Mahabharata
Pada zaman dahulu, Raja Hastinapura, Pandu dikutuk oleh seorang resi yang bernama Resi Kindama supaya tidak dapat mempunyai keturunan. hal ini disebabkan karena Raja Pandu secara tidak sengaja membunuh Resi Kindama pada saat beliau sedang bersanggama dengan istrinya. Oleh karena itu, Raja Pandu mendapat kutukan apabila ia berhubungan badan dengan istri-istrinya, maka ia akan mati.[10]
Untuk menebus kesalahan itu, Raja Pandu turun dari tahtanya dan mengasingkan diri ke hutan selama bertahun-tahun bersama dua istrinya, Kunti dan Madri. Kunti yang memiliki anugerah dari resi Durwasa untuk mendatangkan para dewa dan dari dewa tersebut, ia akan diberkati seorang anak. Kunti pun memanggil dewa Yama dan dari dewa Yama, ia dan Pandu dikaruniai seorang putra yang bernama Yudistira. Lalu dari dewa Bayu mereka dikaruniai Bima, dan dari dewa Indra lahir Arjuna.[10]
Raja Pandu ingin memiliki dua orang anak lagi. Pandu kemudian menyuruh Kunti untuk memanggil dewa Aswin untuk mendapatkan anugerah anak dari mereka. Namun, Kunti memberikan kesempatan kepada Madri, istri kedua Pandu, untuk membaca mantra agar Madri pun mendapat anugerah dan menjadi seorang ibu. Dengan ajaran dari Kunti, Madri pun membaca mantra. Dari dewa Aswin, Pandu dan Madri dikaruniai dua orang anak kembar yang bernama Nakula dan Sadewa.[10]
Aswin Mengobati Cyavana
Keterampilan medis yang dimiliki oleh dewa Aswin terkenal membantu orang bijak Cyavana yang pada saat itu sudah berusia sangat tua, kembali ke keadaan muda. Peristiwa ini dimotivasi oleh janji dari istri Cyavana, Sukanya, bahwa jika mereka memulihkan kesehatan suaminya, maka dia akan mengungkapkan kepada Aswin satu hal yang tidak mereka miliki untuk menjadi dewa yang lengkap. Si kembar bersedia dan menyuruh Cyavana untuk mandi di kolam, dan saat membenamkan dirinya di air, Cyavana muncul sebagai pemuda yang lincah. Sesuai dengan janjinya, Sukanya kemudian memberi tahu Aswin bahwa mereka tidak lengkap karena mereka tidak meminum obat mujarab soma, seperti dewa-dewa lainnya.[1]
Si kembar kemudian mulai mendapatkan ramuan soma serta berhasil membujuk Dadhyanc, putra pendeta Atharvan, untuk mengajari mereka upacara pengorbanan yang melibatkan minuman suci. Tetapi, dewa Indra tidak ingin para Aswin meminum soma karena mereka merasa terkontaminasi karena menghabiskan terlalu banyak waktu dengan manusia.
Dewa Indra mengancam untuk membalas dendam yang mengerikan jika si kembar sampai mengetahui tentang upacara itu dan mendapatkan soma. Aswin menyiasatinya dengan memberikan kepala baru kepada Dadhyanc sehingga ketika Indra mengetahui bahwa dia telah mengajari mereka tentang soma, dia memenggal kepala baru Dadhyanc tetapi kemudian, setelah dengan hati-hati menyimpannya, Aswin mengembalikan kepada Dadhyanc kepala aslinya.[1]