ENSIKLOPEDIA
Siswa Utama
| Bagian dari seri tentang | |||||||||
| Buddhisme | |||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
|
|||||||||
|
|||||||||
|
|||||||||
|
|||||||||
|
|||||||||
Murid agung Buddha Gotama (Pali: Mahāsāvaka) dan murid terkemuka Buddha Gotama (Pali: etadagga) merujuk pada para murid dari Buddha Gotama yang menonjol dalam kemajuan spiritual serta peranannya dalam penyebaran dan pelestarian awal Dhamma dan Vinaya. Para murid ini, baik biku (bhikkhu), bikuni (bhikkhunī), upasaka (upāsaka), maupun upasika (upāsikā), diyakini telah mencapai tingkat kesucian tertentu.[1]
Latar belakang
Tradisi Theravāda mengenal beberapa daftar yang menyebut para murid utama Buddha, masing-masing dengan kriteria, cakupan, dan sumber tekstual yang berbeda:
- Dua murid utama (aggasāvaka): Sāriputta dan Mahāmoggallāna, dua biku yang secara eksplisit ditunjuk Buddha sebagai pendamping utama. Mereka diakui sebagai murid yang paling unggul dalam kebijaksanaan dan kesaktian.[2][3][4]
- 74 murid terkemuka (etadagga): individu-individu yang ditetapkan Buddha sebagai "yang paling terdepan" dalam suatu kualitas tertentu, tercatat di dalam bagian Etadaggavagga dari Aṅguttara Nikāya (AN 1.188–267). Daftar ini mencakup empat puluh satu biku, tiga belas bikuni, sepuluh upasaka, dan sepuluh upasika.[2][5][6]
- 80 murid agung (asīti mahāsāvaka): daftar para biku terkemuka yang disusun berdasarkan urutan senioritas, tercantum di dalam kitab komentar (aṭṭhakathā) atas Aṅguttara Nikāya.[5]
- 11 sesepuh (thera): daftar pendek para sesepuh yang muncul di dalam kitab Pali Majjhimanikāya dan Udāna.[7]
Daftar-daftar ini tidak sepenuhnya tumpang tindih. Daftar 74 etadagga mencakup empat kelompok murid (biku, bikuni, upasaka, upasika), sedangkan 80 mahāsāvaka hanya mencakup para biku. Empat puluh satu biku yang termasuk dalam 74 etadagga sebagian besar—tetapi tidak semuanya—juga tercantum di dalam 80 mahāsāvaka; sebaliknya, 80 mahāsāvaka juga memuat banyak biku terkemuka lain yang tidak menerima gelar etadagga (seperti Aṅgulimāla, Assaji, dan Vappa).
Selain itu, terdapat daftar-daftar lain yang berasal dari tradisi-tradisi di luar Tripitaka Pali dan kitab komentar:
- Delapan arahat dalam tradisi Burma: daftar yang didasarkan pada praktik pemujaan arahat yang terkait dengan sistem astrologi Burma
- Daftar murid agung dalam Mahāyāna: daftar empat, delapan, sepuluh, enam belas, atau delapan belas murid agung Buddha Gautama dalam tradisi Mahāyāna
Dua murid utama
Di antara puluhan murid agung, Buddha menunjuk dua orang biku sebagai murid yang paling utama (Pali: aggasāvakacode: pi is deprecated ):
- Sāriputta: Murid utama pertama yang berasal dari keluarga kasta brahmana. Kebijaksanaannya diakui sebagai yang tertinggi kedua setelah Buddha, sehingga ia dijuluki "Panglima Dhamma" (Dhammasenāpati).[3]
- Mahāmoggallāna: Sahabat Sāriputta sejak kecil yang juga berasal dari keluarga brahmana. Ia merupakan murid utama kedua yang dinyatakan paling unggul dalam pencapaian kesaktian (iddhi).[4]
Tujuh puluh empat murid terkemuka
Dalam bagian Etadaggavagga dari kitab Aṅguttara Nikāya (AN 1.188–267), Buddha Gotama menetapkan sejumlah murid sebagai yang "paling terdepan, terkemuka, terbaik" (Pali: etadaggacode: pi is deprecated ) dalam satu atau lebih bidang tertentu. Terdapat tujuh puluh empat individu yang disebutkan, dengan beberapa murid menerima lebih dari satu gelar (Ānanda menerima lima gelar; Subhūti dan Cūḷapanthaka masing-masing menerima dua gelar).[6] Latar belakang dan kisah penunjukan masing-masing murid juga diuraikan secara terperinci di dalam kitab komentar atas bagian Etadaggavaggavaṇṇanā tersebut.[2]
Biku
Empat puluh satu biku (Pali: bhikkhu) menerima gelar etadagga di dalam empat sub-bagian Etadaggavagga.[6]
| Sumber | Nama (Pali) | Gelar etadagga |
|---|---|---|
| AN 1.188 | Aññā Koṇḍañña | Paling senior (rattaññū) |
| AN 1.189 | Sāriputta | Paling bijaksana (mahāpaññā) |
| AN 1.190 | Mahāmoggallāna | Paling unggul dalam kesaktian (iddhimanta) |
| AN 1.191 | Mahākassapa | Paling unggul dalam praktik pertapaan (dhutavāda) |
| AN 1.192 | Anuruddha | Paling unggul dalam mata dewa (dibbacakkhu) |
| AN 1.193 | Bhaddiya Kāḷigodhāyaputta | Paling unggul dari keluarga bangsawan tinggi (uccākulīna) |
| AN 1.194 | Lakuṇḍaka Bhaddiya | Paling merdu suaranya (mañjussara) |
| AN 1.195 | Piṇḍolabhāradvāja | Paling lantang bersuara seperti singa (sīhanāda) |
| AN 1.196 | Puṇṇa Mantāṇiputta | Paling unggul dalam membabarkan Dhamma (dhammakathika) |
| AN 1.197 | Mahākaccāna | Paling unggul dalam menguraikan ajaran ringkas Buddha secara terperinci (saṅkhittena bhāsitassa vitthārena atthaṃ vibhajanta) |
| AN 1.198 | Cūḷapanthaka | Paling unggul dalam penciptaan tubuh batiniah (manomaya) |
| AN 1.199 | Cūḷapanthaka | Paling unggul dalam transformasi pikiran menuju jhāna rūpa (cetovivaṭṭakusala) |
| AN 1.200 | Mahāpanthaka | Paling unggul dalam transformasi persepsi menuju jhāna arūpa (saññāvivaṭṭakusala) |
| AN 1.201 | Subhūti | Paling bebas dari pertentangan (araṇavihārī) |
| AN 1.202 | Subhūti | Paling layak menerima persembahan (dakkhiṇeyya) |
| AN 1.203 | Revata Khadiravaniya | Paling unggul sebagai penghuni hutan (āraññaka) |
| AN 1.204 | Kaṅkhārevata | Paling unggul dalam pencapaian penyerapan meditatif (jhāyī) |
| AN 1.205 | Soṇa Koḷivisa | Paling bersemangat (āraddhaviriya) |
| AN 1.206 | Soṇa Kuṭikaṇṇa | Paling indah tutur katanya (kalyāṇavākkaraṇa) |
| AN 1.207 | Sīvali | Paling unggul dalam menerima rezeki dan persembahan (lābhī) |
| AN 1.208 | Vakkali | Paling condong kepada keyakinan (saddhādhimutta) |
| AN 1.209 | Rāhula | Paling gemar dalam menuntut ilmu (sikkhākāma) |
| AN 1.210 | Raṭṭhapāla | Paling unggul dalam keyakinan meninggalkan kehidupan rumah tangga (saddhāpabbajita) |
| AN 1.211 | Kuṇḍadhāna | Paling pertama menerima undian makanan (paṭhamasalāka) |
| AN 1.212 | Vaṅgīsa | Paling unggul dalam berimprovisasi syair (paṭibhānavanta) |
| AN 1.213 | Upasena Vaṅgantaputta | Paling menyenangkan sepenuhnya (samantapāsādika) |
| AN 1.214 | Dabba Mallaputta | Paling unggul dalam mengatur tempat tinggal (senāsanapaññāpaka) |
| AN 1.215 | Pilindavaccha | Paling disenangi dan dicintai para dewa (devapiyamanāpa) |
| AN 1.216 | Bāhiya Dārucīriya | Paling cepat mencapai pengetahuan mendalam (khippābhiññā) |
| AN 1.217 | Kumārakassapa | Paling indah dalam bercerita Dhamma (cittakathika) |
| AN 1.218 | Mahākoṭṭhita | Paling unggul dalam pengetahuan analitis (paṭisambhidāpatta) |
| AN 1.219 | Ānanda | Paling banyak belajar (bahussuta) |
| AN 1.220 | Ānanda | Paling penuh perhatian (satimantu) |
| AN 1.221 | Ānanda | Paling baik perilakunya (gatimantu) |
| AN 1.222 | Ānanda | Paling teguh (dhitimantu) |
| AN 1.223 | Ānanda | Paling setia sebagai pelayan (upaṭṭhāka) |
| AN 1.224 | Uruvelakassapa | Paling memiliki pengikut besar (mahāparisa) |
| AN 1.225 | Kāḷudāyī | Paling menyenangkan bagi keluarga-keluarga (kulappasādaka) |
| AN 1.226 | Bakkula | Paling sedikit sakit (appābādha) |
| AN 1.227 | Sobhita | Paling unggul dalam mengingat kehidupan lampau (pubbenivāsānussara) |
| AN 1.228 | Upāli | Paling unggul dalam penguasaan Vinaya (vinayadhāraka) |
| AN 1.229 | Nandaka | Paling unggul dalam membimbing para bikuni (bhikkhunīovādaka) |
| AN 1.230 | Nanda | Paling unggul dalam penguasaan pintu indra (indriyesu guttadvāra) |
| AN 1.231 | Mahākappina | Paling unggul dalam membimbing para biku (bhikkhuovādaka) |
| AN 1.232 | Sāgata | Paling unggul dalam unsur api (tejodhātukusala) |
| AN 1.233 | Rādha | Paling unggul dalam berimprovisasi atas pertanyaan (paṭibhāneyyaka) |
| AN 1.234 | Mogharāja | Paling unggul dalam mengenakan jubah kasar (lūkhacīvaradhāraka) |
Bikuni
Tiga belas bikuni (Pali: bhikkhunī) menerima gelar etadagga di dalam sub-bagian kelima Etadaggavagga.[6]
| Sumber | Nama (Pali) | Gelar etadagga |
|---|---|---|
| AN 1.235 | Mahāpajāpatī Gotamī | Paling senior (rattaññū) |
| AN 1.236 | Khemā | Paling bijaksana (mahāpaññā) |
| AN 1.237 | Uppalavaṇṇā | Paling unggul dalam kesaktian (iddhimanta) |
| AN 1.238 | Paṭācārā | Paling unggul dalam penguasaan Vinaya (vinayadhārikā) |
| AN 1.239 | Dhammadinnā | Paling unggul dalam membabarkan Dhamma (dhammakathikā) |
| AN 1.240 | Nandā | Paling unggul dalam pencapaian penyerapan meditatif (jhāyī) |
| AN 1.241 | Soṇā | Paling bersemangat (āraddhaviriya) |
| AN 1.242 | Sakulā | Paling unggul dalam mata dewa (dibbacakkhu) |
| AN 1.243 | Bhaddā Kuṇḍalakesā | Paling cepat mencapai pengetahuan mendalam (khippābhiññā) |
| AN 1.244 | Bhaddā Kapilānī | Paling unggul dalam mengingat kehidupan lampau (pubbenivāsānussarikā) |
| AN 1.245 | Bhaddākaccānā | Paling unggul dalam pengetahuan mendalam agung (mahābhiññā) |
| AN 1.246 | Kisāgotamī | Paling unggul dalam mengenakan jubah kasar (lūkhacīvaradhārikā) |
| AN 1.247 | Siṅgālamātā | Paling condong kepada keyakinan (saddhādhimutta) |
Upasaka
Sepuluh upasaka (Pali: upāsaka) menerima gelar etadagga di dalam sub-bagian keenam Etadaggavagga.[6]
| Sumber | Nama (Pali) | Gelar etadagga |
|---|---|---|
| AN 1.248 | Tapussa dan Bhallika | Yang pertama berlindung kepada Tiga Permata (upāsakānaṃ paṭhamaṃ saraṇaṃ gacchanta) |
| AN 1.249 | Anāthapiṇḍika | Paling unggul sebagai pendana (dāyaka) |
| AN 1.250 | Citta | Paling unggul dalam membabarkan Dhamma (dhammakathika) |
| AN 1.251 | Hatthaka Āḷavaka | Paling unggul dalam memikat pengikut melalui empat dasar simpati (catūhi saṅgahavatthūhi parisaṃ saṅgaṇhanta) |
| AN 1.252 | Mahānāma Sakka | Paling unggul dalam memberikan dana makanan terbaik (paṇītadāyaka) |
| AN 1.253 | Ugga | Paling unggul dalam memberikan dana yang menyenangkan (manāpadāyaka) |
| AN 1.254 | Uggata | Paling unggul dalam melayani Saṅgha (saṅghupaṭṭhāka) |
| AN 1.255 | Sūra Ambaṭṭha | Paling memiliki keyakinan yang tak tergoyahkan (aveccapasanna) |
| AN 1.256 | Jīvaka Komārabhacca | Paling memiliki keyakinan kepada pribadi (puggalapasanna) |
| AN 1.257 | Nakulapitā | Paling dapat dipercaya (vissāsaka) |
Upasika
Sepuluh upasika (Pali: upāsikā) menerima gelar etadagga di dalam sub-bagian ketujuh Etadaggavagga.[6]
| Sumber | Nama (Pali) | Gelar etadagga |
|---|---|---|
| AN 1.258 | Sujātā | Umat awam perempuan pertama yang berlindung kepada Tiga Permata (upāsikānaṃ paṭhamaṃ saraṇaṃ gacchantī) |
| AN 1.259 | Visākhā | Paling unggul sebagai pendana perempuan (dāyikā) |
| AN 1.260 | Khujjuttarā | Paling banyak belajar (bahussuta) |
| AN 1.261 | Sāmāvatī | Paling unggul dalam kediaman cinta kasih (mettāvihārī) |
| AN 1.262 | Uttarānandamātā | Paling unggul dalam pencapaian penyerapan meditatif (jhāyī) |
| AN 1.263 | Suppavāsā | Paling unggul dalam memberikan dana makanan terbaik (paṇītadāyikā) |
| AN 1.264 | Suppiyā | Paling unggul dalam merawat yang sakit (gilānupaṭṭhāyikā) |
| AN 1.265 | Katiyānī | Paling memiliki keyakinan yang tak tergoyahkan (aveccapasannā) |
| AN 1.266 | Nakulamātā | Paling dapat dipercaya (vissāsikā) |
| AN 1.267 | Kāḷī | Paling percaya pada tradisi lisan (anussavapasannā) |
Delapan puluh murid agung
Berdasarkan kitab komentar Aṅguttara Nikāya (Aṅguttara Nikāya Aṭṭhakathā 2.8, bagian Tikaṇṇasuttavaṇṇanā), terdapat delapan puluh murid agung Buddha (Pali: Asīti Mahāsāvaka) yang disusun berdasarkan urutan senioritas. Berbeda dengan daftar etadagga yang mencakup keempat kelompok murid, daftar ini hanya mencakup para biku.[5]
- Aññā Koṇḍañña
- Vappa
- Bhaddiya (salah satu dari lima murid pertama, pañcavaggiyā)
- Mahānāma (juga pañcavaggiyā, berbeda dari Mahānāma Sakka)
- Assaji
- Nāḷaka
- Yasa
- Vimala
- Subāhu
- Puṇṇaji
- Gavampati
- Uruvelakassapa
- Nadīkassapa
- Gayākassapa
- Sāriputta
- Mahāmoggallāna
- Mahākassapa
- Mahākaccāna
- Mahākoṭṭhita
- Mahākappina
- Mahācunda
- Anuruddha
- Kaṅkhārevata
- Ānanda
- Nandaka
- Bhagu
- Nanda (saudara tiri Buddha)
- Kimila
- Bhaddiya Kāḷigodhāyaputta
- Rāhula
- Sīvali
- Upāli
- Dabba Mallaputta
- Upasena Vaṅgantaputta
- Revata Khadiravaniya
- Puṇṇa Mantāṇiputta
- Puṇṇa Sunāparantaka
- Soṇa Kuṭikaṇṇa
- Soṇa Koḷivisa
- Rādha
- Subhūti
- Aṅgulimāla
- Vakkali
- Kāḷudāyī
- Mahā Udāyī
- Pilindavaccha
- Sobhita
- Kumārakassapa
- Raṭṭhapāla
- Vaṅgīsa
- Sabhiya
- Sela
- Upavāṇa
- Meghiya
- Sāgata
- Nāgita
- Lakuṇḍaka Bhaddiya
- Piṇḍolabhāradvāja
- Mahāpanthaka
- Cūḷapanthaka
- Bakkula
- Kuṇḍadhāna
- Bāhiya Dārucīriya
- Yasoja
- Ajita
- Tissametteyya
- Puṇṇaka
- Mettagū
- Dhotaka
- Upasīva
- Nanda (berbeda dari Nanda saudara tiri Buddha)
- Hemaka
- Todeyya
- Kappa
- Jatukaṇṇī
- Bhadrāvudha
- Udaya
- Posala
- Mogharāja
- Piṅgiya
Sebelas sesepuh
Dalam kitab Majjhimanikāya (MN 118) dan kitab Udāna (Ud 1.5),[7] sebuah daftar singkat yang menyertakan sebelas sesepuh (Pali: thera) terkemuka muncul. Daftarnya adalah:
- Sāriputta
- Mahāmoggallāna
- Mahākassapa
- Mahākaccāna
- Mahākoṭṭhita
- Mahākappina (atau Mahākapphina)
- Mahācunda
- Anuruddha
- Revata
- Devadatta
- Ānanda (MN 118) atau Nanda (Ud 1.5)[note 1]
Daftar lainnya
Selain daftar-daftar dalam Tripitaka Pali dan kitab komentar (Pali: aṭṭhakathā) yang telah disebutkan di atas, terdapat berbagai daftar lain mengenai murid-murid utama Buddha, baik di dalam tradisi non-Theravāda maupun di dalam praktik populer Theravāda regional.
Delapan arahat dalam tradisi Burma
Di dalam tradisi Theravāda Burma dikenal pemujaan terhadap "Buddha dan Delapan Arahat" yang masih hidup hingga kini.[8] Praktik ini terkait dengan sistem astrologi Burma (bahasa Burma: mahabote), yang membagi hari Rabu menjadi pagi dan sore sehingga terdapat delapan hari dalam pekan tradisional Myanmar; masing-masing arahat dipasangkan dengan satu hari dan satu planet, dan kedelapannya dimohonkan perlindungan di dalam upacara panjang umur serta pembacaan paritta. Kedelapan arahat tersebut adalah Sāriputta, Mahāmoggallāna, Ānanda, Revata, Upāli, Aññā Koṇḍañña, Rāhula, dan Gavampati. Daftar ini pada dasarnya merupakan kurasi nama-nama dari kalangan etadagga dalam kepustakaan Pali.
Daftar murid agung dalam Mahāyāna
Dalam tradisi Mahāyāna, sepuluh murid utama adalah murid-murid utama dari Buddha Gautama.[1] Bergantung pada kitab sucinya, murid-murid yang termasuk dalam kelompok ini bervariasi. Dalam banyak diskursus Mahāyāna, kesepuluh murid ini disebutkan, tetapi dalam urutan yang berbeda-beda.[9][10][1] Kesepuluh murid ini dapat ditemukan sebagai sebuah kelompok ikonografi di tempat-tempat terkenal di Gua Mogao. Mereka disebutkan dalam teks-teks Tiongkok dari abad keempat SM hingga abad kedua belas M, dan merupakan kelompok murid yang paling dihormati, terutama di Tiongkok dan Asia Tengah.[1] Sepuluh murid tersebut antara lain disebutkan dalam teks Mahāyāna Vimalakīrti-nideśa. Zhi Dun merujuk mereka sebagai "Sepuluh Orang Bijak" (Hanzi: 十哲), sebuah istilah yang biasanya digunakan untuk murid-murid Konfusius.[11]
Teks-teks awal berbahasa Sanskerta dan Tionghoa hanya menyebut empat murid yang mencapai pencerahan, sedangkan tradisi yang lebih kemudian menyebutkan delapan murid (sebagaimana yang dijumpai di dalam naskah Tantra Mañjuśrī-mūla-kalpa),[12][8] enam belas (di dalam teks Tionghoa dan Tibet), hingga delapan belas murid (di dalam teks Tionghoa). Terdapat pula tradisi Tiongkok yang memuliakan lima ratus murid.[8][13]
Berikut adalah perbandingan susunan daftar murid dari Mañjuśrī-mūla-kalpa dan sūtra Mahāyāna pada umumnya:
| No. | Tantra Mañjuśrī-mūla-kalpa[12] | Sūtra Mahāyāna[14][1] |
|---|---|---|
| 1. | Śāriputra | Śāriputra |
| 2. | Maudgalyāyana | Maudgalyāyana |
| 3. | Mahākāśyapa / Gavāṃpati | Mahākāśyapa |
| 4. | Subhūti / Piṇḍola Bhāradvāja | Subhūti |
| 5. | Rāhula / Pilindavatsa | Pūrṇa Maitrāyaṇīputra |
| 6. | Nanda / Rāhula | Aniruddha |
| 7. | Bhadrika / Mahākāśyapa | Mahākātyāyana |
| 8. | Kaphiṇa / Ānanda | Upāli |
| 9. | N/A | Rāhula |
| 10. | N/A | Ānanda |
Lihat pula
Catatan
- ↑ Pada terjemahannya atas Ud 1.5 di SuttaCentral, Bhante Sujato memberikan komentar:
- Daftar murid-murid agung yang serupa ditemukan dalam pendahuluan Ānāpānassati Sutta di MN 118:1.3. Satu-satunya perbedaan adalah bahwa orang terakhir di sana adalah Ānanda, bukan Nanda. Sangat menggoda untuk mengikuti BJT dan PTS dalam membaca Ānanda di sini juga, tetapi tujuan sutta ini adalah untuk memuji semua biku ini sebagai "brahmana", yang dijelaskan oleh sutta itu sendiri sebagai "dengan belenggu yang telah berakhir", yaitu arahat. Namun pada saat ini, Ānanda masih seorang yang baru memasuki arus (DN 16:5.13.2), dan baru akan mencapai arahat setelah kemangkatan Buddha (Kd 21:1.6.1). Nanda, di sisi lain, memang seorang arahat (Ud 3.2:14.3).
Daftar pustaka
- Bodhi, Bhikkhu (2012), The Numerical Discourses of the Buddha: A Translation of the Aṅguttara Nikāya, Boston: Wisdom Publications, ISBN 978-0-86171-491-9
- Hecker, Hellmuth; Nyanaponika Thera (2003), Great Disciples of the Buddha: Their Lives, Their Works, Their Legacy, Boston: Wisdom Publications, ISBN 978-0-86171-381-3
- Keown, D. (2004), A Dictionary of Buddhism, Oxford University Press, ISBN 978-0-19-157917-2
- Malalasekera, G.P. (1937), Dictionary of Pāli Proper Names, London: Pali Text Society
- Mather, R.B. (1968), "Vimalakīrti and Gentry Buddhism", History of Religions, 8 (1): 60–73, doi:10.1086/462575, S2CID 162382526
- Nishijima, G.W.; Cross, S. (2008), Shōbōgenzō: The True Dharma-Eye Treasury (PDF), Numata Center for Buddhist Translation and Research, ISBN 978-1-886439-38-2, diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2 Agustus 2017
- Ray, R.A. (1994), Buddhist Saints in India: A Study in Buddhist Values and Orientations, New York: Oxford University Press, ISBN 0-19-507202-2
- Strong, J.S. (1997), "A Family Quest: The Buddha, Yaśodharā, and Rāhula in the Mūlasarvāstivāda Vinaya", dalam Schober, Juliane (ed.), Sacred Biography in the Buddhist Traditions of South and Southeast Asia, Honolulu: University of Hawaii Press, ISBN 978-0-8248-1699-5
- Tambiah, S.J. (1984), The Buddhist Saints of the Forest and the Cult of Amulets: A Study in Charisma, Hagiography, Sectarianism, and Millennial Buddhism, Cambridge: Cambridge University Press, ISBN 978-0-521-27787-7
Situs web
- "The 74 Foremost and the 80 Great Disciples" (PDF). Ancient Buddhist Texts. Diakses tanggal 17 Mei 2026.
Pranala luar
- The 74 Foremost and the 80 Great Disciples di situs web Ancient Buddhist Texts
|
| ||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
|
| ||||||||||||
| |||||||||||||
| |||||||||||||
| |||||||||||||
| |||||||||||||
| |||||||||||||
|
| ||||||||||||
Artikel bertopik Buddhisme ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya. |
- 1 2 3 4 5 Tambiah 1984, hlm. 22.
- 1 2 3 Hecker & Nyanaponika Thera 2003, hlm. xxi.
- 1 2 Hecker & Nyanaponika Thera 2003, hlm. 1–66.
- 1 2 Hecker & Nyanaponika Thera 2003, hlm. 67–104.
- 1 2 3 The 74 Foremost & t.t.
- 1 2 3 4 5 6 Bodhi 2012, hlm. 111–127.
- 1 2 Ray 1994, hlm. 162.
- 1 2 3 Strong 1997, hlm. 121–122.
- ↑ Nishijima & Cross 2008, hlm. 32 note 119.
- ↑ Keown 2004, hlm. 298.
- ↑ Mather 1968, hlm. 72 note 34.
- 1 2 Ray 1994, hlm. 205.
- ↑ Ray 1994, hlm. 179.
- ↑ Nishijima & Cross 2008.