP (Italia: Pio Vcode: it is deprecated ; 17 Januari 1504– 1 Mei 1572), lahir Antonio Ghislieri (dan sejak tahun 1518 disebut Michele Ghislieri), adalah kepala Gereja Katolik dan penguasa Negara Kepausan dari tanggal 7 Januari 1566 hingga kematiannya pada bulan Mei 1572.
Sebagai seorang kardinal, Ghislieri memperoleh reputasi karena mengutamakan ortodoksi di atas kepentingan pribadi, dengan menuntut delapan uskup Prancis atas tuduhan bid'ah. Ia juga teguh menentang nepotisme, menegur pendahulunya, Paus Pius IV, secara langsung ketika Paus Pius IV ingin menjadikan seorang anggota keluarganya yang berusia 13 tahun sebagai kardinal[5] dan mensubsidi seorang keponakan dari perbendaharaan kepausan.[6]
Melalui bulla kepausan tahun 1570, Regnans in Excelsis, Pius V mengucilkan Elizabeth I dari Inggris karena bidah dan penganiayaan terhadap Gereja Katolik di Inggris dan Wales selama masa pemerintahannya. Ia juga mengatur pembentukan Liga Suci, sebuah aliansi negara-negara Katolik untuk melawan kemajuan Kekaisaran Ottoman di Eropa Timur. Meskipun kalah jumlah, Liga Suci terkenal mengalahkan Ottoman dalam Pertempuran Lepanto pada tahun 1571. Pius V mengaitkan kemenangan tersebut dengan perantaraan Bunda Maria dan menetapkan pesta Bunda dari Rosario.[7] Para penulis biografi melaporkan bahwa ketika Pertempuran Lepanto berakhir, Pius bangkit dan pergi ke jendela, di mana ia berdiri memandang ke arah Timur. "...[Sambil] memandang ke langit, dia berseru, 'Gencatan senjata untuk urusan bisnis; tugas besar kita saat ini adalah bersyukur kepada Tuhan atas kemenangan yang baru saja Dia berikan kepada tentara Kristen'."[6]
Kehidupan awal
Antonio Ghislieri lahir di Bosco Marengo, Italia, dari keluarga petani. Di usia 14 tahun, ia bergabung dengan Ordo Dominikan dan mengambil nama religius Michele. Ia kemudian belajar filsafat dan teologi, serta menonjol dalam pengetahuan agama dan keteladanan hidupnya. Michele Ghislieri memulai pelayanan sebagai pengajar dan kemudian diangkat menjadi Inkuisitor Gereja. Sebagai inkuisitor, ia berusaha keras memerangi ajaran sesat, terutama di bawah perintah Paus Paulus IV, yang memercayainya untuk menjalankan tugas-tugas penting gereja.
Kepausan
Pius V diangkat menjadi Paus pada 1566, setelah kematian Paus Pius IV. Sebagai seorang Paus, ia langsung bekerja untuk merealisasikan agenda Reformasi Katolik, dengan berfokus pada penerapan ketat hasil Konsili Trente. Pius V mengeluarkan peraturan-peraturan yang bertujuan menguatkan moral dan disiplin di antara para klerus, meningkatkan pendidikan imam, dan memperbaiki kesederhanaan dan kemurnian liturgi.
Kebijakan-kebijakan utama
Paus Pius V membuat beberapa reformasi penting selama kepausannya. Beberapa di antaranya adalah:
Penerapan Hasil Konsili Trente: Ia menegakkan ajaran-ajaran Konsili Trente dengan menekankan pelaksanaan sakramen dan mendirikan seminari untuk pendidikan imam.
Pembentukan Katekismus Gereja Katolik: Pius V mengesahkan penyusunan Katekismus Roma pada 1566, yang berfungsi sebagai panduan pengajaran resmi Gereja Katolik bagi para imam.
Pembaharuan Liturgi: Ia mengesahkan Missale Romanum pada 1570, yang menjadi standar liturgi bagi Gereja Barat dan bertahan selama berabad-abad.
Pembaruan Karya Musik Liturgi: Ia juga mendorong penggunaan musik dalam liturgi, dengan memastikan karya-karya yang digunakan tetap sesuai dengan kesakralan liturgi.
Salah satu peristiwa paling penting dalam masa kepausannya adalah Pertempuran Lepanto. Pada 7 Oktober 1571, pasukan Liga Suci yang dibentuk oleh Paus Pius V—terdiri dari negara-negara Katolik seperti Spanyol, Venesia, dan Negara Gereja—menghadapi armada Kekaisaran Ottoman di Lepanto, dekat Yunani. Kemenangan Liga Suci dalam pertempuran ini sangat signifikan karena mencegah ekspansi Ottoman lebih lanjut ke Eropa.
Paus Pius V mengaitkan kemenangan tersebut dengan doa Rosario dan menetapkan tanggal 7 Oktober sebagai Pesta Santa Perawan Maria Ratu Rosario untuk mengenang kemenangan ini. Pertempuran Lepanto sering dianggap sebagai momen puncak kepemimpinan Pius V dalam menghadapi ancaman dari luar Eropa.
Sikap terhadap Reformasi Protestan
Sebagai seorang pembela kuat Gereja Katolik, Pius V mengambil sikap keras terhadap gerakan Protestan yang menyebar di Eropa. Ia mengeluarkan bulla kepausan Regnans in Excelsis pada 1570, yang mengucilkan Ratu Elizabeth I dari Inggris. Dengan bulla ini, ia menyatakan bahwa Elizabeth adalah ratu yang tidak sah, dan semua rakyat Katolik di Inggris dibebaskan dari sumpah setia kepadanya. Tindakan ini memperburuk hubungan antara Inggris dan Tahta Suci, dan mengukuhkan posisi Elizabeth sebagai pemimpin yang memperjuangkan Protestanisme di Inggris.
Kematian dan Kanonisasi
Paus Pius V wafat pada 1 Mei 1572 setelah menderita penyakit yang berkepanjangan. Ia dimakamkan di Basilika Santo Petrus, Roma. Pada 1712, Paus Klemens XI mengangkatnya menjadi santo sebagai pengakuan atas perannya dalam memperkuat iman Katolik selama masa Reformasi. Gereja Katolik mengenang Paus Pius V setiap tanggal 30 April.
↑Aimé Georges Martimort, ed. (1986). The Church at Prayer: The Liturgy and Time. Vol.4. Liturgical Press. hlm.145. ISBN978-0-8146-1366-5.
Daftar pustaka
Duffy, Eamon (2014). Saints and sinners: a history of the Popes. New Haven & London: Yale University Press. ISBN978-0-300-11597-0.Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
Jones, Pamela M. (2010). "Chapter 3 The pope as saint: Pius V in the eyes of Sixtus V and Clement XI". Dalam Corkery, James; Worchester, Thomas (ed.). The papacy since 1500: from Italian prince to universal pastor. Cambridge; New York: Cambridge University Press.Pemeliharaan CS1: Status URL (link)