Kisah tentang Manasa terutama menguraikan perangainya yang lekas marah, karena pengabaian yang dilakukan oleh ayahnya (Siwa) serta suaminya (Jaratkaru), dan kebencian terhadap ibu tirinya, Candi (istri Siwa, yang dapat dipadankan dengan Parwati dalam konteks ini). Dalam beberapa sastra Hindu disebutkan bahwa ayahnya adalah Kasyapa, bukan Siwa.
Dalam agama Hindu, Manasa digambarkan sebagai dewi yang pemurah terhadap para pemujanya, tetapi kasar terhadap orang-orang yang menolak untuk menyembahnya.[3] Karena tidak sepenuhnya berstatus sebagai dewi yang murni (karena orang tuanya tidak sepenuhnya dewa/dewi), maka Manasa bertujuan untuk membangun otoritasnya sendiri sebagai seorang dewi yang memperoleh penyembah sebanyak mungkin.[4]
Wilkins, W. J. (2004). Hindu Mythology, Vedic and Puranic (Edisi First published: 1882). Kessinger Publishing. hlm.428. ISBN0-7661-8881-7.
McDaniel, June (2002). Making Virtuous Daughters and Wives: An Introduction to Women's Brata Rituals in Bengali Folk Religion. SUNY Press. hlm.144. ISBN0-7914-5565-3.