Barbarika merupakan putra Gatotkaca, sehingga ia merupakan cucu Bima, anggota Pandawa yang kedua. Ia belajar ilmu peperangan dari ibunya, Ahilawati yang juga dikenal sebagai Maurawi (putri Mura). Astadewa memberikannya anugerah berupa tiga anak panah yang akan selalu tepat sasaran dan tidak pernah luput dari targetnya.[2]
Ketika Barbarika mendapat kabar bahwa kakeknya akan berperang melawan para pangeran Kuru (Korawa), ia segera meninggalkan kampung halaman untuk turut membela keluarganya. Sebelumnya, ia berjanji kepada Ahilawati bahwa ia akan selalu berada di pihak yang sedang tidak unggul dalam pertempuran. Sementara itu, Kresna sedang menyurvei setiap kesatria yang akan berperang. Ia ingin mengetahui berapa lama waktu yang diperlukan oleh setiap kesatria untuk mengakhiri perang.
Saat Barbarika ditemui oleh Kresna―dan diberikan pertanyaan yang sama seperti para kesatria sebelumnya―ia mengaku dapat mengakhiri perang hanya dalam beberapa detik saja. Ia menjelaskan bahwa anak panahnya yang sakti dapat mengejar sasaran dan tidak akan pernah luput. Kresna pun menguji klaim Barbarika dengan menyuruhnya untuk memanah seluruh daun kering dari sebuah pohon ara. Sesuai permintaan, anak panah Barbarika berhasil menghancurkan daun-daun kering dari pohon tersebut. Namun satu anak panah tampak hanya berputar mengelilingi kaki Kresna. Barbarika pun menyadari bahwa Kresna sedang menginjak daun kering, dan memohon agar Kresna bergeser sehingga panah saktinya dapat menunaikan tugas. Akhirnya Kresna pun yakin bahwa anak panah sakti Barbarika akan memenangkan pertempuran yang akan datang.
Mozaik pada suatu kuil di Reengus, Rajasthan, menggambarkan adegan saat Barbarika mempersembahkan kepalanya kepada Kresna.
Saat Kresna bertanya kepada siapakah Barbarika berpihak, ia menjawab bahwa ia telah berjanji kepada ibunya untuk selalu berada di pihak yang kurang unggul. Ia pun menegaskan bahwa jumlah pasukan Pandawa lebih sedikit daripada Korawa, sehingga ia akan membantu Pandawa. Namun Kresna menjelaskan suatu paradoks: Barbarika memiliki panah sakti yang tidak akan luput pada sasaran, sehingga pihak mana pun yang dibela Barbarika, maka secara otomatis mereka akan menjadi pihak yang lebih unggul, demikian pula sebaliknya. Mendengar penjelasan Kresna, Barbarika pun bingung sehingga Kresna memberikan solusi. Menurut tradisi India Kuno, medan laga harus disucikan dengan menghaturkan kepala kesatria pemberani. Maka dari itu, Barbarika menghaturkan kepalanya secara sukarela kepada Kresna.
Dalam budaya lokal
Di Nepal, seorang raja suku Kirati bernama Yalambar dipercaya sebagai tokoh Barbarika yang diceritakan dalam Mahabharata. Menurut legenda lokal, ia berjumpa dengan Dewa Indra, penguasa kahyangan yang sedang berpelesiran ke lembah-lembah pegunungan dalam wujud manusia, sementara para penduduk asli lembah Kathmandu menggambarkannya sebagai Akasha Bhairava.[3]