Paus Aleksander II (1010/1015 – 21 April 1073), lahir Anselmus dari Baggio,[1] adalah kepala Gereja Katolik Roma dan penguasa Negara Kepausan dari tahun 1061 hingga kematiannya pada tahun 1073. Lahir di Milan, Anselmus sangat terlibat dalam gerakan reformasi Pataria. Terpilih sesuai dengan ketentuan bulla pendahulunya, In nomine Domini, Pemilihan Anselm adalah pemilihan kardinal pertama tanpa partisipasi rakyat dan pendeta kecil Roma. Ia juga mengesahkan Penaklukan Norman atas Inggris pada tahun 1066.
Kehidupan awal dan pendidikan
Anselmus dilahirkan sekitar tahun 1010 di Baggio, dekat Milan, Italia dari keluarga bangsawan lokal. Ia mendapatkan pendidikan yang mendalam dalam teologi dan hukum kanonik, yang membentuk dasar pemikirannya sebagai seorang reformator gereja. Anselmus dikenal karena kesalehannya, semangat pembaharuannya, serta dedikasinya kepada ajaran Kristus dan Gereja.
Karier awal
Sebelum menjadi paus, Anselmus menjabat sebagai UskupLucca. Ia dikenal sebagai Anselmus dari Baggio atau Anselmus dari Lucca di kalangan orang-orang sezamannya, merujuk pada kota kelahiran dan kota tempat ia bekerja. Dalam perannya sebagai uskup, ia mendukung reformasi yang dipelopori oleh biarawan Benediktin Cluny. Anselmus dikenal karena keberaniannya melawan praktik simoni (jual beli jabatan gerejawi) yang meluas di wilayah Italia Utara. Ia juga memainkan peran penting dalam upaya memperkuat moralitas di kalangan rohaniwan dan umat.
Pemilihan sebagai paus
Pada tahun 1061, setelah wafatnya Paus Nikolas II, Anselmus terpilih sebagai paus dan mengambil nama kepausan Aleksander II. Pemilihannya berlangsung di tengah persaingan antara kelompok reformis Gereja dan kaum sekuler yang dipimpin oleh Kekaisaran Romawi Suci. Pemilihannya dilakukan melalui ketentuan baru, yakni tanpa penobatan sekuler (lay investiture), sebuah kesalahan yang tidak luput dari perhatian kekaisaran. Meskipun mendapat dukungan dari kubu reformis, pemilihannya menghadapi tentangan dari Kaisar Heinrich IV, yang mengangkat seorang antipaus, Honorius II.[2]
Masa kepausan
Kepemimpinan dan reformasi
Selama empat tahun, Aleksander II bersaing dengan antipaus Honorius II. Ia mendapat dukungan dari Anno, Uskup Agung Koln, yang telah menggantikan Agnes sebagai wali Heinrich IV. Pada akhirnya, Aleksander II berhasil menegakkan dirinya sebagai pemimpin Gereja Katholik dalam 8 tahun berikutnya melalui serangkaian reformasi tanpa konflik serius dengan kekaisaran. Namun, hal ini juga menunjukkan posisi kaum reformis masih rapuh dibandingkan dengan otoritas kekaisaran.[2]
Sebagai paus, Aleksander II menegaskan kembali pentingnya moralitas dan kesucian dalam pelayanan rohani. Ia melanjutkan reformasi yang dimulai oleh pendahulunya, termasuk:
Melawan simoni: Aleksander II dengan tegas melarang praktik jual beli jabatan gerejawi, yang dianggap mencemari kesucian Gereja. Ia mengadakan sinode-sinode untuk menghukum mereka yang terbukti terlibat dalam simoni.
Penegakan selibat imam: Paus Aleksander II memperkuat disiplin selibat di antara rohaniwan, dengan maksud menjaga kemurnian hidup mereka.
Reformasi liturgi: Ia mempromosikan pembaruan dalam liturgi dan devosi, yang bertujuan untuk memurnikan praktik ibadah dan mendekatkan umat kepada Allah.
Hubungan dengan negara
Masa kepausan Aleksander II berlangsung di tengah konflik antara Gereja dan kekaisaran. Ia mendukung reformasi yang bertujuan untuk memisahkan otoritas sekuler dari urusan gerejawi. Aleksander II juga memberikan dukungannya kepada gerakan reformasi di Inggris, yang dimotori oleh Santo Lanfrancus, Uskup Agung Canterbury.
Aleksander II juga mendukung Roger dari Sisilia dalam perang melawan kaum Muslim. Ia juga memberikan dukungan pada Erlembard dari Milan dan William dari Montreuil yang menghadapi pemberontakan terhadap kekuasaan kepausan. Dalam beberapa sumber, terutama yang merujuk William dari Poitiers, asisten William Sang Penakluk disebutkan bahwa Aleksander II turut mendukung Penaklukan Inggris oleh William sebagai penguasa Britania yang baru. Namun, bukti pendukung ini dibantah sejarawan Catherine Morton yang menelusuri sumber-sumber dari abad ke-11 dan ke-12 M. Morton tak menemukan ada catatan lain selain dari William dari Poitiers tentang dukungan Alexander II pada penaklukan Inggris. Surat dari Paus Gregorius VII pada 24 April 1080 kepada William Sang Penakluk juga bukan merupakan bukti yang kuat bahwa Aleksander II pernah mendukung upaya kudeta penguasa Britania.[3]
Kematian
Aleksander II wafat pada tanggal 21 April 1073 di Roma. Ia dimakamkan di Basilika Santo Petrus. Meskipun tidak secara resmi dikanonisasi, ia dikenang sebagai seorang pemimpin Gereja yang saleh dan berkomitmen terhadap pembaruan moral dan spiritual.
Warisan
Kepemimpinan Paus Aleksander II dianggap sebagai masa transisi penting menuju reformasi besar yang kemudian dipimpin oleh Paus Gregorius VII. Semangat pembaharuannya terus memengaruhi Gereja Katolik sepanjang abad-abad berikutnya. Aleksander II dikenang sebagai pemimpin yang dengan setia mengemban tugasnya sebagai gembala umat, menegakkan kebenaran, dan melayani Kristus dengan sepenuh hati.
↑Para cendekiawan modern terkadang menyebut Uskup Anselmus sebagai Anselmus yang Tua atau Anselmus I untuk membedakannya dari keponakannya Santo Anselmus yang menggantikan jabatannya sebagai Uskup Lucca.
Liber Pontificalis (ed. by Louis Duchesne) (Paris: Thorin 1892), Volume II, part 1, p. 281
Vaughn, Sally N. (1987). Anselm of Bec and Robert of Meulan: The Innocence of the Dove and the Wisdom of the Serpent. Oakland, CA: University of California Press.
Cushing, Kathleen G. (1992). Anselm of Lucca, Reform and the Canon Law, C.1046–1086: The Beginnings of Systematization. University of Oxford, 1992.