ENSIKLOPEDIA
Witoba
| Vithoba | |
|---|---|
Arca utama di Kuil Vithoba, Pandharpur | |
| Dewanagari | विठोबा |
| IAST | Viṭhobā |
| Afiliasi | Wujud Kresna sebagai awatara Wisnu |
| Kediaman | Waikunta |
| Mantra | Rama Kresna Hare |
| Senjata |
|
| Wahana | Garuda |
| Hari | Rabu |
| Pemujaan | |
| Kepercayaan | |
| Daerah | Maharashtra dan Karnataka |
| Kuil utama | Kuil Vithoba, Pandharpur |
| Perayaan | Pandharpur Wari |
| Keluarga | |
| Pasangan | |
Vithoba (IAST: Viṭhobā), juga dikenal sebagai Vitthala (IAST: Viṭṭhala), dan Pandurangga (IAST: Pāṇḍuraṅga), adalah sesosok dewa Hindu yang utamanya dipuja di negara bagian India, yakni Maharashtra dan Karnataka. Ia merupakan wujud dewa Hindu Wisnu dalam bentuk awatara-nya: Kresna. Vithoba sering kali digambarkan sebagai seorang anak laki-laki berkulit gelap, berdiri dengan posisi tangan bertolak pinggang di atas sebuah batu bata, yang terkadang didampingi oleh pasangannya, Rakhumai.
Vithoba merupakan pusat dari kepercayaan Warkari di Maharashtra yang pada dasarnya bersifat monoteistik, non-ritualistik, dan berlandaskan Bhakti[1][2], serta sekte Haridasa yang didirikan atas dasar ajaran Dwaita Wedanta di Karnataka. Kuil Vithoba, Pandharpur adalah kuil utamanya. Berbagai legenda Vithoba berpusat pada pemujanya yang bernama Pundalik, yang dianggap berjasa karena telah membawa dewa tersebut ke Pandharpur, serta tentang peran Vithoba sebagai penyelamat bagi para penyair suci dari kepercayaan Warkari. Para penyair suci Warkari dikenal dengan genre lirik devosional mereka yang khas, yakni Abhang, yang didedikasikan untuk Vithoba dan dikarang dalam bahasa Marathi. Sastra devosional lainnya yang didedikasikan untuk Vithoba mencakup himne-himne Kannada dari sekte Haridasa dan lagu-lagu aarti umum versi Marathi yang dikaitkan dengan ritual persembahan cahaya kepada sang dewa. Festival-festival paling penting untuk Vithoba diselenggarakan pada hari Sayani Ekadasi di bulan Asada, dan Prabodhini Ekadasi di bulan Kartika.
Historiografi Vithoba beserta sektenya merupakan topik yang terus diperdebatkan, bahkan mengenai namanya. Meskipun asal-usul sekte beserta kuil utamanya juga menjadi perdebatan, terdapat bukti yang jelas bahwa keduanya telah ada sejak abad ke-13.
Etimologi dan nama lain

Vithoba (Marathi: विठोबाcode: mr is deprecated , IAST: Viṭhobā) dikenal dengan banyak nama, termasuk: Vitthala, Pandurangga, Pandharinath, Hari, Ranga, dan Narayana.
Terdapat beberapa teori mengenai asal-usul dan makna dari nama-nama tersebut. Tradisi Warkari mengemukakan bahwa nama Vitthala (juga dieja sebagai Vitthal, Viththal, Vittala, dan Vithal; Marathi: विठ्ठलcode: mr is deprecated , Kannada: ವಿಠ್ಠಲcode: kn is deprecated , Telugu: విఠ్ఠలcode: te is deprecated , dan Gujarat: વિઠ્ઠલcode: gu is deprecated ; semuanya IAST: Viṭṭhala) tersusun dari dua kata bahasa Sanskerta-Marathi: viṭ, yang berarti 'batu bata'; dan thal, yang mungkin berasal dari Sanskerta sthala, yang berarti 'berdiri'. Oleh karena itu, Vitthala berarti 'ia yang berdiri di atas sebuah batu bata'.[3] William Crooke, seorang orientalis, mendukung penjelasan ini.[4] Ikonografi Vithoba yang ditetapkan mengharuskan dirinya ditampilkan berdiri bertolak pinggang di atas sebuah batu bata, yang dikaitkan dengan legenda pemujanya yang bernama Pundalik. Namun, penyair suci Warkari Tukaram mengusulkan etimologi yang berbeda—bahwa Vitthala tersusun dari kata vitthacode: sa is deprecated (ketidaktahuan) dan lacode: sa is deprecated (orang yang menerima), sehingga berarti 'ia yang menerima orang-orang lugu yang tidak memiliki pengetahuan'.[5] Sejarawan Ramakrishna Gopal Bhandarkar menawarkan kemungkinan lain—bahwa Vitthu (Viṭhu) adalah bentuk ubahan bahasa Kannada dari nama Wisnu yang diserap ke dalam bahasa Marathi. Akhiran -la dan -ba (yang berarti 'ayah' dalam bahasa Marathi) disematkan sebagai bentuk penghormatan, sehingga menghasilkan nama Vitthala dan Vithoba.[6] Perubahan bentuk kata dari Wisnu menjadi Vitthu ini bisa jadi disebabkan oleh kecenderungan orang-orang Marathi dan Kannada untuk melafalkan ṣṇ (/ʃn/) Sanskerta sebagai ṭṭh (/ʈʈʰ/), yang telah terbukti sejak abad ke-8.[7]
Menurut cendekiawan peneliti M. S. Mate dari Deccan College, Pundalik—yang diasumsikan sebagai seorang tokoh historis—berperan penting dalam membujuk raja Hoysala Wisnuwardhana alias Bittideva untuk membangun kuil Pandharpur yang didedikasikan kepada Wisnu. Dewa tersebut kemudian diberi nama Vitthala, turunan dari Bittideva, oleh raja pembangunnya.[8] Varian lain dari nama tersebut meliputi Viṭhurāyā (Raja Vitthala), dan Viṭhāī (Ibu Vitthala). Masyarakat Gujarat menambahkan akhiran -nath (Tuan) pada Vitthala, yang menghasilkan nama Vitthal-nath.[9] Akhiran kehormatan tambahan -ji mungkin disematkan, sehingga memberikan nama Vitthalnathji. Nama ini umumnya digunakan dalam sekte Pushtimarg.
Pandurangga (Marathi: पांडुरंगcode: mr is deprecated , Kannada: ಪಾಂಡುರಂಗcode: kn is deprecated , Telugu: పాండురంగcode: te is deprecated ; semuanya IAST: Pāṇḍuraṅga), juga dieja sebagai Pandurang dan Pandaranga, merupakan julukan populer lainnya bagi Vithoba, yang berarti 'dewa putih' dalam bahasa Sanskerta. Penyair-santo Jain Hemachandra (1089–1172 M) mencatat bahwa julukan itu juga digunakan sebagai epitet untuk dewa Rudra-Siwa. Walaupun Vithoba digambarkan dengan warna kulit gelap, ia disebut sebagai "dewa putih". Bhandarkar menjelaskan paradoks ini, dengan mengajukan usul bahwa Pandurangga mungkin merupakan sebuah julukan bagi wujud Siwa yang dipuja di Pandharpur, dan yang kuilnya masih berdiri hingga kini. Kemudian, seiring dengan meningkatnya popularitas kultus Vithoba, julukan ini juga dialihkan kepada Vithoba.[10] Teori lain mengemukakan bahwa Vithoba pada awalnya mungkin adalah seorang dewa Saiwa (terkait dengan Siwa), yang baru belakangan diidentikkan dengan Wisnu, sehingga menjelaskan penggunaan sebutan Pandurangga untuk Vithoba.[11] Meski demikian, Crooke mengusulkan bahwa Pandurangga adalah bentuk Sanskerta dari Pandaraga (berasal dari Pandarga), yang merujuk pada nama lama Pandharpur.[4] Nama lainnya, Pandharinath, juga merujuk pada Vithoba sebagai penguasa Pandhari (varian lain untuk Pandharpur).
Terakhir, Vithoba juga disapa dengan nama-nama Wisnu seperti Hari dan Narayana, di dalam sekte Waisnawa.[12]
Asal-usul dan perkembangan
Rekonstruksi perkembangan sejarah pemujaan Vithoba telah banyak diperdebatkan. Secara khusus, beberapa teori alternatif telah diusulkan mengenai tahap-tahap terawal serta titik ketika ia mulai diakui sebagai sosok dewa tersendiri. Panduranggastakam stotra, sebuah himne yang dinisbatkan kepada Adi Shankara dari abad ke-8, mengindikasikan bahwa pemujaan Vithoba telah eksis sejak masa awal.[13]
Menurut Richard Maxwell Eaton, penulis buku A Social History of the Deccan,[11] Vithoba pada awalnya dipuja sebagai dewa penggembala Kresna sejak awal abad ke-6. Ikonografi Vithoba yang bertolak pinggang memiliki kemiripan dengan Bir Kuar, yang dikaitkan dengan Kresna, dewa ternak dari suku Ahir di Bihar.[14] Vithoba mungkin kemudian diasimilasikan ke dalam panteon Saiwa dan diidentikkan dengan dewa Siwa, sebagaimana kebanyakan dewa penggembala lainnya. Hal ini didukung oleh fakta-fakta bahwa kuil di Pandharpur dikelilingi oleh kuil-kuil Saiwa (terutama milik sang pemuja Pundalik sendiri), dan bahwa Vithoba dimahkotai dengan Lingga, yang merupakan simbol Siwa. Namun sejak abad ke-13, para penyair suci seperti Namdev, Eknath, dan Tukaram mengidentikkan Vithoba dengan Wisnu.[11]
Christian Lee Novetzke dari University of Washington mengemukakan bahwa pemujaan Vithoba bermigrasi dari Karnataka ke Pandharpur yang sebelumnya merupakan kota beraliran Saiwa pada beberapa waktu sebelum 1000 M; namun di bawah kemungkinan pengaruh sekte Mahanubhava pemuja Kresna, kota tersebut bertransformasi menjadi sebuah pusat ziarah penganut Waisnawa. Usulan ini konsisten dengan sisa-sisa kontemporer dari pemujaan Saiwa di kota tersebut.[15]

Sejarawan agama R.C. Dhere, pemenang Sahitya Akademi Award untuk bukunya Sri Vitthal: Ek Mahasamanvaya, berpendapat bahwa pemujaan Vithoba mungkin jauh lebih tua—"Weda atau pra-Weda", sehingga mendahului pemujaan Kresna.[16] Menurut teori ini, Vithoba adalah perpaduan dari berbagai pahlawan lokal, yang mengorbankan nyawa mereka untuk menyelamatkan ternak-ternak mereka. Ia pada awalnya dipuja oleh Dhangar, yakni kasta pemilik ternak di Maharashtra. Kebangkitan dinasti Yadawa, yang memiliki silsilah leluhur penggembala sapi, bisa jadi telah mengarah pada pengagungan Vithoba sebagai Kresna, yang sering kali digambarkan sebagai seorang gembala sapi. Waisnawisasi Vithoba ini juga berujung pada konversi tempat suci Pundarika yang beraliran Saiwa menjadi kuil Waisnawa milik sang pemuja Pundalik, yang—menurut legenda—membawa Vithoba ke Pandharpur.[17] Mungkin terdapat suatu upaya untuk mengasimilasi Vithoba ke dalam Buddhisme; saat ini, keduanya dipandang sebagai suatu wujud Wisnu di dalam agama Hindu.[18]
Vithoba lebih sering dikaitkan dengan "welas asih, cinta kasih yang tak terhingga, dan kelembutan bagi para bhakta (pemuja) yang dapat dibandingkan dengan kasih sayang seorang ibu kepada anak-anaknya, yang mendambakan kehadiran para pemujanya sebagaimana seekor induk sapi mendambakan anak sapinya yang berada jauh darinya."[19]
G. A. Deleury, penulis The cult of Vithoba, mengusulkan bahwa gambar Vithoba merupakan sebuah viragal (batu pahlawan), yang kelak diidentikkan dengan Wisnu dalam wujudnya sebagai Kresna, dan bahwa Pundalik mentransformasikan pemujaan puja Puranik yang ritualistik menjadi ibadah bhakti yang lebih teridealisasi—"pemujaan yang diinternalisasikan dengan mengesampingkan perbedaan kasta dan kependetaan institusional ."[20] Indolog Dr. Tilak berpendapat bahwa Vithoba muncul sebagai "sebuah alternatif bagi panteon yang telah ada" untuk dewa-dewa Brahmana (yang terkait dengan agama Hindu klasik dan ritualistik). Kemunculan Vithoba terjadi secara bersamaan dengan kebangkitan "tipe penganut awam yang baru", yakni penganut Warkari. Ketika pemujaan terhadap Wisnu dan Siwa terikat dalam ibadah ritualistik yang kaku serta kendali para Brahmana (pendeta), Vithoba, "Tuhannya rakyat jelata, menjadi semakin manusiawi." Vithoba sering kali dipuji sebagai pelindung bagi orang miskin dan orang yang membutuhkan.[21] Stevenson (1843) mengusulkan bahwa Vithoba bisa jadi dulunya merupakan seorang santo Jainisme, lantaran gambar-gambar Vithoba mirip dengan gambar-gambar Jain.[22]
Kuil Pandharpur dan prasasti

Penyelidikan terpelajar mengenai sejarah Vithoba sering kali dimulai dengan mempertimbangkan penanggalan kuil utamanya di Pandharpur, yang diyakini sebagai kuil Vithoba paling awal.[23] Bagian tertua dari kuil ini berasal dari periode Yadawa pada abad ke-12 dan ke-13 . Sebagian besar bangunan kuil diyakini dibangun pada abad ke-17 , meskipun penambahan pada kuil tersebut tidak pernah berhenti.[24] Tanggal pertama kali kuil ini didirikan tidak jelas bagi Bhandarkar, tetapi ia menegaskan ada bukti yang jelas untuk menunjukkan bahwa kuil ini telah eksis pada abad ke-13 .[6] Menurut S. G. Tulpule, kuil tersebut telah berdiri seawal tahun 1189.[24] Faktanya, sebuah monumen bertanggal 1189 mencatat pendirian sebuah tempat suci kecil untuk Vithoba di lokasi kuil saat ini; dengan demikian, Tulpule menyimpulkan, pemujaan Vithoba telah ada sebelum tahun 1189.[25]
Sebuah prasasti batu bertanggal 1237, yang ditemukan di balok atas kuil Vithoba saat ini, menyebutkan bahwa raja Hoysala Someshwara menyumbangkan sebuah desa untuk biaya bhoga (persembahan makanan) bagi "Vitthala".[9][26] Sebuah prasasti di atas lempengan tembaga, bertanggal 1249, mencatat raja Yadawa Kresna menganugerahkan kepada salah satu jenderalnya desa Paundrikaksetra (ksetra Pundarik), di sungai Bhimarathi, di hadapan dewa Wisnu.[6] Prasasti batu lainnya di Pandharpur menceritakan sebuah pengorbanan di Panduranggapura yang karenanya "rakyat dan Vitthal beserta para dewa dipuaskan".[10] Dengan demikian dari abad ke-13, kota ini dikenal sebagai kota Pandurangga. Di dalam kuil, sebuah prasasti batu mencatat pemberian kepada kuil antara tahun 1272 dan 1277 dari berbagai donatur, terutama Hemadri, menteri dari raja Yadawa Ramacandra.[9]
Ranade meyakini bahwa sebuah prasasti, yang ditemukan di Alandi dan merujuk pada Vitthala serta Rakhumai, merupakan prasasti tertua yang berkaitan dengan Vithoba, dan menanggalkannya pada tahun 1209.[27]
Arca utama

Karakteristik fisik dari murti (arca) utama Vithoba di Pandharpur, beserta berbagai referensi tekstual mengenainya, telah menginspirasi teori-teori yang berkaitan dengan pemujaan Vithoba. Sand menyimpulkan, dari sebuah versi legenda Pundalik di Skanda Purana (lihat Legenda di bawah), bahwa dua murti yang berbeda pastilah telah eksis di Pandharpur—masing-masing dengan tipe tirtha dan ksetra. Yang lebih awal adalah tirtha murti, sebuah arca yang sengaja ditempatkan di dekat perairan suci (tirtha), dalam hal ini menghadap ke barat, di dasar sungai Bhima, di dekat tempat suci Pundalik. Murti yang belakangan, menurut Sand, adalah sebuah ksetra murti, yang terletak di suatu tempat yang memiliki kekuatan suci (ksetra), dalam hal ini menghadap ke timur, di atas bukit tempat kuil saat ini telah berdiri sejak sekitar tahun 1189. Oleh karenanya, Sand mengusulkan bahwa pemujaan Vithoba mungkin mendahului kuil itu sendiri.[28]
Deleury mengemukakan bahwa meskipun kuil tersebut mungkin dibangun pada abad ke-13, mengingat arsitekturnya yang bergaya Hemadpanthi, patung Vithoba memiliki gaya yang lebih awal sehingga mungkin diukir untuk tempat suci yang lebih tua dan lebih kecil yang pernah ada di Pandharpur. Pengerjaan arca ini lebih awal ketimbang gaya era Yadawa (1175–1318), Chalukya Anhivad (943–1210) dan bahkan Chauhan Ajmer (685–1193). Meskipun tidak ada kuil Wisnu lain yang masih ada yang memiliki ikonografi seperti Vithoba di Pandharpur, Deleury menemukan kesamaan antara arca Pandharpur dengan arca Wisnu bertolak pinggang dari abad ketiga di Gua Udaygiri, Madhya Pradesh, tetapi ia menyatakan bahwa arca-arca tersebut berasal dari aliran patung yang berbeda.[9]
Pundalik
Sang pemuja Pundalik, pelempar batu bata (lihat Legenda di bawah), merupakan karakter utama dalam legenda-legenda Vithoba. Ia secara umum dianggap sebagai sosok historis, yang terhubung dengan pendirian dan penyebaran sekte Warkari yang berpusat pada Vithoba.[29] Ramakrishna Gopal Bhandarkar menganggap Pundalik sebagai pendiri sekte Warkari dan sosok yang menyebarluaskan sekte tersebut di negeri Maratha.[30] Stevenson (1843) melangkah lebih jauh dengan mengusulkan bahwa ia mungkin adalah seorang penganut Jainisme atau Buddhisme, karena tradisi Warkari adalah kombinasi dari moral Jain dan Buddha, serta Vithoba dipandang sebagai Wisnu dalam wujudnya sebagai Buddha.[31] Frazer, Edwards, dan P.R. Bhandarkar (1922) semuanya mengemukakan bahwa Pundalik mencoba menyatukan Siwa dan Wisnu, dan bahwa sekte ini bermula di Karnataka.[32] Ranade (1933) berpendapat bahwa Pundalik, seorang santo Kannada, tidak sekadar pendiri sekte Warkari melainkan juga pemuja agung pertama atau pendeta tinggi pertama di kuil Pandharpur.[33] Upadhyaya mendukung teori pendeta tersebut tetapi menolak teori asal-usul Kannada.[32] Menurut M. S. Mate, Pundalik berperan penting dalam membujuk raja Hoysala Wisnuwardhana untuk membangun kuil Pandharpur yang didedikasikan kepada Wisnu, yang menempatkannya pada awal abad ke-12 .[8] Cendekiawan lainnya seperti Raeside (1965), Dhanpalvar (1972), dan Vaudeville (1974) sama sekali mempertanyakan historisitas Pundalik, dan menolaknya dengan menganggapnya sekadar sebagai sosok mitologis.[34]
Identifikasi

Utamanya, terdapat tiga dewa Hindu yang dikaitkan dengan Vithoba: Wisnu, Kresna, dan Siwa. Buddha Gautama juga dikaitkan dengan Vithoba, konsisten dengan deifikasi Hindu terhadap Buddha sebagai inkarnasi kesembilan dari Wisnu. Namun, penganut Warkari menganggap Vithoba sebagai swarupa (wujud asli)[35] dari Wisnu itu sendiri, bukan sebuah awatara (manifestasi) dari Wisnu layaknya Kresna,[36] terlepas dari berbagai legenda dan pasangan yang mengaitkan Vithoba dengan Kresna. Namun, bahkan penganut Mahanubhawa, yang bangkit pada abad ke-13 sebagai sekte pemuja Kresna, tidak sekadar menolak gagasan bahwa Vithoba adalah Kresna tetapi juga sering memfitnah Vithoba.[37]
Meskipun demikian dalam sejumlah tradisi, Vithoba juga dipuja sebagai sebuah wujud Siwa. Suku Dhangar masih menganggap Vithoba sebagai saudara dari dewa Viroba, dan memandang Vithoba sebagai dewa Saiwa alih-alih Waisnawa.[38] Underhill mengemukakan bahwa tempat suci Pandharpur adalah wujud gabungan dari Wisnu-Siwa yang didirikan oleh sekte Bhagawata yang memuja Wisnu-Siwa—sang Tuhan, yang merupakan makna dari kata bhagawata.[39] Namun, bagi para pendeta utama dari kuil Pandharpur—Brahmana dari keluarga Badva —"Viṭhobā bukanlah Viṣṇu maupun Śiva. Viṭhobā adalah Viṭhobā" (asli IAST).[40] Terlepas dari ini, beberapa pendeta di kuil tersebut menunjuk pada tanda di dada arca Vithoba sebagai bukti bahwa Vithoba adalah Wisnu, dalam wujudnya sebagai Kresna.[9]
Arca Vithoba menggantikan representasi tradisional Buddha, saat digambarkan sebagai awatara kesembilan Wisnu, dalam beberapa patung kuil dan almanak astrologi Hindu di Maharashtra. Pada abad ke-17, para seniman Maratha memahat sebuah arca Vithoba Pandharpur untuk menggantikan Buddha pada sebuah panel yang menampilkan awatara-awatara Wisnu. Hal ini dapat ditemukan di Gua Shivneri.[41] Stevenson bahkan melangkah sejauh menyebut para pemuja Vithoba (Vithal-bhakta) sebagai Waisnawa Buddha (Bauddho-Waisnawa), karena mereka menganggap Vithoba sebagai awatara kesembilan Wisnu—yakni Buddha.[42] Beberapa penyair suci memuji Vithoba sebagai sebuah wujud Buddha.[43] B. R. Ambedkar, seorang pemimpin politik India yang berpindah keyakinan menjadi penganut agama Buddha, mengemukakan bahwa arca Vithoba di Pandharpur pada kenyataannya merupakan arca sang Buddha.[44]
Ikonografi
Semua arca Vithoba umumnya meniru model arca utamanya di Pandharpur. Arca di Pandharpur merupakan patung basal hitam yang tingginya 3 kaki 9 inci (1,14 m). Vithoba digambarkan sebagai seorang anak laki-laki berkulit gelap. Para penyair suci menyebutnya "Para-brahman yang berkulit gelap".[45] Ia mengenakan hiasan kepala kerucut yang tinggi atau sebuah mahkota, yang diinterpretasikan sebagai simbol Siwa—yakni Lingga. Oleh karena itu, menurut Zelliot, Vithoba mewakili Siwa sekaligus Wisnu.[46] Penyair suci Warkari yang pertama, Dnyaneshwar (abad ke-13), menyatakan bahwa Vithoba (Wisnu) menggendong Siwa di atas kepalanya sendiri, yang mana menurut Waisnawa, Siwa adalah pemuja Wisnu yang pertama dan paling utama.[47]
Vithoba ditampilkan berdiri dengan posisi tangan bertolak pinggang di atas batu bata yang dilemparkan oleh pemujanya, Pundalik. Ia mengenakan kalung dari manik-manik tulasi, yang disematkan permata kaustubha legendaris, serta makara-kundala (anting-anting berbentuk ikan) yang dikaitkan oleh penyair suci Tukaram dengan ikonografi Wisnu. Vithoba di Pandharpur memegang sebuah sangka (cangkang keong) di tangan kirinya dan sebuah cakra (cakram) atau bunga teratai di tangan kanannya, yang mana semuanya merupakan simbol yang secara tradisional dikaitkan dengan Wisnu. Beberapa arca menggambarkan tangan kanan Vithoba yang membuat isyarat yang secara tradisional disalahartikan sebagai sebuah pemberkatan; tidak ada isyarat pemberkatan pada arca di Pandharpur.[4][9] Meskipun biasanya digambarkan berlengan dua, representasi sang dewa yang berlengan empat juga ada.[48]
Arca di Pandharpur, saat tidak dikenakan pakaian oleh pendeta penjaganya untuk menyambut para pemuja, menampilkan fitur-fitur terperinci Vithoba yang khas dari tubuh laki-laki, yang tampak dalam wujud relief penuh. Akan tetapi, pengamatan jarak dekat terhadap pahatan batu tersebut menyingkap siluet cawat, yang ditopang oleh kambarband (ikat pinggang), yang ditelusuri melalui ukiran-ukiran yang tipis dan ringan.[4][9] Arca dan gambar lainnya menampilkan Vithoba mengenakan pakaian, biasanya dengan pitambara – sebuah dhoti kuning dan berbagai ornamen emas—sebagaimana cara ia didandani oleh para pendeta dalam ritual harian.
Arca Pandharpur juga memiliki tanda yang dikenal sebagai sriwatsalanchhana di dada kiri—yang konon merupakan seikat rambut putih yang ikal, yang biasanya ditemukan di dada arca Wisnu dan Kresna.[49] Arca tersebut juga dihiasi dengan tanda berbentuk cincin yang disebut sriniketana pada dada kanan, mekhala (sebuah ikat pinggang tiga untai), sebuah tongkat panjang (kathi) yang tertancap ke tanah di antara kedua kaki, serta gelang cincin ganda dan mutiara pada bagian siku.[9] == Pasangan ==

Vithoba biasanya digambarkan bersama pasangan utamanya, Rakhumai, di sisi kirinya. Rakhumai (atau Rakhamai) secara harfiah berarti 'ibu Rukmini'. Rukmini secara tradisional dipandang sebagai istri Kresna. Umat Hindu umumnya menganggap Kresna sebagai suatu wujud Wisnu, dan karenanya pasangannya juga sebagai suatu wujud Laksmi. Sama halnya dengan pasangannya, Rakhumai juga digambarkan dengan posisi bertolak pinggang, berdiri di atas sebuah batu bata. Ia memiliki sebuah ruang suci tersendiri di kompleks kuil Pandharpur. Menurut Ghurye, Rukmini—seorang putri dari wilayah Vidarbha di Maharashtra—dinaikkan kedudukannya menjadi pasangan utama, karena afiliasinya dengan wilayah tersebut.[50] Menurut tradisi Dhangar, Rakhumai dipuja oleh komunitas tersebut sebagai Padmawati atau Padubai, yakni sosok pelindung bagi komunitas tersebut dan ternak pada khususnya.[11] Cerita rakyat Dhangar menjelaskan bahwa alasan di balik pemisahan tempat suci bagi Vithoba dan Padubai merupakan akibat dari kutukan yang dijatuhkan Vithoba kepada pasangannya, serta ketidakterikatannya pada samsara (kehidupan berumah tangga).[51] Selain Rakhumai, dua pasangan lainnya yakni Rahi dan Satyabama juga dipuja. Ketiga pasangan tersebut dianggap sebagai istri-istri Kresna dan penjelmaan dari dewi Laksmi dalam agama Hindu.[50]
Pemujaan

Vithoba adalah dewa yang populer di Maharashtra dan Karnataka; para pemujanya juga ada di Goa, Telangana, dan Tamil Nadu namun tidak dalam jumlah yang sama banyaknya.[18] Vithoba dipuja dan dihormati oleh sebagian besar orang Marathi, namun ia tidak populer sebagai kuladewata (dewa keluarga).[52] Kuil utama Vithoba, yang mencakup tempat suci tambahan yang terpisah untuk pasangannya Rakhumai, terletak di Pandharpur. Dalam konteks ini, Pandharpur dengan penuh kasih sayang disebut sebagai "Bhu-Waikunta" (tempat kediaman Wisnu di bumi) oleh para pemujanya.[53] Para pemuja, dari seluruh penjuru Maharashtra, Karnataka, dan Telangana, telah menziarahi kuil pusat Vithoba di Pandharpur, sejak zaman Dnyaneshwar (abad ke-13).[13]
Terdapat dua tradisi berbeda yang berkisar pada pemujaan Vithoba di Maharashtra: pemujaan ritualistik di dalam kuil oleh para pendeta Brahmana dari keluarga Badva; dan pemujaan spiritual oleh kelompok Warkari.[54] Pemujaan ritualistik tersebut mencakup lima ritus harian. Pertama, sekitar pukul 3 pagi, dilakukan sebuah arati untuk membangunkan sang dewa, yang disebut kākaḍāratī. Selanjutnya adalah pañcāmṛtapūjā, yakni sebuah puja yang mencakup ritual mandi menggunakan lima (panca) bahan manis yang disebut pancamreta. Arca tersebut kemudian didandani untuk menerima persembahan devosional pagi. Ritus ketiga adalah puja lainnya yang melibatkan penggantian pakaian kembali serta makan siang pada tengah hari. Ritus ini dikenal sebagai madhyāhṇapūjā. Persembahan devosional sore hari dilanjutkan dengan ritus keempat untuk makan malam saat matahari terbenam—yakni aparāhṇapūjā. Ritus terakhir adalah śejāratī, sebuah arati untuk menidurkan sang dewa.[55] Selain berbagai ritus di kuil utama di Pandharpur, tradisi-tradisi Haridasa yang didedikasikan kepada Vitthala juga berkembang pesat di Karnataka.
Sekte Warkari
Panth Warkari (Jalan Peziarah) atau Sampradaya Warkari (Tradisi Peziarah) adalah salah satu sekte Waisnawa yang paling penting di India.[56] Menurut Raeside, sekte ini pada dasarnya adalah sekte bhakti yang bersifat monoteistik, berfokus pada pemujaan Vithoba dan berlandaskan pada dharma Bhagawata tradisional.[40] Sekte ini, menurut Vaudeville, adalah sebuah "sintesis Saiwa-Waisnawa" dan "Waisnawisme nominal, yang mengandung perpaduan bebas dari agama-agama lain".[15] Sekte ini diyakini bermula di Karnataka dan bermigrasi ke Maharashtra. Teori yang terakhir ini didasarkan pada penyebutan Vithoba sebagai "Kānaḍā" (berasal dari Karnataka) dalam karya penyair suci yang pertama, yakni Dnyaneshwar. Namun, kata ini juga dapat diinterpretasikan sebagai "sulit untuk dipahami".[45] Penganut Warkari dan para cendekiawan yang meyakini Pundalik sebagai tokoh historis juga menganggapnya sebagai pendiri kultus Vithoba. Hal ini dibuktikan dengan seruan liturgis—Pundalikavarada Hari Vitthala!—yang bermakna "O Hari Vitthala (Vithoba), yang telah memberikan anugerah kepada Pundalik!"[57] Akan tetapi, menurut Zelliot, sekte ini didirikan oleh Dnyaneshwar (juga dieja Jnaneshwar), yang merupakan seorang penyair dan filsuf Brahmana yang tersohor selama periode 1275–1296.[58] Penganut Warkari juga memujinya melalui pepatah—Dnyanadev rachila paya—yang berarti "Dnyaneshwar meletakkan batu fondasi".[59]

Namdev (sekitar 1270–1350), seorang penjahit dari kasta Sudra, menulis puisi-puisi devosional Marathi pendek untuk memuji Vithoba yang disebut abhanga (secara harfiah berarti 'tak terputus'), dan menggunakan bentuk nyanyian sahut-sahutan yang disebut kirtan (secara harfiah berarti 'mengulang') untuk memuji kemuliaan Tuhannya. Pertunjukan publik dari devosi musikal ini berujung pada penyebaran kepercayaan Vithoba, yang menerima perempuan, kaum Sudra, dan orang-orang buangan "tak tersentuh", sesuatu yang dilarang dalam agama Hindu Brahmana klasik. Pada masa penguasa Muslim, kepercayaan ini menghadapi stagnasi. Namun, setelah kemunduran Kekaisaran Wijayanagara, ketika perang meletus di wilayah Dekkan, para penguasa Muslim harus menerima kepercayaan-kepercayaan di Maharashtra demi mengumpulkan dukungan dari rakyatnya. Pada periode ini, Eknath (sekitar 1533–99) membangkitkan kembali tradisi Warkari. Dengan berdirinya Kekaisaran Maratha di bawah Shivaji, Tukaram (sekitar 1568–1650), seorang pedagang kelontong kasta Waisya, semakin menyebarluaskan tradisi yang berpusat pada Vithoba ke seluruh wilayah Maharashtra.[60]
Semua penyair suci ini, serta orang-orang lain seperti Janabai, pelayan wanita Namdev, menulis puisi yang didedikasikan untuk Vithoba. Puisi Marathi ini menganjurkan devosi murni, menyebut Vithoba kebanyakan sebagai seorang ayah, atau dalam kasus puisi orang suci perempuan Janabai, sebagai seorang ibu (Vithabai).[61] Tidak hanya perempuan, layaknya Janabai, melainkan juga berbagai macam orang dari kasta dan latar belakang yang berbeda yang menulis abhanga untuk memuji Vithoba: Visoba Khechara (yang merupakan seorang Saiwa ortodoks dan guru Namdev), Sena si tukang cukur, Narhari si pandai emas, Savata si tukang kebun, Gora si pembuat tembikar, Kanhopatra si gadis penari, Chokhamela sang Mahar yang "tak tersentuh", dan bahkan seorang Muslim bernama Syekh Muhammad (1560–1650).[62][63] Siapa pun yang terlahir sebagai penganut Saiwa atau Waisnawa yang menganggap Vithoba sebagai maya-baap (ibu-ayah)-nya dan Pandharpur sebagai maher (rumah pihak ibu dari seorang pengantin wanita)-nya akan diterima sebagai penganut Warkari oleh sekte tersebut tanpa memandang batasan kasta.[57] Penganut Warkari sering mempraktikkan japa Vithoba (pengulangan meditatif dari nama ilahi), dan menjalankan puasa pada hari ekadasi setiap bulannya.[64]
Sekte Haridasa

Haridasa berarti pelayan (dasa) Wisnu (Hari). Menurut tradisi Haridasa, sampradaya mereka, yang juga dikenal sebagai Haridasa-kuta, didirikan oleh Achalananda Vitthala (sekitar 888). Ia merupakan cabang tersendiri di dalam Waisnawisme, yang berpusat pada Vitthala (nama Vithoba dalam bahasa Haridasa-Kannada).[65] Apabila penganut Warkari biasanya dikaitkan dengan Maharashtra, penganut Haridasa biasanya dikaitkan dengan Karnataka. Cendekiawan Sharma beranggapan bahwa pemujaan Vithoba pertama kali muncul di Karnataka, yang baru kemudian berpindah ke Maharashtra. Ia berargumen demikian atas dasar penyebutan oleh Dnyaneshwar, yang disebutkan pada bagian "Sekte Warkari" di atas.[66] Lutgendorf menisbatkan gerakan tersebut kepada Vyasatirtha (1478–1539), guru kerajaan (rajguru) bagi raja Krishnadevaraya dari kekaisaran Wijayanagara. Vitthala menikmati perlindungan kerajaan pada era ini. Krishnadevaraya juga dianggap berjasa atas pembangunan kuil Vitthala di ibu kota saat itu, Wijayanagara (Hampi modern).[67]
Penganut Haridasa menganggap kuil di Pandharpur sebagai tempat yang suci, begitu pula dengan yang di Hampi, dan memuja Vitthala di samping wujud-wujud Kresna.[68] Sastra Haridasa pada umumnya berkaitan dengan pujian yang didedikasikan untuk Vitthala dan Kresna. Para penyair Haridasa layaknya Vijaya Vitthala, Gopala Vitthala, Jagannatha Vitthala, Venugopala Vitthala, dan Mohana Vitthala menggunakan nama pena yang berakhiran "Vitthala", sebagai bentuk devosi.[69] Penyair Haridasa Purandara Dasa atau Purandara Vitthala (1484–1564), "Bapak musik Karnatik", sering kali mengakhiri komposisi berbahasa Kannada-nya dengan sebuah penghormatan kepada Vitthala.[70][71]
Pustimarga atau Vallabha Sampradaya
Teks-teks hagiografis Puṣṭimārga (Vallabhākhyāna, Nija Vārtā, dan Sampradāya Kalpadruma) menegaskan bahwa sang pendiri, Vallabha mengunjungi Paṁḍharapura di antara tahun 1501 dan 1503. Sembari melakukan darśana (penghormatan) kepada Viṭṭhala, Vallabha diperintahkan oleh dewa tersebut agar ia menikah sehingga Viṭṭhala kelak dapat terlahir sebagai putra kedua Vallabha, yakni Viṭṭhalanātha, serta agar ia menciptakan garis keturunan untuk melestarikan dan memajukan bhakti-mārga versi Vallabha.[72][73][74][72][75]
Salah satu Nidhi Swaroop dari sekte tersebut adalah Vitthalnathji beserta pasangannya Yamunaji.
Festival

Festival-festival yang dikaitkan dengan Vithoba utamanya berkaitan dengan yatra (ziarah) dua tahunan yang dilakukan oleh penganut Warkari. Para peziarah melakukan perjalanan ke kuil Pandharpur dari Alandi dan Dehu, kota-kota yang masing-masing erat kaitannya dengan penyair suci Dnyaneshwar dan Tukaram. Di sepanjang perjalanan, mereka menyanyikan abhanga (lagu devosional) yang didedikasikan kepada Vithoba dan mengulang-ulang namanya, sembari mengusung palkhi (tandu) para penyair suci. Penganut Warkari tidak melakukan pemujaan ritualistik melainkan hanya mempraktikkan darshan (pemujaan visual) terhadap sang dewa. Pemujaan ritualistik oleh para pendeta dibatasi selama masing-masing lima hari di sekitar Ekadasi bulan Asada (Juni–Juli) dan Kartika (Oktober–November), ketika sejumlah besar penganut Warkari berpartisipasi dalam yatra. Dalam jumlah yang lebih kecil, penganut Warkari juga mengunjungi kuil pada dua Ekadasi lainnya—pada bulan-bulan Hindu Magha dan Caitra.[54]
Lebih dari 800.000[76] penganut Warkari melakukan perjalanan ke Pandharpur untuk melaksanakan yatra pada Sayani Ekadasi, yakni hari ke-11 bulan purnama (fase bulan membesar) pada bulan kamariah Asada.[77][78] Baik Sayani Ekadasi maupun Prabodhini Ekadasi (pada paruh bulan membesar di bulan Kartika), dikaitkan dengan Wisnu. Umat Hindu percaya bahwa Wisnu tertidur di Kshirasagara (lautan susu kosmik), sembari berbaring di atas punggung Sesa-naga (ular kosmik). Tidurnya dimulai pada Sayani Ekadasi (secara harfiah berarti 'hari ke-11 tidur') dan ia akhirnya terbangun dari tidurnya, empat bulan kemudian, pada Prabodhini Ekadasi. Perayaan-perayaan di bulan Asada dan Kartika berlanjut hingga bulan purnama pada bulan-bulan tersebut, yang diakhiri dengan prosesi obor.[9][55] Prasasti-prasasti yang berasal dari abad ke-11 menyebutkan ziarah Ekadasi ke Pandharpur.[23] Pada Sayani Ekadasi dan Prabodini Ekadasi, ketua menteri atau salah seorang menteri negara bagian Maharashtra melaksanakan komponen pemujaan ritualistik mewakili Pemerintah Maharashtra. Bentuk pemujaan ini dikenal sebagai sarkari-mahapuja.[9]
Selain empat Ekadasi tersebut, sebuah perayaan digelar pada malam Dussehra di Pandharpur, ketika para pemuja menari di atas sebuah lempengan besar (ranga-shila) di hadapan Vithoba, yang diiringi dengan prosesi obor.[39] Peringatan lainnya di kuil Pandharpur meliputi: Ranga-Panchami, ketika gulal (bubuk merah) ditaburkan pada kaki sang dewa; dan Kresna Janmastami, hari kelahiran Kresna, ketika para pemuja menari dan bernyanyi di depan Vithoba selama sembilan hari.[79] Hari-hari suci lainnya mencakup hari Rabu, Sabtu, dan semua hari Ekadasi lainnya, yang keseluruhannya dianggap suci dalam Waisnawisme.[4]
Karya devosional

Karya-karya devosional yang didedikasikan kepada Vithoba dapat dikategorikan ke dalam tradisi Warkari, tradisi Brahmana, dan apa yang oleh Raeside disebut sebagai "tradisi ketiga", yang mencakup elemen Warkari maupun Brahmana. Teks-teks Warkari ditulis dalam bahasa Marathi, teks-teks Brahmana dalam bahasa Sanskerta, dan "tradisi ketiga" adalah teks-teks berbahasa Marathi yang ditulis oleh para Brahmana.
Teks-teks Warkari tersebut adalah: Bhaktalilamreta dan Bhaktawijaya karya Mahipati, Pundalika-Mahatmya karya Bahinabai, dan sebuah abhanga panjang karya Namdev. Semua teks ini menggambarkan legenda Pundalik. Teks-teks Brahmana mencakup: dua versi Panduranga-Mahatmya dari Skanda Purana (terdiri atas 900 ayat); Panduranga-Mahatmya dari Padma Purana (terdiri atas 1.200 ayat); Bhima-Mahatmya, yang juga dari Padma Purana; serta karya devosional ketiga, yang sekali lagi disebut Panduranga-Mahatmya, yang ditemukan dalam Wisnu Purana.[80][81][82] "Tradisi ketiga" ditemukan dalam dua karya: Panduranga-Mahatmya oleh Brahmana Sridhara (terdiri atas 750 ayat), dan karya lain dengan nama yang sama yang ditulis oleh Prahlada Maharaj (terdiri atas 181 ayat).[83][84]
Selain karya-karya di atas, terdapat banyak abhanga, yakni puisi devosional pendek Marathi dari penganut Warkari, dan banyak stuti (lagu pujian) serta stotra (himne), yang beberapa di antaranya berasal dari tradisi Haridasa. Yang paling terkenal dari karya-karya tersebut adalah "Panduranggastaka" atau "Panduranggastrotra", yang dinisbatkan kepada Adi Shankara, meskipun penisbatan ini masih dipertanyakan.[80] Sebuah teks yang disebut "Tirthavali-Gatha", yang dinisbatkan kepada Namdev atau Dnyaneshwar namun kemungkinan merupakan koleksi tulisan dari banyak penyair suci, juga berpusat pada penyebaran kepercayaan Warkari dan pemujaan Vithoba.[19][85] Karya devosional lainnya meliputi arati seperti "Yuge atthavisa vitevari ubha" karya Namdev dan "Yei O Vitthala majhe mauli re". Lagu-lagu arati ini memuja Vithoba, yang mengenakan pakaian kuning (suatu karakteristik Wisnu) dan dilayani oleh Garuda (wahana Wisnu) dan Hanoman (dewa kera, pemuja Rama—salah satu awatara Wisnu). Terakhir, penyair berbahasa Telugu Tenali Ramakrishna (abad ke-16) merujuk pada Vithoba, sebagai Pandurangga, di dalam puisinya Panduranga-Mahatmyamu: "(O Parwati), menerima pelayanan Pundarika dan Ksetrapala (Kala-Bhairawa), menjadi pohon pengabul harapan dengan mengambil tubuh halus demi para pemuja, memenuhi harapan mereka, dewa Pandurangga bersemayam di dalam kuil itu."[45]
Kuil

Terdapat banyak kuil Vithoba di Maharashtra,[86] serta beberapa di Karnataka, Tamil Nadu, Gujarat, Goa, dan Andhra Pradesh. Namun, pusat pemujaan utamanya adalah kuil Vithoba di Pandharpur. Tanggal pendirian kuil ini masih diperdebatkan, meskipun jelas bahwa kuil ini telah berdiri pada masa Dnyaneshwar di abad ke-13 . Selain Vithoba dan pasangan-pasangannya—Rukmini, Satyabama, dan Rahi—dewa-dewi Waisnawa lainnya juga dipuja. Dewa-dewi tersebut meliputi: Venkateswara, suatu wujud Wisnu; Mahalakshmi, wujud pasangan Wisnu Laksmi; Garuda dan Hanoman (lihat bagian sebelumnya). Dewa-dewi Saiwa juga dipuja, seperti: Ganesa, dewa kebijaksanaan dan permulaan yang berkepala gajah; Khandoba, suatu wujud Siwa; dan Annapurna, wujud pasangan Siwa Parwati. Samadhi (monumen peringatan) para santo seperti Namdev, Chokhamela, dan Janabai, serta dari para pemuja seperti Pundalik dan Kanhopatra, berada di dalam dan di sekitar kuil tersebut.[87][88] Kuil-kuil penting lainnya di Maharashtra terletak: di Dehu, tempat kelahiran Tukaram, yang menarik kedatangan pengunjung pada semua hari Ekadasi sepanjang tahun; di Kole (Distrik Satara), untuk mengenang Ghadge Bova, yang mengadakan perayaan pada hari kelima dari paruh terang (bulan membesar) pada bulan Magha; di Kolhapur dan Rajapur, yang menjadi tuan rumah perayaan pada Sayani Ekadasi dan Prabodini Ekadasi;[89][90] Madhe — sebuah tempat pengungsian bagi arca Pandharpur ketika arca tersebut dipindahkan untuk melindunginya dari para penyerang Muslim[48] dan yang terakhir di Kuil Birla di Shahad.
Beberapa kuil ditemukan di Goa, yang paling terkenal adalah kuil-kuil di Sanquelim, Sanguem, dan Gokarna Matha. Demikian pula festival-festival kuil yang dirayakan di kuil-kuil Vitthala di Margao,[91] Ponda yang mampu menarik banyak peziarah. Vitthal juga dipuja sebagai Vitthalnath di Nathdwara di Rajasthan.[92]

Vithoba diperkenalkan ke India Selatan selama masa pemerintahan Wijayanagara dan Maratha.[93] Di India Selatan, ia umumnya dikenal sebagai Vitthala. Kuil Hampi (disebutkan di atas) merupakan Situs Warisan Dunia dan menjadi kuil Vitthala terpenting di luar Maharashtra. Dibangun pada abad ke-15 , kuil ini diyakini pernah menyimpan arca utama dari Pandharpur, yang diambil oleh raja Wijayanagara Krishnadevaraya "untuk meningkatkan statusnya sendiri"[94] atau untuk menyelamatkan arca tersebut dari penjarahan oleh para penyerbu Muslim.[95] Arca itu kelak dikembalikan ke Pandharpur oleh Bhanudas (1448–1513), kakek buyut dari penyair suci Eknath. Saat ini, kuil tersebut berdiri tanpa keberadaan arca utamanya,[94][95] kendati antara tahun 1516 dan 1565, kebanyakan transaksi penting, yang sebelumnya mungkin akan dilaksanakan di hadapan dewa negara yang asli yakni Virupaksha (suatu wujud Siwa), dikeluarkan di hadapan arca utama Vitthala.[96] Tiga dari delapan matha (biara) milik Madhwacharya di Karnataka—yakni Shirur, Pejawara, dan Puttige—menjadikan Vitthala sebagai dewa utama mereka.[97][98] Sebuah kuil Vitthaleswara berdiri tegak di Mulbagal, Karnataka. Di Tamil Nadu, tempat-tempat suci Vitthala dapat ditemukan di Srirangam, Vittalapuram di dekat Thiruporur dan di Distrik Tirunelveli, serta Thennangur, Govindapuram di dekat Kumbakonam dan patung-patungnya juga ditemukan di Kanchi.[93][99]
Legenda

Templat:Vaishnavism Legenda-legenda mengenai Vithoba biasanya berfokus pada pemujanya yang bernama Pundalik atau pada peran Vithoba sebagai penyelamat bagi para penyair suci dari kepercayaan Warkari. Sebagaimana yang dibahas pada bagian karya devosional di atas, legenda Pundalik muncul dalam kitab suci berbahasa Sanskerta Skanda Purana dan Padma Purana. Legenda ini juga didokumentasikan dalam teks-teks berbahasa Marathi: Panduranga-Mahatmya karya seorang Brahmana bernama Sridhara; karya lain dengan nama yang sama yang ditulis oleh Prahlada Maharaj; dan juga dalam abhanga-abhanga dari berbagai penyair suci.
Terdapat tiga versi legenda Pundalik, yang mana dua di antaranya dibuktikan sebagai varian tekstual dari Skanda Purana (1.34–67). Menurut versi pertama, petapa Pundarika (Pundalik) digambarkan sebagai seorang pemuja dewa Wisnu dan mengabdikan dirinya untuk melayani kedua orang tuanya. Dewa Gopala-Kresna, suatu wujud Wisnu, datang dari Govardhana sebagai seorang gembala sapi, didampingi oleh sapi-sapi gembalaannya, untuk menemui Pundarika. Kresna digambarkan dalam wujud digambara, mengenakan makara-kundala, tanda sriwatsa (dijelaskan di atas),[49] hiasan kepala dari bulu merak, bertolak pinggang, dan mengapit tongkat gembalanya di antara kedua pahanya. Pundarika meminta Kresna untuk tetap berada dalam wujud tersebut di tepi sungai Bhima. Ia percaya bahwa kehadiran Kresna akan menjadikan situs tersebut sebagai sebuah tirtha dan ksetra.[100] Lokasi tersebut diidentikkan dengan Pandharpur pada masa kini, yang terletak di tepi sungai Bhima. Deskripsi tentang Kresna tersebut menyerupai karakteristik arca Vithoba di Pandharpur.[101]
Versi kedua dari legenda tersebut menggambarkan Vithoba muncul di hadapan Pundalik sebagai Bala Kresna (Kresna balita) yang berusia lima tahun. Versi ini ditemukan di dalam manuskrip dari kedua Purana tersebut, karya Prahlada Maharaj, dan para penyair suci, terutama Tukaram.[102] Versi yang tersisa dari legenda Pundalik muncul dalam karya Sridhara dan sebagai sebuah varian di dalam Padma Purana. Pundalik, seorang Brahmana yang dimabuk asmara dengan istrinya, menelantarkan orang tuanya yang sudah renta akibat hal tersebut. Kemudian, saat bertemu resi Kukkuta, Pundalik mengalami transformasi dan mengabdikan hidupnya untuk melayani orang tuanya yang telah lanjut usia. Sementara itu, Radha, gadis pemerah susu yang merupakan kekasih Kresna, datang ke Dwaraka, kerajaan Kresna, dan duduk di pangkuannya. Radha tidak menghormati Rukmini, permaisuri utama Kresna, dan Kresna juga tidak meminta pertanggungjawaban Radha atas penghinaan tersebut. Merasa terhina, Rukmini meninggalkan Kresna dan pergi ke hutan Dandiwana di dekat Pandharpur. Bersedih atas kepergian Rukmini, Kresna mencari permaisurinya tersebut dan akhirnya menemukannya sedang beristirahat di Dandiwana, di dekat rumah Pundalik. Setelah beberapa bujukan, Rukmini berhasil ditenangkan. Kemudian Kresna mengunjungi Pundalik dan mendapatinya sedang melayani kedua orang tuanya. Pundalik melemparkan sebuah batu bata ke luar agar Kresna dapat beristirahat di atasnya. Kresna berdiri di atas batu bata tersebut dan menunggu Pundalik. Setelah menyelesaikan pelayanannya, Pundalik meminta agar Kresna, dalam wujud Vithoba, tetap berada di atas batu bata tersebut bersama Rukmini, dalam wujud Rakhumai-nya, dan memberkati para pemujanya selamanya.[13][30][84][100]
Legenda-legenda lainnya menggambarkan Vithoba datang untuk menyelamatkan para pemujanya dalam wujud orang biasa, orang buangan Mahar yang "tak tersentuh", atau seorang pengemis Brahmana.[103] Mahipati, dalam karyanya Panduranggastrotra, mengisahkan bagaimana Vithoba membantu para penyair suci perempuan seperti Janabai dalam pekerjaan rumah tangga sehari-hari mereka, seperti menyapu rumah dan menumbuk padi.[104] Ia mengisahkan bagaimana Vithoba datang untuk menolong Sena si tukang cukur. Raja Bidar telah memerintahkan agar Sena ditangkap lantaran ia tidak datang ke istana terlepas dari adanya perintah kerajaan. Ketika Sena sedang khusyuk dalam doanya kepada Vithoba, Vithoba pergi ke istana dalam wujud Sena untuk melayani sang raja, dan Sena pun selamat.[105] Kisah lain berkaitan dengan seorang santo, Damaji, sang penjaga lumbung biji-bijian kerajaan, yang membagikan biji-bijian kepada masyarakat pada saat bencana kelaparan. Vithoba datang sebagai seorang buangan dengan sekantong emas untuk membayar biji-bijian tersebut.[106] Terdapat pula cerita lain yang mengisahkan bagaimana Vithoba menghidupkan kembali anak Gora Kumbhar (si pembuat tembikar), yang telah terinjak-injak ke dalam tanah liat oleh Gora saat ia sedang melantunkan nama Vithoba.[107]
Catatan
- ↑ Zelliot dan Berntsen (1988) hlm. xviii "Kultus Varkari bercorak pedesaan dan berkarakter non-Brahmana"
- ↑ Sand (1990), hlm. 33 "Menurut Raeside, tradisi Varkari pada dasarnya bersifat monoteistik dan tanpa ritual, dan, bagi tradisi ini, Vithoba mewakili Hari Kresna, sementara bagi para badava atau pendeta turun-temurun "Vithoba bukanlah Wisnu maupun Siwa. Vithoba adalah Vithoba (...)"; hlm. 34 "sikap sampradaya Varkari yang lebih kurang anti-ritualistik dan anti-brahmana."
- ↑ Novetzke (2005) hlm. 115–16
- 1 2 3 4 5 Crooke (2003) hlm. 607–08
- ↑ Pande (2008) hlm. 449
- 1 2 3 Bhandarkar (1995) hlm. 124
- ↑ Tagare dalam Mahipati: Abbott, Godbole (1988) hlm. xxxvi
- 1 2 Sand (1990) hlm. 38
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Pathak, Arunchandra S. (2006). "Pandharpur". The Gazetteers Dept, Pemerintah Maharashtra (pertama kali diterbitkan: 1977). Diarsipkan dari asli tanggal 30 Maret 2010. Diakses tanggal 2008-07-14.
- 1 2 Bhandarkar (1995) hlm. 125
- 1 2 3 4 Eaton (2005) hlm. 139–40
- ↑ Zelliot (1988) hlm. 170
- 1 2 3 Pande (2008) hlm. 508
- ↑ Untuk Bir Kuar, Tagare dalam Mahipati: Abbott, Godbole (1988) hlm. xxxiv
- 1 2 Novetzke (2005) hlm. 116
- ↑ Dhere hlm. 62
- ↑ Sand (1990) hlm. 40
- 1 2 Kelkar (2001) hlm. 4179
- 1 2 Vaudeville (1987) hlm. 223–24
- ↑ Deleury sebagaimana dikutip dalam Sand (1990) hlm. 38
- ↑ Tilak (2006) hlm. 243–46
- ↑ Stevenson (1843) hlm. 5–6 "Ketiadaan pakaian yang memadai pada arca-arca (Vithoba dan Rakhumai) sebagaimana pertama kali diukir, dalam hal ini sangat selaras dengan arca-arca yang saat ini dipuja oleh umat Jain."
- 1 2 Karve (1968) hlm. 188–89
- 1 2 Zelliot, Eleanor dalam Mokashi (1987) hlm. 35
- ↑ Shima (1988) hlm. 184
- ↑ Gokhale (1985) hlm. 42–52
- ↑ Ranade (1933) hlm. 183
- ↑ Sand (1990) hlm. 43, 58
- ↑ Sand (1990) hlm. 35
- 1 2 Bhandarkar (1995) hlm. 125–26
- ↑ Stevenson (1843) hlm. 66
- 1 2 Sand (1990) hlm. 37
- ↑ Ranade (1933) hlm. 183–84
- ↑ Sand (1990) hlm. 39–40
- ↑ Williams, Monier. mw1276-svadharman (Edisi 2008). sanskrit-lexicon.uni-koeln.de. hlm. 1276.
- ↑ Zelliot, Eleanor dalam Mokashi (1987) hlm. 37
- ↑ Novetzke hlm. 117
- ↑ Zelliot (1988) hlm. 114
- 1 2 Underhill (1991) hlm. 171
- 1 2 Raeside, I. M. P. (1965) hlm. 82. Dikutip dalam Sand (1990) hlm. 33
- ↑ Pathak, Arunchandra S. (2006). "Junnar". The Gazetteers Dept, Pemerintah Maharashtra (pertama kali diterbitkan: 1885). Diarsipkan dari asli tanggal 16 Oktober 2009. Diakses tanggal 2008-11-03.
- ↑ Stevenson (1843) hlm. 64
- ↑ Tagare dalam Mahipati: Abbott, Godbole (1988) hlm. xxxiv
- ↑ Keer (2005) hlm. 482
- 1 2 3 Pande (2008) hlm. 448
- ↑ Zelliot, Eleanor dalam Mokashi (1987) hlm. 35–36
- ↑ Ranade (1933) hlm. 41
- 1 2 Dhere, R C (2009). "Bab 6: Mencari arca asli Viththal". Shri Viththal ek mahasamanvaya (situs resmi penulis). Diarsipkan dari asli tanggal 14 Februari 2011. Diakses tanggal 20 Juli 2010.
- 1 2 Monier-Williams (2008). "Cologne Scan". sanskrit-lexicon.uni-koeln.de. hlm. 1110.
- 1 2 Pillai (1997) hlm. 366–67
- ↑ Pande (2008) hlm. 447
- ↑ Karve (1968) hlm. 183
- ↑ Tagare dalam Mahipati: Abbott, Godbole (1987) hlm. xxxv
- 1 2 Engblom, Philip C. dalam Mokashi (1987) hlm. 7–10, 15
- 1 2 Shima (1988) hlm. 188
- ↑ Flood (1996) hlm. 135
- 1 2 anon. (1987) hlm. 966–68
- ↑ Zelliot, Eleanor dalam Mokashi (1990) hlm. 38
- ↑ Pawar hlm. 350
- ↑ Shima (1988) hlm. 184–86
- ↑ Flood (1996) hlm. 142–44
- ↑ Zelliot, Eleanor dalam Mokashi (1987) hlm. 40
- ↑ lihat Pawar hlm. 350–62 untuk ulasan mengenai sastra Warkari
- ↑ Tagare dalam Mahipati: Abbott, Godbole (1988) hlm. xxxvii
- ↑ Flood (2003) hlm. 252–53
- ↑ Sharma (2000) hlm. 514–16
- ↑ Lutgendorf (2007) hlm. 69, 70, 72
- ↑ Rao (1966) hlm. 7–8
- ↑ Rao (1966) hlm. 28
- ↑ Iyer (2006) hlm. 93
- ↑ Kiehnle (1997) hlm. 39
- 1 2 Barz 2018.
- ↑ Barz 1992, hlm. 29.
- ↑ Entwistle 1987, hlm. 163.
- ↑ Barz 1992, hlm. 38.
- ↑ Press Trust of India (PTI) (11 Juli 2011). "Devotees pour in to temple town Pandharpur, Maharashtra". CNN IBN. Diarsipkan dari asli tanggal 16 Oktober 2012. Diakses tanggal 12 Juli 2011.
- ↑ Masing-masing dari 12 bulan Hindu—seperti Asada, Caitra, Magha, dan Kartika—dibagi menjadi dua paruh waktu yang masing-masing terdiri dari 15 hari. Bulan membesar selama paruh terang (Sukla Paksa), dari hari ke-1 hingga hari ke-15 (hari purnama); dan mengecil selama paruh gelap berikutnya (Kresna Paksa) hingga hari bulan baru.
- ↑ Engblom, Philip C. dalam Mokashi (1987) hlm. 2
- ↑ Shima (1988) hlm. 189
- 1 2 Sand (1990) hlm. 56
- ↑ Sand (1990) hlm. 33
- ↑ Untuk terjemahan lengkap bahasa Inggris dari Bhaktawijaya, yang menceritakan legenda Pundalik dan juga mengisahkan interaksi yang dilaporkan antara para santo dan Vithoba, lihat Stories of Indian Saints (1988) oleh Mahīpati, Justin Edwards Abbott, dan Narhar R. Godbole.
- ↑ Sand (1990) hlm. 34
- 1 2 Untuk teks lengkap berbahasa Marathi dan terjemahan bahasa Inggris dari Panduranga-Mahatmya karya Sridhara lihat Raeside (1965) hlm. 81–100
- ↑ Novetzke (2005) hlm. 120
- ↑ Singh (2004) hlm. 13
- ↑ Shima (1988) hlm. 189–96
- ↑ Pande (2008) hlm. 445–48
- ↑ Underhill (1991) hlm. 165–66, 172
- ↑ Pathak, Arunchandra S. (2006). "Kole". The Gazetteers Dept, Pemerintah Maharashtra (pertama kali diterbitkan: 1963). Diarsipkan dari asli tanggal 20 Juni 2008. Diakses tanggal 2008-10-02.
- ↑ Robert W. Bradnock, Roma Bradnock (2000). Goa handbook 2, illustrated. Footprint Handbooks. ISBN 978-1-900949-45-3.
- ↑ "The Artists of Nathadwar — Part 4". The Sampradaya Sun. 29 Mei 2005. Diakses tanggal 2009-07-03.
- 1 2 T. Padmaja (2002) hlm. 92, 108, 121–22, gbr 87
- 1 2 Eleanor Zelliot dalam Mokashi (1987) hlm. 42
- 1 2 Ranade (1933) hlm. 213
- ↑ Eaton (2005) hlm. 83
- ↑ Sharma (2000) hlm. 612
- ↑ Rao (2002) hlm. 54–55
- ↑ M R Venkatesh (10 Juli 2011). "New abode for Vittala in TN". Diakses tanggal 10 Juli 2011.
- 1 2 Sand (1990) hlm. 41–42
- ↑ Bakker (1990) hlm. 78
- ↑ Sand (1990) hlm. 50
- ↑ Eleanor Zelliot dalam Mokashi (1987) hlm. 35
- ↑ Tilak (2006) hlm. 247
- ↑ Untuk kisah lengkapnya, lihat Mahipati hlm. 22–27
- ↑ Untuk cerita lengkapnya, lihat Mahipati hlm. 85–99
- ↑ Untuk legenda lengkapnya, lihat Mahipati hlm. 286–289
Referensi
- anonymous cited in (1987). "Devolutional Literature — Marathi". Encyclopaedia of Indian literature. Vol. 1. Sahitya Akademi. ISBN 81-260-1803-8. Diakses tanggal 2008-09-20.
- Bakker, Hans (1990). The History of Sacred Places in India as Reflected in Traditional Literature. BRILL. ISBN 90-04-09318-4. Diakses tanggal 2008-09-20.
- Barz, Richard K. (1992) [1976]. The Bhakti Sect of Vallabhācārya (dalam bahasa Inggris). New Delhi: Munshiram Manoharlal.
- Barz, Richard (2018). "Vallabha". Dalam Jacobsen, Knut A.; Basu, Helene; Malinar, Angelika; Narayanan, Vasudha (ed.). Brill's Encyclopedia of Hinduism Online. Brill.
- Bhandarkar, Ramakrishna Gopal (1995) [1913]. Vaiṣṇavism, Śaivism, and Minor Religious Systems. Asian Educational Services. hlm. 124–27. ISBN 81-206-0122-X.
- Crooke, W. (2003) [1935]. "Pandharpur". Dalam Hastings, James (ed.). Encyclopedia of Religion and Ethics. Vol. 18. Kessinger Publishing. hlm. 607–8. ISBN 0-7661-3695-7. Diakses tanggal 2008-09-20.
- Dhere, R.C. (1984). Sri Vitthal: Ek Mahasamanvaya (dalam bahasa Marathi). Pune: Shrividya Prakashan.
- Translated into English: Feldhaus, Anne (2011). Rise of a Folk God: Vitthal of Pandharpur. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-977759-4.
- Eaton, Richard Maxwell (2005). A Social History of the Deccan, 1300–1761: Eight Indian Lives. Cambridge University Press. hlm. 139–40. ISBN 0-521-25484-1. Diakses tanggal 2008-09-20.
- Entwistle, Alan W. (1987). Braj, Centre of Krishna Pilgrimage. Groningen: Egbert Forsten. doi:10.1163/9789004646599. ISBN 978-90-6980-016-5.
- Flood, Gavin D. (1996). An Introduction to Hinduism. Cambridge University Press. hlm. 135, 142–4. ISBN 0-521-43878-0.
An Introduction to Hinduism.
- Flood, Gavin D. (2003). The Blackwell Companion to Hinduism. Blackwell Publishing. hlm. 252–53. ISBN 978-0-631-21535-6. Diakses tanggal 2008-09-20.
- Gokhale, Shobana (1985). "The Pandharpur Stone inscription of the Yadava king Mahadeva Sake 1192". Dalam Deo, Shantaram Bhalchandra; Dhavalikar, Madhukar Keshav (ed.). Studies in Indian Archaeology (Edisi 238 pages). Popular Prakashan. hlm. 42–52. ISBN 978-0-86132-088-2. Diakses tanggal 2008-09-20.
- Iyer, Panchapakesa A.S. (2006) [2006]. Karnataka Sangeeta Sastra. Chennai: Zion Printers.
- Karve, Irawati (1968). "Ch.7: Religion and Gods of Maharashtra". Maharashtra – Land and Its People (PDF). Maharashtra State Gazetteer. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2009-03-03. Diakses tanggal 2008-09-20.
- Keer, Dhanajay (2005) [1954]. Dr. Ambedkar: Life and Mission. Popular Prakashan. hlm. 482. ISBN 81-7154-237-9. Diakses tanggal 2008-09-20.
- Kelkar, Ashok R. (2001) [1992]. "Sri-Vitthal: Ek Mahasamanvay (Marathi) by R.C. Dhere". Encyclopaedia of Indian literature. Vol. 5. Sahitya Akademi. hlm. 4179. ISBN 978-81-260-1221-3. Diakses tanggal 2008-09-20.
- Kiehnle, Catharina (1997). Songs on Yoga: Texts and Teachings of the Mahārāṣṭrian Nāths. Franz Steiner Verlag. hlm. 17. ISBN 3-515-06922-4. Diakses tanggal 2008-09-20.
- Lutgendorf, Philip (2007). Hanuman's Tale: The Messages of a Divine Monkey. Oxford University Press US. hlm. 69, 70, 72. ISBN 978-0-19-530921-8. Diakses tanggal 2008-09-20.
- Mahīpati; Abbott, Justin Edwards; Godbole, Narhar R. (1988). Stories of Indian Saints: An English Translation of Mahipati's Marathi Bhaktavijaya. Vol. 2. Motilal Banarsidass. ISBN 81-208-0469-4.
- Mokashi, Digambar Balkrishna; Engblom, Philip C. (1987). Palkhi: a pilgrimage to Pandharpur — translated from the Marathi book Pālakhī. Albany: State University of New York Press. hlm. 34–50 and 263–278. ISBN 0-88706-461-2.
- Monier-Williams, Monier (2008). Sanskrit-English Dictionary. Universität zu Köln. Diakses tanggal 2008-09-20.
- Novetzke, Christian Lee; Beck, Guy L. (2005). "A Family Affair: Krishna comes to Pandharpur and makes Himself at Home". Alternative Krishnas: Regional and Vernacular Variations on a Hindu Deity. SUNY Press. hlm. 113–138. ISBN 0-7914-6415-6.
- Pande, Suruchi (August 2008). "The Vithoba of Pandharpur" (PDF). Prabuddha Bharata. 113 (8). Advaita Ashrama: the Ramakrishna Order started by Swami Vivekananda: 444–9. ISSN 0032-6178. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2008-12-21. Diakses tanggal 2008-10-29.
- Pande, Suruchi (September 2008). "The Vithoba of Pandharpur" (PDF). Prabuddha Bharata. 113 (9). Advaita Ashrama: the Ramakrishna Order started by Swami Vivekananda: 504–8. ISSN 0032-6178. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2008-12-21. Diakses tanggal 2008-10-29.
- Pande, Suruchi (October 2008). "The Vithoba of Pandharpur" (PDF). Prabuddha Bharata. 113 (10). Advaita Ashrama: the Ramakrishna Order started by Swami Vivekananda: 553–8. ISSN 0032-6178. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2008-11-21. Diakses tanggal 2008-10-29.
- Pawar, G. M. (1997). "Medieval Marathi Literature". Dalam Panicker K. Ayyappa (ed.). Medieval Indian Literature: An Anthology. Vol. 1. Sahitya Akademi. ISBN 81-260-0365-0. Diakses tanggal 2008-12-17.
- Pillai, S. Devadas (1997). Indian Sociology Through Ghurye, a Dictionary. Popular Prakashan. hlm. 366–7. ISBN 81-7154-807-5. Diakses tanggal 2008-09-20.
- Raeside, I. M. P. (1965). "The "Pāṇḍuranga-Māhātmya" of Śrīdhar". Bulletin of the School of Oriental and African Studies. 28 (1). Cambridge University Press on behalf of School of Oriental and African Studies, University of London: 81–100. doi:10.1017/S0041977X00056779. ISSN 0041-977X. JSTOR 611710. S2CID 163780933.
- Ranade, Ramchandra Dattatraya (1933). Indian Mysticism: Mysticism in Maharashtra (PDF). History of Indian Philosophy. Vol. 7. Aryabhushan Press.
- Rao, Mysore Venkata Krishna (1966). Purandara and the Haridasa Movement. Karnatak University.
- Rao, Vasudeva (2002). Living Traditions in Contemporary Contexts: The Madhva Matha of Udupi. Orient Longman. hlm. 54–5. ISBN 978-81-250-2297-8. Diakses tanggal 2008-09-20.
- Sand, Erick Reenberg (1990). "The Legend of Puṇḍarīka: The Founder of Pandharpur". Dalam Bakker, Hans (ed.). The History of Sacred Places in India as Reflected in Traditional Literature. Leiden: E. J. Brill. hlm. 33–61. ISBN 90-04-09318-4.
- Sharma, B.N.K. (2000). History of the Dvaita School of Vedanta and Its Literature. Blackwell Publishing. hlm. 514–16. ISBN 978-81-208-1575-9. Diakses tanggal 2008-09-20.
- Shima Iwao (June–September 1988). "The Vithoba Faith of Maharashtra: The Vithoba Temple of Pandharpur and Its Mythological Structure" (PDF). Japanese Journal of Religious Studies. 15 (2–3). Nanzan Institute for Religion and Culture: 183–197. doi:10.18874/jjrs.15.2-3.1988.183-197. ISSN 0304-1042. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2009-03-26. Diakses tanggal 2008-09-21.
- Singh, Kumar Suresh; Mehta, B.V. (2004). People of India: Maharashtra. Anthropological Survey of India. hlm. 11–3. ISBN 978-81-7991-100-6.
- Stevenson, Rev. J (1843). "On the Intermixture of Buddhism with Brahmanism in the religion of the Hindus of the Dekhan". The Journal of the Royal Asiatic Society of Great Britain and Ireland. 7 (13). London: periodical Royal Asiatic Society of Great Britain and Ireland: 1–8. doi:10.1017/s0035869x00155625. ISSN 1356-1863. S2CID 170083155. Diakses tanggal 2008-11-04.
- Stevenson, Rev. J (1843). "An Account of Bauddho-Vaishnavas of Vithal-Bhaktas of Dakhan". The Journal of the Royal Asiatic Society of Great Britain and Ireland. 7 (13). London: periodical Royal Asiatic Society of Great Britain and Ireland: 64–73. doi:10.1017/s0035869x00155674. ISSN 1356-1863. S2CID 164045611. Diakses tanggal 2008-11-04.
- Tilak, Dr. Shrinivas (2006). "Emergence of Vitthala:divine advocate of the subaltern". Understanding Karma: In Light of Paul Ricoeur's Philosophical Anthropology. International Centre for Cultural Studies. ISBN 978-81-87420-20-0.
- T. Padmaja (2002). Temples of Kr̥ṣṇa in South India: History, Art, and Traditions in Tamilnāḍu. Abhinav Publications. hlm. 92, 108, 121–22, fig 87. ISBN 978-81-7017-398-4. Diakses tanggal 2008-09-20.
- Underhill, M.M. (1991) [1921]. The Hindu Religious Year (Edisi Originally published: Calcutta: Association Press). Asian Educational Services. ISBN 81-206-0523-3.
- Vaudeville, Charlotte (1987). Schomer, Karine; McLeod, W. H. (ed.). The Sants: Studies in a Devotional Tradition of India. Motilal Banarsidass Publ. hlm. 223–24. ISBN 81-208-0277-2. Diakses tanggal 2008-09-20.
- Zelliot, Eleanor; Berntsen, Maxine (1988). The Experience of Hinduism: Essays on Religion in Maharashtra. SUNY Press. hlm. 170. ISBN 0-88706-662-3. Diakses tanggal 2008-09-20.
Bacaan lanjutan
- Deleury, G. A. (1960). The cult of Vithoba (Edisi Pune: Deccan College, Postgraduate and Research Institute (Original from the University of Michigan)). Magis Books.
- Dhond, M. V. (2001). Aisa vitevara deva kothe! (dalam bahasa Marathi). Rajhans Prakashan.
- Tulpule, S. G. (1979). Classical Marathi Literature: A History of Indian Literature. Vol. 9. Wiesbaden: Otto Harrassowitz.
Pranala luar
- Official site of Shri Vitthal Rukmini Temple, Pandharpur Diarsipkan 2018-07-12 di Wayback Machine.
- Video of the Pandharpur Vithoba's "Maha-puja" (worship), Maharashtra Times Diarsipkan 2009-06-28 di Wayback Machine.
- Article on the Pandharpur temple
- The Haridasa movement. Diarsipkan 2009-02-18 di Wayback Machine..
- Sane, Prajkta (March 2007). "The 'Palkhi' of Alandi to Pandharpur" (PDF). University of New South Wales. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2009-03-27.
| Basis data pengawasan otoritas: Nasional |
|---|