Perkembangan kepercayaan terhadap Mahawidya menandai titik penting dalam sejarah aliran Sakta, karena berkembang sekaligus dengan tradisi bhakti dalam Sakta yang mencapai puncaknya pada masa 1700 Masehi. Mula-mula muncul pada zaman pasca-Purana (sekitar abad ke-6 Masehi), aliran ini merupakan gerakan keagamaan baru pada masanya yang meyakini Tuhan sebagai sosok feminin. Ajaran ini termaktub dalam kitab Dewibhagawatapurana, terutama sembilan bab terakhir (31–40) dari skandha ketujuh―disebut Dewigita―yang kemudian menjadi kitab suci utama aliran Sakta.[4]