Korupsi di MauritaniaPapan iklan kampanye pencegahan korupsi di Nouakchott, Mauritania.
Korupsi di Mauritania merupakan masalah serius yang merambah hampir seluruh sektor pemerintahan dan kehidupan publik. Praktik suap, nepotisme, dan penyalahgunaan kekuasaan marak terjadi terutama dalam proses perizinan, pengadaan tanah, sistem peradilan, dan kepolisian.[1] Lembaga peradilan dianggap tidak independen, sementara aparat penegak hukum sering kali meminta suap dalam aktivitas rutin seperti pos pemeriksaan.[2]
Dalam Indeks Persepsi Korupsi oleh Transparency International tahun 2024, Mauritania memperoleh skor 30 dalam skala dari 0 ("sangat korup") hingga 100 ("sangat bersih"). Berdasarkan peringkat skor, Mauritania menempati posisi ke-130 dari 180 negara dalam Indeks tersebut, di mana negara yang menempati peringkat pertama dianggap memiliki sektor publik paling jujur.[3] Sebagai perbandingan dengan skor regional, rata-rata skor di antara negara-negara Timur Tengah dan Afrika Utara adalah 39. Skor tertinggi di kawasan tersebut adalah 68, sedangkan yang terendah adalah 12.[4] Untuk perbandingan secara global, skor rata-rata adalah 43, skor tertinggi adalah 90 (peringkat 1), dan skor terendah adalah 8 (peringkat 180).[5]
Dinamika
Korupsi politik
Salah satu kasus paling mencolok adalah skandal korupsi mantan Presiden Mohamed Ould Abdel Aziz dengan tuduhan pencucian uang dan pengayaan ilegal, dengan nilai aset yang disalahgunakan diperkirakan mencapai lebih dari 90 juta dolar AS.[6][7] Pada bulan Maret 2021, seorang hakim mendakwa Mohamed dan 10 orang lingkaran dekatnya, termasuk salah satu menantunya, beberapa mantan perdana menteri, dan pengusaha, dengan tuduhan korupsi.[8][9]
Pada bulan Oktober 2023, jaksa menuntut hukuman 20 tahun penjara dengan penyitaan harta benda Mohamed.[10] Pada tanggal 4 Desember, ia dinyatakan bersalah atas pengayaan dan pencucian uang yang tidak sah dan dijatuhi hukuman lima tahun penjara, dengan pengacaranya mengatakan bahwa mereka akan mengajukan banding atas putusan tersebut.[11] Pada tanggal 14 Mei 2025, pengadilan banding di Nouakchott menjatuhkan hukuman lima belas tahun penjara.[12]
Korupsi ekonomi
Korupsi menjadi hambatan besar dalam berbisnis di Mauritania dan merajalela di seluruh sektor ekonomi. Suap dan hubungan klientelistik umum digunakan untuk mendapatkan lisensi, izin, dan kontrak publik, terutama di sektor ekstraktif. Politik negara ini didominasi oleh jaringan patronase yang menyebabkan praktik favoritisme meluas. Iklim investasi diperburuk oleh birokrasi yang rumit dan sistem hukum yang tidak efektif.[13]