Paus Benediktus IX (Latin: Benedictus IXcode: la is deprecated ; ca1012), lahir Theofilak dari Tusculum di Roma, ia adalah uskup Roma dan penguasa Negara Kepausan selama tiga periode antara Oktober 1032 dan Juli 1048 (1032–1044; 1045; 1047–1048).[1] Berusia sekitar 20 tahun ketika pertama kali terpilih, ia mungkin merupakan paus termuda dalam sejarah Gereja Katolik. Ia adalah satu-satunya orang yang pernah menjadi paus lebih dari sekali[a] dan satu-satunya orang yang pernah dituduh menjual jabatan kepausan.
Benediktus adalah keponakan dari dua pendahulunya, Benediktus VIII dan Yohanes XIX. Pada Oktober 1032, ayah Benediktus memperoleh pemilihannya melalui suap. Namun, aktivitasnya yang terkenal bejat memicu pemberontakan dari pihak Romawi. Benediktus diusir dari Roma dan Silvester III terpilih untuk menggantikannya. Beberapa bulan kemudian, Benediktus dan para pendukungnya berhasil mengusir Silvester. Benediktus kemudian memutuskan untuk mengundurkan diri demi ayah baptisnya, Gregorius VI, dengan syarat biaya pengeluarannya diganti.
Benediktus kemudian berubah pikiran, kembali, dan mencoba menggulingkan Gregorius VI. Sejumlah tokoh agama terkemuka menyampaikan permohonan kepada Henry III, Raja Romawi, untuk memulihkan ketertiban. Henry dan pasukannya menyeberangi Brenner Pass menuju Italia, di mana ia memanggil Dewan Sutri untuk memutuskan masalah tersebut. Benediktus IX, Silvester III, dan Gregorius VI semuanya dicopot dari jabatannya. Henry kemudian memilih Klemens II pada bulan Desember 1046.
Kehidupan Awal
Nama asli Benediktus IX adalah Theophylactus, lahir sekitar tahun 1012 dalam keluarga Tusculum, yang memiliki pengaruh besar dalam politik Roma. Ayahnya, Alberic III dari Tusculum, adalah seorang bangsawan yang menggunakan pengaruhnya untuk memastikan bahwa putranya menjadi Paus. Theophylactus, yang diyakini masih sangat muda ketika menduduki takhta kepausan, diduga baru berusia sekitar 20 tahun pada saat penunjukannya.
Masa Kepausan
Benediktus IX memulai masa kepausannya pada tahun 1032, menggantikan pamannya, Paus Yohanes XIX. Masa kepemimpinannya dipenuhi dengan berbagai kontroversi, termasuk tuduhan nepotisme, korupsi, dan gaya hidup yang tidak bermoral. Banyak sumber sejarah, termasuk catatan dari para kronikus gereja, menggambarkannya sebagai sosok yang "tidak pantas" memimpin Gereja.
Kepausan Pertama (1032–1044): Dalam masa kepemimpinan pertamanya, Benediktus IX menghadapi berbagai tantangan politik. Ia sering memihak keluarganya dalam konflik dengan bangsawan Roma lainnya. Akibat tindakannya yang sering dianggap sewenang-wenang, ia kehilangan dukungan rakyat Roma, yang akhirnya memaksanya meninggalkan kota pada tahun 1044.
Kepausan Kedua (1045): Setelah meninggalkan Roma, Benediktus IX berhasil merebut kembali takhta kepausan dengan bantuan keluarganya. Namun, periode ini berlangsung singkat karena ia memutuskan untuk menjual posisi Paus kepada pamannya, Yohanes Gratianus, yang kemudian dikenal sebagai Paus Gregorius VI. Penjualan jabatan ini dianggap sebagai salah satu peristiwa paling memalukan dalam sejarah Gereja.
Kepausan Ketiga (1047–1048): Pada tahun 1047, Benediktus IX kembali mencoba merebut takhta kepausan dengan dukungan pasukan Tusculum. Namun, masa kepausan ketiganya juga tidak berlangsung lama. Pada tahun 1048, Kaisar Heinrich III menunjuk Damasus II sebagai Paus baru, yang menandai akhir dari kekuasaan Benediktus IX.
Kehidupan Setelah Kepausan
Setelah digulingkan, Benediktus IX dilaporkan menghabiskan sisa hidupnya di pengasingan. Beberapa catatan menyebutkan bahwa ia bertobat dan mengakhiri hidupnya di sebuah biara, meskipun kebenaran cerita ini masih diperdebatkan. Ia meninggal dunia pada tahun 1056, meninggalkan warisan yang penuh kontroversi.
Penilaian Sejarah
Benediktus IX sering dianggap sebagai salah satu Paus terburuk dalam sejarah Gereja Katolik. Banyak sejarawan gereja, seperti Santo Petrus Damianus, mengecam gaya hidup dan perilakunya. Namun, ada pula yang berpendapat bahwa situasi politik yang rumit pada masanya turut berkontribusi pada kejatuhannya.
Kesimpulan
Kisah Benediktus IX adalah sebuah peringatan akan bahaya politik yang mencampuri urusan gerejawi. Dengan kepemimpinan yang diwarnai oleh skandal dan korupsi, ia tetap menjadi salah satu tokoh yang paling banyak dibahas dalam sejarah Gereja Katolik. Meskipun demikian, kisahnya juga mengajarkan tentang pentingnya pertobatan dan kerendahan hati dalam menghadapi kesalahan.
Coulombe, Charles A. (2003). Vicars of Christ: A History of the Popes. Citadel Press. p.198. ISBN 978-0-8065-2370-5.
"The youngest pope in history was a tween who ruled 3 separate times in his life". Business Insider. Retrieved 30 December 2024.
Pham 2004, p.56.
Miranda, Salvador (30 April 2010). "Pope Benedict VIII (1012-1024)". The Cardinals of the Holy Roman Church. Archived from the original on 15 February 2018.
Mann, Horace (1909). "Pope Gregory VI". Catholic Encyclopedia. 6 – via New Advent.
↑Yohanes XII dicopot secara tidak sah oleh Kaisar Otto Agung dan digantikan selama beberapa bulan oleh antipausLeo VIII (yang kemudian menjadi paus yang sah setelah Benediktus V menerima pencopotannya sendiri).