Kangkalamurti (Dewanagari: कङ्कालमूर्ति;,IAST:Kaṅkālamūrti,;arti: "Wujud tengkorak"), juga dikenal sebagai Kangkalabairawa, adalah salah satu perwujudan Dewa Siwa dalam agama Hindu. Dia sering dikaitkan dengan aspek menyeramkan dari Siwa yaitu Bairawa, dan kadangkala dianggap sebagai aspek dari Bairawa itu sendiri. Wujud Siwa sebagai Kangkalamurti masyhur di sejumlah kuil Siwa di India Selatan, tetapi hampir tidak ditemukan di India Utara.
Menurut legenda Hindu, dia mengalahkan dan membunuh penjaga gerbang sekaligus panglima laskar Wisnu yang bernama Wiswaksena, tapi dalam versi lain korbannya adalah Wamana. Dia digambarkan sebagai pria berlengan empat yang membawa kangkaladanda (tongkat tengkorak) serta diiringi oleh butagana (siluman pelayan) dan wanita yang tergila-gila padanya.
Legenda
Kangkalamurti merupakan salah satu dari tiga aspek Bairawa yang masyhur; dua lainnya yaitu Brahmasirascedakamurti (Siwa yang memenggal kepala Brahma) dan Biksatanamurti (Siwa sebagai petapa yang berkelana).[1] Dikisahkan bahwa Siwa—dalam wujudnya sebagai Bairawa yang sangar dan menyeramkan—pernah memenggal kepala kelima dari Dewa Brahma (adegan itu digambarkan sebagai Brahmasirascedakamurti) dan kepala/tengkorak Brahma melekat di telapak tangan kiri Bairawa sebagai cawan tengkorak akibat dosa yang ditimbulkan setelah pemenggalan tersebut (dosa Brahmatya). Untuk menebus dosanya, Bairawa mengucapkan sumpah Kapali: berkelana keliling dunia sebagai petapa telanjang dengan berbekal tengkorak Brahma sebagai mangkuk sedekah. Dalam wujud tersebut, Siwa dikenal sebagai Biksatanamurti.[2]
Dalam kitab Kurmapurana dikisahkan bahwa Biksatana berkelana keliling dunia—baik di alam manusia maupun gaib—sampai akhirnya tiba di kediaman Wisnu. Penjaga gerbang Wisnu yang bernama Wiswaksena tidak mengizinkannya masuk. Biksatana pun marah lalu berubah menjadi Bairawa yang sangar dan membunuh Wiswaksena. Bairawa memikul mayat Wiswaksena yang tertancap di trisulanya, dan perbuatan itu membuat dosanya bertambah. Wujudnya yang memikul mayat disebut "Kangkalamurti". Dalam wujud tersebut, dia memasuki kediaman Wisnu untuk meminta sedekah. Menurut suatu versi, Wisnu menawarkan darahnya sendiri sebagai makanan. Dalam versi lainnya, Wisnu menyayat pembuluh darah di kening Kangkalamurti; kucuran darah tertampung di mangkuk sedekahnya sebagai makanan. Kemudian, Wisnu memerintahkan Kangkalamurti untuk pergi ke kota suci Varanasi, tempat untuk menebus dosa.[3][4] Perjumpaan dengan penjaga gerbang Wisnu juga diceritakan dengan versi berbeda dalam kitab Wamanapurana dan Matsyapurana.[5] Kangkalamurti pun melanjutkan pengembaraannya dengan mangkuk sedekah di tangan, dan mayat atau tengkorak di pundaknya.[6]
Berbagai kitab Purana sama-sama mengisahkan bahwa setelah mencapai kota Varanasi, akhirnya mangkuk sedekah lepas dari tangannya dan mayat Wiswaksena lenyap. Wiswaksena pun hidup lagi, dan Kangkalamurti berubah kembali sebagai Siwa lalu pulang ke kediamannya.[3][4]
Legenda lain tentang Kangkalamurti ialah Siwa mengambil wujud tersebut saat dia membunuh Wamana, awatara Wisnu. Dikisahkan bahwa Wisnu berubah menjadi Wamana, sosok raksasa yang membayangi dunia untuk memberi hukuman kepada raksasa Mahabali. Setelah Mahabali menyerah, Wamana menjadi momok bagi dunia manusia dan para dewa. Atas permohonan pemujanya, Siwa mengalahkan Wamana dan menggunakan tulang punggung Wamana sebagai senjata. Semenjak Siwa membawa kangkala (tulang) dari Wamana, dia pun dikenal pula sebagai "Kangkalamurti".[7][8] Penafsiran lain atas makna Kangkalamurti ialah Siwa merupakan pelebur alam semesta dan tulang belulang melambangkan kehancuran.[9]
↑E. A. Rodrigues (1842). The complete Hindoo Pantheon, comprising the principal deities worshipped by the natives of British India throughout Hindoostan: being a collection of the gods and goddesses accompanied by a succinct history and descriptive of the idols. hlm.91.
↑"Kankalar". Shivam.org. Diakses tanggal 9 December 2012.
Referensi
von Stietencron, Heinrich (2005). Hindu Myth, Hindu History, Religion, Art, and Politics. Delhi: Orient Blackswan. ISBN81-7824-122-6.
Rao, T.A. Gopinatha (1916). Elements of Hindu Iconography. Vol.2: Part I. Madras: Law Printing House. OCLC630452416.