Dalam Buddhisme, pandita (Pali, Sanskerta: paṇḍita) adalah sebuah istilah yang berarti "orang yang bijaksana, orang terpelajar".[1] Istilah ini telah digunakan oleh umat Buddha dengan beberapa penggunaan yang berbeda tetapi terkait, semuanya terkait orang yang memiliki pemahaman atas ajaran Buddha. Dalam tradisi Buddhisme di Indonesia, pandita (disingkat Pdt. sebagai sebuah gelar), dipanggil rama (terkadang dibaca romo) untuk pandita laki-laki, dan ramani untuk pandita perempuan,[2][3] merujuk kepada umat perumah tangga terlatih dan tersertifikasi yang memberikan pelayanan dan khotbah Dhamma.[4][5][6]
*Daftar ini juga mencakup mereka yang tidak melabeli diri sebagai umat Theravāda, seperti mereka dalam masa prasektarian, masa awal, modernis, EBT-is, dll., tetapi sangat dipengaruhi dan/atau memengaruhi ajaran Theravāda klasik.
Dalam Buddhisme Theravāda, sebagaimana digunakan dalam Bāla-paṇḍita Sutta (SN 12.19) dan diskursus lain dalam Tripitaka Pali, pandita mengacu kepada orang-orang yang menunjukkan kepemilikan kebijaksanaan atau pengetahuan Dhamma (juga dapat mengacu pada kitab suci Tipitaka).[7] Paṇḍita Sutta (AN 3.45) menguraikan tiga hal yang ditetapkan oleh para bijaksana (paṇḍita), yaitu memberi (dāna), berlatih meninggalkan keduniawian (pabbajjā), dan merawat ibu dan ayah (mātāpitūnaṁ upaṭṭhānaṁ).[8] Selain itu, orang yang bijaksana (paṇḍita) juga dijelaskan sebagai:
Seorang yang menyadari kesalahannya, dan seorang yang menerima dengan baik pengakuan orang lain yang telah melakukan kesalahan (AN 2.22).[9]
Seorang yang mengemban tanggung jawab atas apa yang menimpanya, dan seorang yang tidak mengemban tanggung jawab atas apa yang tidak menimpanya (AN 2.99).[10]
Seorang yang berpikir baik, berbicara baik, dan bertindak baik (AN 3.3).[11]
Dalam Buddhisme Mahāyāna dan Vajrayāna, pandita (Sanskerta: paṇḍita) juga merupakan sebuah gelar yang diberikan kepada para cendekiawan yang telah menguasai lima ilmu pengetahuan (Sanskerta: pañcavidyāsthāna) sebagai orang terpelajar yang secara tradisional dianggap berpengalaman.
Lima ilmu pengetahuan tersebut adalah:
ilmu bahasa (śabdavidyā),
ilmu logika (hetuvidyā),
ilmu kedokteran (cikitsāvidyā),
ilmu seni rupa dan kerajinan (śilakarmasthānavidyā),
Ketentuan ini dapat ditelusuri (tetapi mungkin mendahului) Mahāyāna-sūtrālamkāra-kārikā, yang menyatakan: "Tanpa menjadi seorang cendekiawan dalam lima ilmu, bahkan orang bijak tertinggi pun tidak dapat menjadi mahatahu. Demi membantah dan mendukung yang lain, dan demi mengetahui segalanya sendiri, ia berusaha dalam [lima ilmu] ini."[13]
Dalam tradisi Buddhisme Myanmar, istilah aggamahāpaṇḍita (Burma: အဂ္ဂမဟာပဏ္ဍိတ) digunakan sebagai gelar kehormatan Buddhis Burma yang diberikan oleh pemerintah Myanmar kepada para biku Theravādin yang terhormat, yang telah memenuhi beberapa kualifikasi tertentu.
Indonesia
Dalam tradisi Buddhisme Indonesia, pandita (disingkat Pdt. sebagai sebuah gelar) merujuk kepada umat perumah tangga (upasaka-upasika, mereka yang bukan biku-bikuni) terlatih dan tersertifikasi oleh suatu majelis yang memberikan pelayanan (veyyāvacca) dan khotbah Dhamma (dhammadesanā).[4][5][6] Pandita laki-laki dipanggil rama (terkadang dibaca romo), dan pandita perempuan dipanggil ramani.[2][3]