Legenda
Candraganta dikisahkan muncul saat pernikahan Dewa Siwa dan Parwati. Menurut cerita, menjelang hari pernikahannya, Siwa datang ke kediaman Parwati dengan penampilan yang tidak lazim (tubuh berlumur abu, berkalung ular, dan mengenakan untaian tengkorak), menunggangi lembu Nandini, serta diiringi oleh siluman, demit, dan gana, yang meraung-raung dan menari-nari liar. Keluarga Parwati gentar menyaksikan kedatangan Siwa. Sukacita menyambut pernikahan pun berubah menjadi ketakutan dan kecemasan.
Untuk menjaga martabat keluarganya―serta mengimbangi penampilan Siwa yang sangar―maka Parwati memutuskan untuk menampakkan kekuatan ilahinya. Kemudian dia berubah menjadi seorang dewi yang tampak berkilauan, mengendarai harimau, memiliki sepuluh lengan yang masing-masing membawa senjata. Di dahinya terdapat simbol bulan sabit (candra) bersinar yang menyerupai suatu genta (ghaṇṭā), sehingga disebut "Candraganta".
Saat dia mendekati Siwa dengan wujud tersebut, Siwa memohon agar dia kembali seperti semula. Sebaliknya, Candraganta meminta Siwa untuk menampakkan wujud yang lebih ramah. Kemudian acara pernikahan mereka pun dilangsungkan.[3]